Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik, Korsel Siaga
Korea Utara kembali melakukan uji coba rudal balistik di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea. Rudal balistik jarak pendek diluncurkan ke arah perairan di lepas pantai timur Semenanjung Korea pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 05.20 waktu setempat.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) menyebut rudal tersebut melesat sekitar 250 kilometer sebelum jatuh ke laut. Korea Selatan bersama Amerika Serikat kini tengah menganalisis karakteristik dan spesifikasi proyektil yang diluncurkan Pyongyang.
Menurut JCS, badan intelijen Korea Selatan dan AS telah mendeteksi serta memantau aktivitas tersebut sejak awal. Informasi terkait peluncuran juga telah dibagikan kepada Jepang.
“Militer Korea Selatan memantau secara ketat aktivitas Korea Utara dan mempertahankan kemampuan serta kesiapan untuk merespons secara tegas setiap provokasi berdasarkan postur pertahanan gabungan dengan AS,” tulis JCS, dikutip Channel News Asia, Minggu (13/9/2026).
Korsel Gelar Rapat Darurat
Tak lama setelah peluncuran terdeteksi, Kantor Keamanan Nasional Kepresidenan Korea Selatan mengadakan pertemuan darurat. Rapat tersebut melibatkan Kementerian Pertahanan, JCS, dan sejumlah lembaga pemerintah terkait.
Baca Juga : Trump Prediksi Perang Iran Selesai Setelah Pemilu AS
Para pejabat membahas dampak peluncuran rudal terhadap keamanan nasional serta mengevaluasi opsi respons pemerintah. Langkah mitigasi juga menjadi salah satu agenda pembahasan dalam pertemuan tersebut.
Pemerintah Korea Selatan kemudian meminta Pyongyang menghentikan aktivitas peluncuran rudal balistik. Seoul menilai tindakan Korea Utara sebagai pelanggaran serius terhadap resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementara itu, Komando Indo-Pasifik AS mengatakan pihaknya turut memantau peluncuran tersebut. Washington juga berkoordinasi dengan sekutu dan mitra di kawasan untuk menilai perkembangan situasi.
Berdasarkan penilaian awal, peluncuran tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel maupun wilayah AS dan negara-negara sekutunya.
“AS tetap berkomitmen untuk mempertahankan wilayah AS dan sekutu kami di kawasan,” tegas Komando Indo-Pasifik AS melalui unggahan di platform X.
Peluncuran Rudal Bertepatan dengan Latihan Militer
Peluncuran terbaru Korea Utara berlangsung ketika ketegangan di kawasan meningkat akibat latihan militer gabungan Korea Selatan dan AS.
Sebelumnya, Pyongyang mengecam rencana latihan Freedom Edge di perairan internasional dekat Korea Selatan. Korea Utara menyebut latihan tersebut sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan.
Pada saat yang sama, Seoul dan Washington tengah menggelar latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield. Namun, skala latihan tahun ini lebih kecil setelah Presiden AS Donald Trump meminta intensitasnya dikurangi.
Trump sebelumnya menyebut latihan militer tersebut sebagai tindakan yang “tidak pantas dan bermusuhan” terhadap Korea Utara.
Pengurangan skala latihan kemudian menimbulkan kekhawatiran di antara sejumlah sekutu AS di kawasan. Di sisi lain, Trump tengah berusaha kembali membuka jalur diplomasi personal dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Dalam pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih pada 19 Agustus lalu, Trump mengungkapkan kemungkinan bertemu Kim Jong Un pada tahun ini. Ia mengatakan penting untuk “menjalin hubungan baik” dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
Trump juga menyebut Pyongyang memiliki 57 senjata nuklir yang disebutnya “sangat kuat”. Pernyataan tersebut menarik perhatian karena pejabat AS biasanya berhati-hati dalam mengungkap angka terkait kemampuan nuklir Korea Utara.
Sebagai pembanding, Korea Selatan memperkirakan Korea Utara memiliki sekitar 80 hingga 120 hulu ledak nuklir.
Kim Yo Jong Kecam Aliansi AS-Korsel
Pernyataan Trump mengenai hubungan dengan Kim Jong Un kemudian diikuti aksi peluncuran rudal oleh Korea Utara.
Beberapa jam setelah Trump berbicara, militer Korea Selatan melaporkan Pyongyang menembakkan lebih dari 10 rudal balistik jarak pendek menuju Laut Jepang.
Baca Juga : Putin, Xi Jinping, dan Presiden Iran Lakukan Pertemuan di India
Ketegangan kembali meningkat setelah Kim Yo Jong, saudara perempuan Kim Jong Un sekaligus salah satu tokoh berpengaruh di pemerintahan Korea Utara, mengecam kebijakan Washington.
Kim Yo Jong menilai keputusan Trump mengurangi skala latihan militer bersama Korea Selatan justru menjadi bentuk “hukuman” terhadap Seoul.
Dalam pernyataannya, ia menyebut kebijakan tersebut sebagai “bencana nyata yang disebabkan oleh pandangan keamanan yang tidak realistis dan ketinggalan zaman” dari Korea Selatan.
Kim Yo Jong juga kembali mengkritik hubungan Seoul dan Washington. Ia menuduh Korea Selatan menjalankan hubungan dengan AS yang berpola “tuan dan pelayan”, terutama dalam kerja sama pertahanan kedua negara.
