Menlu Iran Mengatakan Iran Siap Berperang dengan Trump
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat bahwa negaranya siap menghadapi perang apabila Washington memilih menguji kekuatan militernya. Pernyataan keras itu disampaikan menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang mempertimbangkan opsi militer sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes anti-pemerintah.
Peringatan tersebut menandai eskalasi terbaru dalam hubungan tegang Iran dan Amerika Serikat, di tengah krisis politik dalam negeri Iran serta bayang-bayang konflik regional yang lebih luas.
Baca Juga: Perak dan Emas “Terbang” setelah Bos The Fed Diselidiki
Iran Klaim Siap Hadapi Opsi Militer AS
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Arabic pada Senin (12/1/2026), Araghchi menegaskan bahwa meski jalur komunikasi dengan AS masih terbuka, Iran telah menyiapkan diri menghadapi semua kemungkinan.
“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang pernah mereka uji sebelumnya, kami siap menghadapinya,” kata Araghchi.
Ia menyebut Iran kini memiliki “kesiapan militer yang besar dan luas”, bahkan lebih kuat dibandingkan saat perang 12 hari pada tahun lalu. Araghchi juga berharap AS memilih jalan dialog, sambil memperingatkan adanya pihak-pihak yang berusaha menyeret Washington ke dalam perang demi kepentingan Israel.
Pernyataan ini muncul setelah Trump mengatakan sedang mempertimbangkan “opsi kuat” terhadap Iran, termasuk tindakan militer, di tengah meningkatnya protes nasional yang dipicu masalah ekonomi dan berkembang menjadi tuntutan perubahan sistemik.
Baca Juga: 500 Orang Tewas dalam Demo Iran, Pemerintah Tetapkan Berkabung
Protes Nasional dan Tuduhan Campur Tangan Asing
Araghchi juga menyinggung meningkatnya jumlah korban jiwa akibat kerusuhan. Ia kembali menegaskan klaim pemerintah Iran bahwa terdapat unsur “teroris” yang menyusup ke dalam aksi demonstrasi.
“Elemen teroris telah menyusup ke kerumunan demonstran dan menargetkan pasukan keamanan serta para demonstran,” ujarnya.
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel memicu kerusuhan selama dua pekan terakhir. Media pemerintah melaporkan lebih dari 100 personel keamanan tewas, sementara kelompok oposisi menyebut jumlah korban jauh lebih besar dan mencakup ratusan demonstran, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Situasi semakin rumit akibat pemadaman internet sejak Kamis lalu. Araghchi mengatakan layanan internet akan dipulihkan secara bertahap, sementara pemantau NetBlocks mencatat Iran offline selama 96 jam.
Negosiasi Nuklir di Tengah Ancaman Perang
Di tengah ketegangan tersebut, Araghchi mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff tetap berlangsung sebelum dan sesudah protes.
“Kami siap duduk di meja perundingan nuklir, asalkan tanpa ancaman atau paksaan,” tegasnya.
Ia mempertanyakan apakah Washington benar-benar siap melakukan negosiasi yang adil dan setara. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa militer AS dan Israel akan menjadi “target yang sah” jika Washington melakukan intervensi.
Dari pihak AS, Gedung Putih menilai Iran menyampaikan pesan yang berbeda secara publik dan privat. Meski demikian, laporan media AS menyebut Washington masih mempertimbangkan tawaran dialog militer dari Teheran, di saat Trump juga menimbang serangan terhadap Iran.
Ketegangan ini mempertegas betapa rapuhnya stabilitas kawasan, terutama setelah AS tahun lalu ikut membombardir fasilitas nuklir Iran dalam perang singkat bersama Israel.
Baca Juga: Terbaru tentang Greenland: Denmark Tantang Ancam Militer AS

[…] Menlu Iran Mengatakan Iran Siap Berperang dengan Trump […]