Iran Tegaskan Proposal Damai AS Belum Final, Mojtaba Jadi Penentu Akhir
Iran menegaskan proposal kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS) belum resmi disahkan meski Presiden AS Donald Trump mengklaim proses negosiasi “sebagian besar telah dinegosiasikan”. Teheran menyebut keputusan akhir tetap berada di tangan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tidak ada keputusan strategis yang diambil di luar mekanisme resmi negara maupun tanpa persetujuan pemimpin tertinggi Iran. Pernyataan itu muncul ketika proses diplomasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung di tengah ketegangan perang yang belum sepenuhnya mereda.
Baca Juga : Purbaya Kejar 10 Perusahaan Sawit yang Diduga Manipulasi Ekspor
Iran Tegaskan Mojtaba Penentu Akhir
Dalam pertemuan dengan pimpinan Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB), Pezeshkian mengatakan stabilitas negara sangat bergantung pada solidaritas rakyat dan persatuan internal pemerintah.
“Yang menjamin kelangsungan dan stabilitas negara adalah solidaritas dan empati rakyat,” kata Pezeshkian.
Ia menyebut ancaman terbesar bagi Iran saat ini bukan semata perang atau serangan militer, melainkan potensi retaknya persatuan nasional.
“Menjaga persatuan nasional jauh lebih penting dibanding isu militer dan keamanan,” ujarnya.
Pezeshkian juga menekankan dirinya selalu berhati-hati agar tidak mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan pandangan Pemimpin Revolusi Iran maupun memicu konflik internal pemerintahan.
Menurutnya, seluruh kebijakan strategis di Iran wajib melalui koordinasi dengan Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei.
“Tidak ada keputusan di Iran yang dibuat di luar kerangka Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan tanpa koordinasi serta izin dari Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei,” katanya.
Ia menambahkan seluruh institusi negara dan kelompok politik harus mendukung langkah diplomatik pemerintah agar Iran tampil dengan sikap yang solid di hadapan dunia internasional.
Proposal Damai Masih Dibahas
Di sisi lain, pejabat Iran mengungkapkan masih ada beberapa klausul dalam proposal perdamaian dengan AS yang perlu diperjelas sebelum memorandum kesepahaman dikirim untuk diratifikasi.
Iran disebut telah menyampaikan catatan tersebut kepada Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi.
Sebelumnya, Donald Trump mengatakan “aspek dan detail akhir” dari memorandum kesepahaman masih dibahas dan akan diumumkan dalam waktu dekat. Trump juga menyebut kesepakatan tersebut nantinya mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, tergantung finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran dan berbagai negara lainnya,” kata Trump.
Isi Proposal Perdamaian
Laporan media Inggris The Guardian menyebut proposal perdamaian mencakup pelonggaran sanksi terhadap Iran serta pencairan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar US$20 miliar atau setara Rp353 triliun.
Baca Juga : Luhut ke Investor “Indonesia Tidak Akan Runtuh!”
Sebagai imbalannya, Iran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz dan memulai negosiasi mengenai program nuklir selama 60 hari mulai 5 Juni di Pakistan.
Selain itu, Iran juga disebut dapat kembali mengekspor minyak dan produk petrokimia selama masa negosiasi tanpa ancaman sanksi baru dari AS.
Meski begitu, Teheran menegaskan belum ada komitmen final terkait hasil negosiasi nuklir. Iran hanya menyepakati daftar isu yang akan dibahas dalam perundingan mendatang.
