AS-Iran Kembali Negosiasi, Trump Ancam Musnahkan Iran
Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka jalur diplomasi di tengah konflik yang masih berlangsung. Pejabat kedua negara mengikuti perundingan tidak langsung di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut dimediasi Qatar dan melibatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi serta Utusan Khusus AS Steve Witkoff. Kontak diplomatik ini berlangsung ketika Washington dan Teheran masih berhadapan dalam konflik yang kembali memanas sejak runtuhnya gencatan senjata pada Juni lalu.
Jalur negosiasi tersebut dibuka hanya beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan ancaman keras terhadap Iran dalam pidatonya di hadapan Sidang Majelis Umum PBB. Trump mengatakan AS memiliki pilihan untuk mencapai kesepakatan atau melakukan tindakan militer yang lebih jauh terhadap Iran.
Baca Juga : Usai Temui Utusan AS, Pejabat Iran Lontarkan Kritik Menlu Araghchi
Trump juga menyebut kesepakatan dengan Teheran kemungkinan baru tercapai setelah pemilihan umum sela AS pada November mendatang.
“Akankah kesepakatan tercapai dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya?” katanya, dikutip dari BBC.
“Atau haruskah aku memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi? Haruskah aku mengirim mereka ke neraka?” sambungnya.
Tuntutan Iran
Meski menyampaikan ancaman tersebut di forum PBB, Trump kemudian mengatakan komunikasi dengan Iran tetap berjalan. Ia menyebut pembicaraan yang berlangsung pada hari yang sama berjalan dengan baik dan menunjukkan adanya perkembangan dalam upaya diplomasi kedua negara.
Witkoff mengatakan proses negosiasi dilakukan secara intensif melalui mediator Qatar. Para mediator bergerak di antara delegasi AS dan Iran untuk menyampaikan pesan serta membahas kemungkinan kesepakatan.
“Kami berhasil menyelesaikan putaran diskusi yang diharapkan terbukti konstruktif dan menjanjikan,” tulis Utusan Khusus AS Steve Witkoff dalam unggahannya di X.
“Para mediator akan melanjutkan pekerjaan mereka untuk memetakan kesepakatan,” tambahnya.
Dari sisi Iran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei menegaskan Teheran telah menyampaikan sejumlah syarat melalui mediator Qatar. Iran meminta penghentian perang dan aksi militer yang disebutnya sebagai agresi AS, pengakhiran blokade laut, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Salah satu persoalan penting dalam negosiasi adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Seorang pejabat senior Iran sebelumnya mengatakan Teheran siap membuka kembali jalur strategis tersebut dalam waktu sekitar satu pekan apabila AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Baca Juga : Macron Kritik Trump Soal Gaza, Ini Respon Gedung Putih
Kebuntuan antara Washington dan Teheran dalam beberapa bulan terakhir turut memberikan dampak terhadap perekonomian global. Gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz telah memengaruhi pasokan energi dan mendorong volatilitas harga minyak dunia. Reuters melaporkan harga minyak kembali bergerak naik setelah Trump menyatakan kesepakatan damai dengan Iran kemungkinan baru tercapai setelah pemilu sela AS pada November.
Di sisi lain, tekanan terhadap Iran juga datang dari blokade laut AS dan ancaman sanksi terhadap pihak-pihak yang masih melakukan perdagangan dengan Teheran. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap aktivitas ekonomi Iran sekaligus membuat hasil perundingan di New York menjadi perhatian pasar energi global.
