Marinir AS Ditangkap Usai Perempuan Tewas di Okinawa
Seorang Marinir Amerika Serikat (AS), ditangkap di Jepang atas dugaan pembunuhan dan perampokan setelah seorang perempuan ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di Naha, Okinawa.
Perempuan bernama Anna Yagi (39) ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di kamar hotelnya pada Sabtu (3/10/2026) sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Polisi Okinawa mengatakan Yagi dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Kepada CNN, polisi menyebut Yagi meninggal akibat sesak napas setelah diduga dicekik.
Kurang dari 24 jam setelah penemuan jasad Yagi, polisi menangkap Private First Class (PFC) Devin Jacob Ballard (20). Ballard merupakan Marinir AS yang ditempatkan di Futenma Air Station, Okinawa.
Ia ditangkap sekitar pukul 01.00 waktu setempat ketika sedang berjalan di kawasan kota. Ballard ditahan atas dugaan pembunuhan dan perampokan.
Polisi Temukan Rekaman Tersangka Masuk Hotel
Polisi mengatakan rekaman kamera pengawas menunjukkan seorang pria yang diyakini sebagai warga negara asing dengan kepala dicukur memasuki kamar hotel bersama Yagi.
Baca Juga : Wabah Penyakit Gegerkan Rusia, Ratusan Orang Diawasi
Pria tersebut kemudian terlihat meninggalkan gedung sambil membawa sejumlah barang milik korban.
Menurut keterangan polisi Okinawa kepada CNN, tersangka sempat membantah tuduhan terhadap dirinya. Namun, polisi tidak menjelaskan secara rinci bagaimana respons Ballard selama proses pemeriksaan.
NHK, lembaga penyiaran publik Jepang, mengutip sumber yang mengetahui penyelidikan pada Senin (5/10/2026), melaporkan bahwa tas punggung milik Yagi ditemukan di dekat lokasi kejadian. Sementara itu, dompet korban masih berada di dalam kamar hotel.
Korps Marinir AS Bekerja Sama dengan Jepang
Korps Marinir AS menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Yagi dan menyatakan serius menanggapi dugaan tindak kriminal tersebut.
“Marinir AS secara aktif bekerja sama dengan pihak berwenang Jepang dalam menanggapi dugaan tindakan kriminal serius yang dilakukan oleh seorang Marinir yang ditugaskan pada III Marine Expeditionary Force,” kata Korps Marinir AS dalam sebuah pernyataan.
Korps Marinir AS juga menegaskan bahwa seluruh personelnya diharapkan mematuhi standar perilaku tertinggi.
Kedutaan Besar AS di Tokyo turut mengonfirmasi bahwa pihaknya mengetahui adanya anggota militer AS yang ditahan setelah seorang warga negara Jepang meninggal di Okinawa.
“Karena penyelidikan sedang berlangsung untuk menentukan fakta-fakta dalam kasus ini, Amerika Serikat berkomunikasi dan bekerja sama dengan Pemerintah Jepang serta otoritas setempat,” kata kedutaan melalui X.
Penangkapan Marinir AS Picu Kemarahan Pejabat Jepang
Penangkapan Ballard memicu reaksi keras dari sejumlah pejabat dan pemimpin Jepang.
Gubernur Okinawa Genta Koja menilai kasus tersebut menunjukkan bahwa upaya militer AS dalam menjaga kedisiplinan personelnya belum efektif.
“Fakta bahwa kejadian seperti ini kembali terjadi membuat kami tidak punya pilihan selain menyimpulkan bahwa upaya militer AS dalam menjaga disiplin, mendidik personel, dan langkah-langkah lainnya sama sekali tidak efektif,” kata Koja melalui X.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pemerintah Jepang telah menyampaikan protes keras kepada pihak AS.
Baca Juga : Trump Konsultasi ke Grok Sebelum Tangkap Maduro
Menurut Takaichi, pemerintah Jepang juga meminta kerja sama penuh dalam proses penyelidikan, penegakan disiplin terhadap personel militer AS, serta penerapan langkah-langkah menyeluruh untuk mencegah kejahatan dan kecelakaan serupa kembali terjadi.
Kehadiran Militer AS di Okinawa Lama Diprotes
Okinawa menjadi lokasi sejumlah fasilitas militer AS, termasuk beberapa pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di luar negeri. Keberadaan pasukan AS di wilayah tersebut telah lama menjadi sumber protes masyarakat setempat.
Pada tahun lalu, seorang Marinir AS dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara setelah dinyatakan bersalah mencekik dan melakukan kekerasan seksual terhadap seorang perempuan di Okinawa.
Sebelumnya, pada 2016, puluhan ribu orang juga turun ke jalan untuk menuntut berakhirnya keberadaan militer AS di Okinawa. Demonstrasi tersebut berlangsung setelah seorang perempuan setempat dibunuh oleh pekerja sipil yang ditempatkan di Pangkalan Udara Kadena milik AS.
