Mojtaba Khamenei Disebut Bersembunyi di Lokasi Rahasia
Intelijen Amerika Serikat menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, saat ini berada di lokasi rahasia dan hampir tidak memiliki akses langsung ke dunia luar.
Menurut sejumlah pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen tersebut, seperti dikutip CBS News, Minggu (24/5/2026), Mojtaba disebut secara efektif “mengurung diri” di lokasi yang dirahasiakan.
Ia bahkan dilaporkan tidak dapat dihubungi langsung oleh pejabat tinggi pemerintah Iran.
Setiap komunikasi disebut harus melalui jaringan kurir khusus yang sengaja dibentuk untuk menyamarkan keberadaannya.
“Melihat mereka mencoba mencari cara untuk berkomunikasi satu sama lain hampir seperti menonton sitkom. Mereka benar-benar frustrasi,” ungkap salah satu pejabat AS.
Pejabat itu juga menyebut langkah pengamanan ekstrem kini diterapkan oleh pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Baca Juga: Banyak Negara Ajukan Pinjaman Bank Dunia, RI Pilih Tolak
Komunikasi Internal Iran Tersendat
Karena lokasi Mojtaba tidak diketahui banyak pejabat Iran, komunikasi internal pemerintahan disebut berjalan lambat dan penuh hambatan.
Seluruh komunikasi hanya dapat dilakukan melalui jaringan kurir khusus yang membuat proses pengambilan keputusan menjadi tertunda.
Pejabat Iran yang ditugaskan menjalin komunikasi dengan pemerintahan Donald Trump disebut kesulitan berkoordinasi di internal pemerintahannya sendiri.
Kondisi itu turut berdampak pada proses negosiasi antara Iran dan AS yang berjalan lambat.
“Inilah sebabnya Anda mendengar pernyataan seperti, ‘pemimpin tertinggi telah menyetujui kerangka kerja,’ atau ‘kami masih menunggu poin akhir kesepakatan’,” tutur seorang pejabat AS.
“Setiap informasi yang ia terima sudah kedaluwarsa, dan ada banyak jeda waktu dalam responsnya,” tambah pejabat AS lainnya.
Terkurung di Bunker
Sumber intelijen AS dan Israel menyebut banyak pemimpin senior Iran kini jarang muncul di permukaan dan lebih sering berada di bunker yang diperkuat.
Mereka disebut menghindari komunikasi langsung kecuali dalam kondisi mendesak.
Situasi tersebut terjadi di tengah perang yang disebut melibatkan operasi militer besar bertajuk Operation Epic Fury.
Menurut salah satu pejabat, intelijen yang diperoleh dari dalam pemerintahan Iran bahkan membantu mengidentifikasi dan menyingkirkan sejumlah pimpinan senior selama perang berlangsung.
Mojtaba Khamenei disebut mengambil langkah ekstrem untuk menghindari serangan serupa yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989 hingga 28 Februari 2026.
Ia juga disebut belum terlihat maupun terdengar di publik sejak sebelum perang dimulai.
Baca Juga: AS dan Iran Dekati Damai, tapi 4 Isu ini Masih Buntu
Trump Klaim Kesepakatan
Seorang juru bicara Gedung Putih menolak memberikan komentar terkait laporan intelijen mengenai keberadaan Mojtaba Khamenei maupun sistem komunikasi internal Iran.
Namun, seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan pemimpin tertinggi Iran telah menyetujui garis besar draf kesepakatan yang sedang dibahas.
Sementara itu, Presiden Donald Trump disebut menulis di Truth Social bahwa keputusan akhir diperkirakan akan keluar dalam beberapa hari mendatang.
