Pejabat Iran: 5.000 Orang Tewas dalam Gelombang Protes
Sedikitnya 5.000 orang tewas dalam demonstrasi Iran selama beberapa pekan terakhir, menurut pernyataan seorang pejabat Iran yang dikutip kantor berita Reuters pada Minggu (18/1/2026).
Pejabat tersebut mengatakan otoritas telah memverifikasi jumlah korban jiwa itu setelah gelombang protes anti-pemerintah mengguncang Iran sejak akhir Desember, dipicu kemarahan publik terhadap runtuhnya kondisi ekonomi negara tersebut.
Aksi protes yang awalnya bersifat sporadis dengan cepat meluas menjadi mobilisasi nasional yang menuntut jatuhnya pemerintahan, sebelum akhirnya dihadapi dengan penindakan keras aparat keamanan.
Pemadaman internet secara nasional yang dimulai pada 8 Januari memperparah situasi, di tengah laporan bahwa pasukan keamanan menembaki demonstran dengan peluru tajam.
Baca Juga: Trump Ancam Tarif Baru untuk Negara yang Tolak Aneksasi Greenland
Pejabat Iran Sebut Korban Tewas Capai 5.000 Orang
Dalam keterangannya kepada Reuters dengan syarat anonim, pejabat Iran tersebut menyalahkan kelompok yang ia sebut sebagai “teroris dan perusuh bersenjata” atas tingginya angka korban jiwa.
Ia menuding kelompok tersebut telah membunuh “warga Iran yang tidak bersalah” dan mengklaim mereka dipersenjatai serta didukung oleh “Israel dan kelompok bersenjata di luar negeri”.
Pejabat itu juga menambahkan bahwa “jumlah akhir korban tewas tidak diperkirakan akan meningkat tajam”, meski data dari kelompok independen menunjukkan angka yang berbeda.
Menurut dia, bentrokan paling mematikan terkonsentrasi di wilayah Kurdi Iran di bagian barat laut, kawasan yang selama ini sering menjadi titik panas ketegangan antara kelompok separatis Kurdi dan pasukan pemerintah.
Kelompok hak asasi manusia Kurdi-Iran, Hengaw, juga melaporkan bahwa daerah dengan mayoritas penduduk Kurdi mengalami protes paling keras sekaligus penindasan paling brutal.
Sementara itu, kelompok HAM berbasis di Amerika Serikat, HRANA, menyatakan telah memverifikasi 3.090 kematian hingga Sabtu, termasuk 2.885 orang yang diidentifikasi sebagai demonstran.
Di sisi lain, Mahmood Amiry-Moghaddam, salah satu pendiri organisasi Iran Human Rights yang berbasis di Oslo, mengatakan kepada media Middle East Eye bahwa aparat keamanan bertindak sangat brutal.
“Polisi membawa orang-orang yang terluka dan menembak mereka di kepala,” ujar Mahmood dalam wawancara video.
Baca Juga: Tarif Baru Diumumkan Trump ke Eropa, Dipicu Konflik Greenland
Pemimpin Tertinggi Iran dan Isu Pemadaman Internet
Selain itu, untuk pertama kalinya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu menyatakan bahwa “beberapa ribu” orang telah tewas selama gelombang protes.
Ia menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas kekerasan tersebut, dengan menuding Washington bertanggung jawab atas korban, kerusakan, dan kekacauan di Iran.
“Kami menganggap presiden AS sebagai penjahat atas korban, kerusakan, dan fitnah yang ia timpakan kepada bangsa Iran,” ungkap Khamenei, dikutip dari media pemerintah.
“Hasutan anti-Iran terbaru ini berbeda karena presiden AS terlibat secara langsung,” tambah dia.
Pernyataan itu muncul setelah Trump sebelumnya mengancam akan mengambil “tindakan sangat keras” jika Iran mengeksekusi para demonstran, meski kemudian mengatakan bahwa pembunuhan di Iran “mulai berhenti” dan tidak ada rencana eksekusi.
Menteri luar negeri Iran juga menyatakan negaranya “tidak memiliki rencana” untuk melakukan hukuman gantung terhadap para tahanan protes.
Di tengah situasi tersebut, pemadaman internet nasional dilaporkan mulai sedikit mereda, dengan kelompok pemantau NetBlocks mencatat adanya “kenaikan sangat kecil” konektivitas internet hingga sekitar 2 persen dari level normal.
Warga di Teheran pun mengatakan kepada Reuters bahwa penindakan keras tampaknya telah meredam protes, dengan tidak terlihat aksi besar pada Kamis dan Jumat, meski ketegangan masih menyelimuti negara itu.
Baca Juga: Gelombang Unjuk Rasa di Iran Picu Kebangkrutan Bank?

[…] Baca Juga: Pejabat Iran Sebut 5.000 Orang Tewas dalam Demo Berdarah […]