Penjelasan Ekonom tentang Kapan Indonesia Jadi Negara Maju
Mungkin banyak masyarakat bertanya, kapan Indonesia bisa menyandang status sebagai negara maju seperti yang dicapai sejumlah negara di Asia. Pertanyaan ini kerap muncul seiring perbandingan pembangunan Indonesia dengan China, Korea Selatan, atau Singapura, yang dalam beberapa dekade terakhir berhasil melonjak menjadi negara berpendapatan tinggi.
Status negara maju sendiri tidak ditentukan oleh satu indikator tunggal. Ia mencerminkan kualitas ekonomi, struktur industri, daya saing global, hingga kualitas sumber daya manusia dan institusi. Karena itu, perjalanan menuju negara maju kerap membutuhkan reformasi besar dan konsistensi kebijakan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Sepekan IHSG Terkoreksi 0,59 Persen, Kapitalisasi Pasar Rp 15.788 Triliun
Indonesia Masih Jauh dari Kriteria Negara Maju
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai Indonesia saat ini masih cukup jauh dari standar negara maju jika mengacu pada indikator global. Salah satu ukuran utamanya adalah pendapatan per kapita.
“Negara maju memiliki pendapatan per kapita di atas 14.000 dollar AS dan ekonominya terintegrasi kuat dalam rantai pasok global,” kata Wijayanto.
Ia menjelaskan, negara maju umumnya ditopang oleh sektor tersier seperti jasa modern, teknologi, dan riset, bukan lagi bertumpu pada komoditas mentah. Selain itu, produktivitas tenaga kerja, kualitas sumber daya manusia, serta institusi hukum dan birokrasi yang bersih menjadi fondasi penting.
Dengan pendapatan per kapita Indonesia yang masih berada di kisaran 4.900 dollar AS, menurut dia, posisi Indonesia masih tertinggal jauh dari ambang batas tersebut. Struktur ekonomi nasional juga dinilai belum ideal karena masih didominasi sektor primer dan sekunder.
Ia pun menyoroti tingginya ketergantungan ekspor Indonesia terhadap komoditas seperti CPO, batu bara, minyak dan gas, nikel, serta tembaga.
“Ketergantungan pada komoditas menunjukkan rendahnya kompleksitas produk Indonesia,” ujar dia.
Baca Juga: Manfaat dan Strategi Kelola Risiko dalam Manajemen Investasi, Apa Saja?
Peluang Jadi Negara Maju Masih Ada, Tapi Arah Dinilai Belum Tepat
Meski demikian, Wijayanto menegaskan peluang Indonesia menjadi negara maju sebenarnya tetap terbuka. Namun, arah kebijakan dan struktur ekonomi saat ini dinilainya belum sepenuhnya mendukung tujuan tersebut.
“Jika pertanyaannya apakah Indonesia bisa menjadi negara maju, jawabannya tentu saja ya. Tetapi kapan dan apakah kita ke arah yang benar, jawabannya tidak terlalu menggembirakan,” tutur Wijayanto.
Ia menyoroti fenomena deindustrialisasi dini, di mana kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) justru terus menurun. Padahal, sektor industri manufaktur selama ini menjadi motor utama negara-negara yang berhasil naik kelas menjadi negara maju.
Menurutnya, penurunan peran industri, lemahnya penguasaan teknologi, serta kualitas investasi asing yang belum optimal menjadi tantangan besar. Selain itu, persoalan klasik seperti kepastian hukum, birokrasi berbelit, dan tingkat korupsi juga dinilai menghambat transformasi ekonomi.
“Akankah Indonesia bisa menjadi negara maju? Jawabannya tergantung pada kita dan para pemimpin yang kita percaya. Jika tidak ada perbaikan mendasar, saya khawatir kita justru sedang menjauh dari kemajuan,” imbuh dia.
Dengan berbagai tantangan tersebut, perjalanan Indonesia menuju negara maju masih membutuhkan kerja panjang, konsistensi reformasi, serta keberanian melakukan perubahan struktural yang mendasar.
Baca Juga: Apa Saja Dampak Inflasi terhadap Ekonomi dan Masyarakat?
