Korut Tegaskan Senjata Nuklir Akan Dipertahankan Selamanya
Korea Utara kembali menegaskan sikapnya terkait kepemilikan senjata nuklir. Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui mengatakan Pyongyang akan mempertahankan persenjataan nuklirnya untuk selamanya.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (24/9/2026), sehari setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyerukan penghentian pengembangan senjata nuklir Korea Utara dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dilansir AFP, Choe menyampaikan sikap tersebut melalui pernyataan yang dimuat kantor berita resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA). Ia menegaskan status nuklir negaranya tidak akan berubah meski mendapat tekanan dari negara-negara lain.
Baca Juga : Mamdani Kecam Pidato Netanyahu di PBB, Singgung Surat ICC
“Saya menegaskan dan mengonfirmasi ulang dengan nada suara paling kuat tentang kehendak teguh negara kami untuk mempertahankan senjata nuklir sepanjang masa,” ujar Choe Son Hui.
Choe juga mengatakan status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir bersifat permanen dan tidak dapat dibatalkan dalam kondisi apa pun.
Korut Tolak Seruan Denuklirisasi Semenanjung Korea
Choe menegaskan bahwa Pyongyang tidak akan mengubah kebijakan nuklirnya meskipun ada seruan denuklirisasi dari Korea Selatan, Amerika Serikat maupun negara lainnya.
“Koeksistensi antara konfrontasi dan dialog mungkin bisa berjalan bagi siapa saja, tetapi hal itu tidak akan pernah bisa dipertimbangkan oleh DPRK (nama resmi Korea Utara),” kata Choe.
Menurut AFP, Korea Utara telah menetapkan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir dalam hukum nasional. Pemerintah Pyongyang juga berulang kali menyatakan bahwa persenjataan nuklirnya bersifat permanen dan tidak dapat diubah.
Pernyataan terbaru Choe sekaligus merespons pertemuan para menteri luar negeri Korea Selatan, AS dan Jepang di New York yang kembali menegaskan komitmen terhadap denuklirisasi penuh Korea Utara serta meminta Pyongyang kembali ke meja dialog.
Lee Jae Myung Ingin Buka Kembali Dialog
Sehari sebelum pernyataan Choe, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyampaikan visi Seoul mengenai Semenanjung Korea dalam Sidang Umum PBB.
Lee mengatakan Korea Selatan ingin menghentikan pertumbuhan kemampuan persenjataan Korea Utara dan pada akhirnya mewujudkan Semenanjung Korea yang bebas dari senjata nuklir.
Dalam pidatonya, Lee juga menyatakan Seoul akan menyiapkan landasan untuk menghidupkan kembali dialog yang telah lama terhenti antara Pyongyang dan Washington.
Sebelumnya, Lee menyebut Presiden AS Donald Trump secara jelas menginginkan dialog dengan Korea Utara. Trump sendiri telah tiga kali bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada masa jabatan pertamanya.
Pada bulan lalu, Trump juga menyatakan rencana untuk kembali bertemu Kim Jong Un sebelum akhir 2026.
Namun, sikap Pyongyang terhadap upaya dialog tersebut tetap disertai penegasan bahwa status nuklir Korea Utara tidak akan dinegosiasikan.
Korut Uji Roket Peluncur 240 Milimeter
Di tengah pernyataan mengenai status nuklir, Korea Utara juga mengumumkan pengujian senjata baru.
Baca Juga : Kredit Menguat, Jumlah Uang Beredar Agustus 2026 Capai Rp 10.448T!
Pada Kamis (24/9/2026), KCNA melaporkan Pyongyang telah menguji sistem peluncur roket ganda terkendali 240 milimeter yang telah diperbarui. Pengujian tersebut dilakukan pada 22 September.
Menurut KCNA, sistem senjata tersebut dilengkapi kemampuan panduan presisi dan dapat menyerang sasaran hingga jarak 115 kilometer.
Pengujian senjata itu menambah rangkaian aktivitas militer Korea Utara dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, Pyongyang juga mengumumkan pengujian sistem rudal baru yang diklaim memiliki kemampuan hipersonik.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara dijadwalkan menyampaikan pidato dalam Sidang Umum PBB pada pekan depan. Pernyataan tersebut berpotensi kembali menjadi perhatian karena disampaikan setelah Pyongyang secara terbuka menegaskan bahwa status nuklirnya tidak dapat diubah.
