Pejabat Iran Kritik Menlu Araghchi Usai Bertemu Utusan AS
Seorang anggota parlemen senior Iran mempertanyakan kewenangan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk bertemu dengan pejabat senior Amerika Serikat (AS) di New York.
Ia bahkan menilai pembicaraan tersebut berpotensi melemahkan posisi Iran dalam perundingan dengan AS.
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mengatakan Kementerian Luar Negeri merupakan pelaksana kebijakan, bukan pihak yang menentukan kebijakan.
“Menteri luar negeri harus menjelaskan atas dasar otorisasi dan kebijakan apa pertemuan beliau dengan perwakilan musuh agresor dilakukan? Syarat-syarat Iran telah dikomunikasikan kepada AS dan menjadikan pertemuan ilegal sebagai alasan dengan dalih syarat-syarat tertentu tidak menghasilkan apa pun selain tanda kelemahan,” kata Rezaei dalam sebuah unggahan di X, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (23/9/2026).
“Kebijakan luar negeri dan keamanan nasional bukanlah arena untuk tindakan gegabah. Di parlemen, kami akan memenuhi kewajiban hukum kami untuk membela kepentingan bangsa Iran dan mengatasi masalah ini,” sambungnya.
Baca Juga: Iran Ungkap Kuasai Drone Kapal Selam AS, Siap Rekayasa Balik
Araghchi Bertemu Utusan AS di New York
Araghchi bertemu dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, di sela-sela Sidang Umum PBB pada Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut membahas perang yang melibatkan Iran dan menjadi pertemuan pertama kedua pihak sejak gencatan senjata pada Juni lalu runtuh.
Trump mengatakan pertemuan tersebut berlangsung selama tiga jam dan berjalan dengan sangat baik.
Ia juga menyebut pertemuan lanjutan akan digelar dalam waktu dekat.
Pertemuan itu berlangsung hanya beberapa jam setelah Trump mengancam akan “memusnahkan” Iran apabila kesepakatan damai gagal dicapai.
Dalam pidatonya di hadapan forum PBB, Trump juga membela aksi militer AS dan Israel sejak akhir Februari lalu.
Trump mengeklaim kesepakatan akhir dengan Iran kemungkinan baru akan tercapai setelah pemilihan umum sela AS pada November mendatang.
“Akankah kesepakatan tercapai dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya?” kata Trump, dikutip dari BBC.
“Atau haruskah aku memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi? Haruskah aku mengirim mereka ke neraka?” sambungnya.
Perundingan Iran-AS Disebut Berlangsung Intensif
Meski menyampaikan pernyataan keras dalam pidatonya di PBB, Trump kemudian mengonfirmasi bahwa timnya telah menggelar pertemuan selama tiga jam dengan delegasi Iran.
Baca Juga: Trump Beri Dua Pilihan untuk Iran: Kesepakatan atau Hancurkan
Trump menyebut pertemuan tersebut sangat produktif.
Utusan Khusus AS Steve Witkoff mengatakan perundingan berlangsung secara intensif dengan bantuan mediator Qatar.
Mediator Qatar disebut bergerak bolak-balik antar-ruangan delegasi sepanjang hari untuk menjembatani pembicaraan antara kedua pihak.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah upaya AS dan Iran mencari kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang kembali memanas setelah runtuhnya gencatan senjata pada Juni lalu.
