OpenAI Rilis GPT-6 Astra, AI yang Bisa Operasikan Komputer
OpenAI resmi memperkenalkan model kecerdasan buatan (AI) terbaru bernama GPT-6 Astra pada Jumat (4/9/2026). Model ini sebelumnya telah diperkenalkan dalam demonstrasi pada awal Agustus 2026.
Perusahaan pengembang ChatGPT tersebut menyebut GPT-6 Astra sebagai model AI paling pintar sekaligus paling selaras dengan kebutuhan pengguna yang pernah mereka kembangkan.
Namun, di balik kemampuan tersebut, GPT-6 Astra juga menjadi salah satu model OpenAI yang menuai kontroversi. Pengembangannya bahkan sempat ditahan karena muncul kekhawatiran terkait kemampuan AI yang semakin canggih dan sulit dipantau.
Salah satu kemampuan utama GPT-6 Astra adalah computer use, yakni kemampuan AI untuk mengoperasikan komputer dan berbagai aplikasi secara mandiri seperti manusia.
Baca Juga : Usai AS Serang Kapal Tanker Iran, Harga Minyak Naik
Dengan teknologi tersebut, pengguna tidak perlu lagi memberikan instruksi secara detail untuk setiap langkah. Pengguna cukup menentukan pekerjaan atau hasil akhir yang diinginkan, sementara Astra menjalankan tahapan yang diperlukan.
GPT-6 Astra disebut mampu mengisi formulir online, memperbarui informasi dalam sistem CRM, mengatur kalender, melakukan riset di internet, hingga mengubah hasil riset menjadi dokumen atau e-mail.
Model tersebut juga dapat mengolah spreadsheet, menganalisis data ilmiah melalui Python notebook, menggunakan Power BI, membuat serta menguji situs web, hingga menjalankan software teknik seperti KiCad dan FreeCAD.
Bahkan, Astra diklaim mampu memasang software sekaligus melakukan troubleshooting ketika terjadi masalah.
Dalam salah satu demonstrasi, OpenAI memperlihatkan Astra menerima perintah suara untuk mengubah gambar lingkaran kuning sederhana menjadi sebuah roket.
Astra kemudian secara mandiri membuat sejumlah bidang di sekitar lingkaran tersebut hingga membentuk roket. Ketika diminta membuat model 3D menggunakan Blender dan mengembangkan sebuah game berdasarkan roket tersebut, AI langsung menjalankan tugas itu.
Hal yang paling menonjol adalah pengguna tidak perlu lagi menentukan aplikasi yang harus dibuka, tombol yang harus ditekan, atau detail langkah lainnya.
Dalam demonstrasi lain, Astra ditampilkan mampu membuat listing barang di eBay dan menyusun presentasi hanya berdasarkan instruksi suara.
GPT-6 Astra Lebih Cepat dari GPT-5.6 Sol
Dari hasil pengujian, kemampuan computer use GPT-6 Astra juga diklaim meningkat dibandingkan model andalan ChatGPT sebelumnya, GPT-5.6 Sol.
Dalam benchmark OSWorld 2.0, yang digunakan untuk mengukur kemampuan agen AI dalam menyelesaikan berbagai tugas di lingkungan komputer, GPT-6 Astra memperoleh skor 72,6 persen.
Dalam pengujian offline OpenAI, model tersebut membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk menyelesaikan setiap tugas.
Sebagai pembanding, GPT-5.6 Sol mencatat skor 65,7 persen dengan waktu penyelesaian sekitar 75 menit per tugas.
Dengan demikian, GPT-6 Astra dapat menyelesaikan tugas sekitar 47 persen lebih cepat dibandingkan GPT-5.6 Sol.
OpenAI menyebut peningkatan tersebut berasal dari kombinasi proses pre-training dalam skala besar dan reinforcement learning. Metode tersebut membantu model menghubungkan berbagai informasi sekaligus menjalankan pekerjaan panjang yang terdiri atas banyak tahapan.
GPT-6 Astra juga disebut sebagai model OpenAI pertama yang proses pre-training-nya menggunakan lebih dari 100.000 DBU pada infrastruktur Stargate, proyek infrastruktur pusat data AI berskala global milik OpenAI.
Skor Benchmark GPT-6 Astra Tembus 98,6 Persen
Selain kemampuan mengoperasikan komputer, GPT-6 Astra juga menunjukkan performa tinggi dalam sejumlah benchmark lainnya.
Model tersebut mencatat skor 97,6 persen pada FrontierMath Tier 4 v2, benchmark yang menguji kemampuan menyelesaikan persoalan matematika tingkat lanjut.
Pada DeepSWE v1.1 yang menguji kemampuan software engineering, Astra memperoleh skor 74,1 persen. Sementara pada BenchCAD untuk pekerjaan desain berbantuan komputer, model ini mencatat 95,9 persen.
Untuk GPQA Diamond, benchmark yang berisi pertanyaan sains tingkat lanjut, GPT-6 Astra meraih skor 96 persen.
Sementara itu, pada ExploitBench yang menguji kemampuan menemukan dan mengeksploitasi kerentanan software, Astra mencatat skor 100 persen.
Salah satu hasil paling tinggi terlihat pada ARC-AGI-3, benchmark yang dirancang untuk menguji kemampuan AI beradaptasi dan memecahkan masalah baru.
GPT-6 Astra mencatat skor 98,6 persen dalam pengujian tersebut.
GPT-6 Astra Kontroversial karena Opaque Recurrence
Di balik kemampuan yang semakin tinggi, GPT-6 Astra juga menghadapi kontroversi terkait teknik penalaran yang digunakan, yakni opaque recurrence.
Secara sederhana, teknik tersebut memungkinkan sebagian proses internal AI berlangsung dengan cara yang semakin sulit diamati melalui chain of thought atau alur pemikiran.
Kemampuan memantau proses reasoning selama ini menjadi salah satu cara bagi peneliti untuk memahami alasan sebuah model mengambil keputusan tertentu.
Jika proses tersebut semakin sulit diamati, pengawasan terhadap perilaku AI yang semakin canggih juga menjadi tantangan tersendiri.
Chief Scientist OpenAI, Jakub Pachocki, mengakui bahwa pemantauan proses reasoning menjadi semakin sulit seiring meningkatnya kemampuan model.
Menurutnya, model AI yang semakin canggih dapat menyelesaikan pekerjaan kompleks dengan menggunakan lebih sedikit token bahasa. Dalam beberapa kasus, model bahkan dapat menyelesaikan tugas tanpa menggunakan token bahasa.
Kondisi tersebut membuat semakin sedikit proses yang dapat diamati melalui reasoning berbasis bahasa.
Kemampuan Siber GPT-6 Astra Jadi Perhatian
Kontroversi lain muncul dari kemampuan siber GPT-6 Astra yang semakin kuat.
Model tersebut disebut mampu membantu mengidentifikasi sekaligus mengembangkan eksploitasi terhadap celah keamanan zero-day, yaitu kerentanan software yang belum diketahui atau belum memiliki perbaikan.
Baca Juga : Prabowo Minta Karhutla Tidak Masuk Inti IKN, Bagaimana?
OpenAI menilai kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan tim keamanan untuk menemukan kerentanan dan melakukan penambalan dengan lebih cepat.
Namun, kemampuan yang sama juga membuat GPT-6 Astra membutuhkan sistem perlindungan dan pengawasan keamanan yang lebih ketat.
Karena alasan tersebut, OpenAI menerapkan distribusi GPT-6 Astra secara bertahap.
Pada tahap awal, model tersebut tersedia bagi pelanggan program keamanan siber OpenAI, Daybreak. Setelah itu, Astra akan diperluas ke pengguna ChatGPT Plus, Pro, Business, dan Enterprise serta tersedia melalui API.
OpenAI juga berencana menghadirkan GPT-6 Astra melalui sejumlah platform cloud, termasuk AWS Bedrock dan Microsoft Azure, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari VentureBeat dan laman resmi OpenAI.
