Mantan Menhan AS Prediksi Perang dengan Iran Bisa Berlanjut 6 Bulan
Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Leon Panetta, memperingatkan bahwa konflik antara AS dan Iran berpotensi terus berlangsung hingga enam bulan ke depan tanpa adanya kesepakatan untuk mengakhirinya.
Panetta, yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan AS pada 2011-2013 dan sebelumnya memimpin Central Intelligence Agency (CIA) di era Presiden Barack Obama, menilai konflik saat ini telah memasuki kondisi buntu.
Menurutnya, situasi tersebut berisiko berkembang menjadi perang berkepanjangan di Timur Tengah, seperti keterlibatan militer AS di Irak dan Afghanistan. Ia bahkan memperingatkan konflik Iran dapat berakhir sebagai perang yang gagal meski Presiden AS Donald Trump berupaya mengakhirinya dengan mengklaim kemenangan.
“Bukanlah suatu rahasia bahwa Amerika Serikat dan Iran terjebak dalam kebuntuan yang parah, di mana hanya ada sangat sedikit pilihan yang tersedia untuk mengakhiri perang ini,” kata Panetta dalam wawancara dengan The Guardian, yang dilansir pada Minggu (6/9/2026).
Baca Juga : OJK Jatuhkan 1.277 Sanksi ke Pelaku Pasar Modal
“Menurut saya, kemungkinan perang ini akan berlanjut selama enam bulan lagi tanpa penyelesaian.”
Trump Disebut Terjebak dalam Kebuntuan
Panetta menilai Trump kini menghadapi posisi sulit karena harus mencari cara untuk mengakhiri perang tanpa menimbulkan kesan bahwa AS mengalami kekalahan.
Sebelumnya, Panetta menggambarkan posisi Trump seperti berada di antara dua pilihan sulit. Presiden AS tersebut harus menentukan apakah akan memperluas konflik demi menghilangkan pengaruh Iran terhadap Selat Hormuz atau menghentikan perang dan tetap mengklaim kemenangan.
“Saya benar-benar percaya dia masih berada dalam posisi itu. Dia telah menyudutkan dirinya sendiri,” ujar Panetta.
Panetta kemudian menjelaskan tiga opsi yang menurutnya dapat dipertimbangkan Trump.
Pilihan pertama adalah menghentikan perang sekaligus mengakui bahwa konflik tersebut tidak berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Namun, Panetta menilai langkah itu kecil kemungkinan akan diambil Trump.
Opsi kedua adalah mempertahankan situasi seperti sekarang, dengan AS dan Iran terus melakukan serangan balasan secara berkala. Menurut Panetta, strategi tersebut justru dapat membuka jalan menuju konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
Sementara itu, pilihan ketiga adalah AS mengambil kendali atas Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai dapat menghilangkan salah satu kartu tawar paling penting yang dimiliki Iran.
Kemampuan Iran untuk menutup atau mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi sumber pengaruh besar terhadap AS. Pasalnya, selat tersebut merupakan salah satu jalur strategis dalam perdagangan dan distribusi energi global.
Panetta menilai perang baru dapat dianggap sebagai kemenangan bagi AS apabila Washington mengubah prioritas dan menjadikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai tujuan utama.
Ia mengatakan Trump harus mengambil keputusan yang benar-benar memastikan jalur pelayaran tersebut kembali terbuka. Jika tidak, AS berisiko terus berada dalam kebuntuan sementara Trump tetap menyatakan bahwa perang telah dimenangkan.
Panetta juga menyoroti persoalan kredibilitas Trump. Menurutnya, kredibilitas Presiden AS itu telah tergerus setelah berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang sudah semakin dekat sekaligus mengklaim Selat Hormuz telah terbuka.
“Pertanyaan sebenarnya adalah, apakah dia akan membuat keputusan untuk benar-benar mewujudkannya?” kata Panetta.
Ia menilai posisi Trump kini semakin sulit karena bukan hanya kehilangan kredibilitas, tetapi ancaman yang disampaikannya juga semakin kurang diperhatikan.
Panetta Soroti Kondisi Pentagon
Selain menyoroti kebuntuan dalam perang AS-Iran, Panetta turut mengkritik situasi di Pentagon.
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa hari setelah Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll mengundurkan diri secara tiba-tiba di tengah berlangsungnya konflik.
Pengunduran diri Driscoll terjadi setelah muncul laporan mengenai ketegangan antara dirinya dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth terkait sejumlah pemecatan.
Menurut Panetta, gejolak internal tersebut terjadi ketika militer AS tengah terlibat dalam perang. Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan kesan bahwa tidak ada pihak yang benar-benar memegang kendali atas institusi pertahanan AS.
Baca Juga : Prabowo Pimpin Rantas Penanganan Bencana di Indonesia
Panetta khawatir situasi tersebut dapat membuat Iran maupun negara-negara yang menjadi rival Washington melihat AS sebagai negara yang sedang mengalami pelemahan dalam menjalankan kekuatan militernya.
Ia juga menyebut AS kini menghadapi lingkungan geopolitik yang semakin berbahaya. Ancaman tersebut berasal dari China, Rusia, Korea Utara, terorisme, hingga Iran.
Panetta memperingatkan negara-negara tersebut dapat memanfaatkan kelemahan AS, terutama ketika mereka terus meningkatkan kerja sama satu sama lain.
Namun, Pentagon membantah anggapan bahwa institusi pertahanan AS sedang berada dalam kondisi kacau.
Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell menegaskan Departemen Pertahanan AS tetap berfungsi sepenuhnya di bawah kepemimpinan Hegseth.
Ia menyebut anggapan mengenai kekacauan di Pentagon sebagai tuduhan yang tidak berdasar sekaligus dianggap merendahkan para profesional dan personel militer yang terus bekerja untuk menjaga keamanan AS.
