Rudal Iran Kheibar Shekan Tembus Pertahanan AS, Ini Rahasianya
Iran dilaporkan mengubah strategi serangan militernya dengan mengandalkan rudal balistik Kheibar Shekan untuk menyasar pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di berbagai wilayah Timur Tengah.
Perubahan tersebut mencakup pola penerbangan, kecepatan, hingga kemampuan bermanuver di udara. Strategi itu disebut membantu sejumlah rudal Iran melewati sistem pertahanan udara AS dan sekutunya.
Mengutip laporan Newsweek yang mengutip The Wall Street Journal, Minggu (26/7/2026), perubahan taktik tersebut dilakukan setelah Teheran melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas militer AS di sedikitnya lima negara Timur Tengah sejak awal Juli.
Serangan tersebut sempat mengancam gencatan senjata yang sebelumnya dicapai pada Juni. Namun, AS dan Iran kemudian kembali menghentikan serangan udara selama dua hari berturut-turut.
Baca Juga : Trump Ungkap Ingin Jabat sebagai Presiden AS hingga Tiga Periode
Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengatakan Washington masih membuka kemungkinan diplomasi, tetapi tetap mempertahankan opsi untuk melanjutkan operasi militer.
Gelombang serangan terbaru Iran terjadi setelah serangan terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania yang menewaskan tiga prajurit AS, yakni Letnan Satu Tyler James Feehan, Prajurit Isabella Gonzales, dan Sersan Angel Rampersad.
Satu prajurit lainnya, Sersan Michael Emmanuel Swinton, tewas akibat ledakan drone di Pangkalan Udara Erbil, Irak. Dengan demikian, total personel AS yang meninggal dalam konflik tersebut mencapai 18 orang.
“Dalam beberapa pekan terakhir, Iran juga menyasar fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar,” tulis laporan tersebut.
Mengenal Spesifikasi dan Keunggulan Rudal Kheibar Shekan
Kheibar Shekan merupakan rudal balistik jarak menengah yang diperkenalkan Iran pada 2022. Rudal tersebut diperkirakan mempunyai jangkauan hingga 900 mil atau sekitar 1.448 kilometer.
Dengan kemampuan tersebut, Kheibar Shekan dapat menjangkau sebagian besar wilayah Timur Tengah dan sejumlah kawasan di luar wilayah tersebut.
Rudal ini menggunakan peluncur darat bergerak serta bahan bakar padat. Sistem tersebut memungkinkan proses persiapan peluncuran dilakukan lebih cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair.
Waktu persiapan yang lebih singkat juga dapat mengurangi kesempatan bagi lawan untuk mendeteksi sekaligus menyerang lokasi peluncuran.
“Nama rudal ini diambil dari Perang Khaybar pada tahun 628 Masehi, yakni kampanye militer pasukan Nabi Muhammad yang menaklukkan benteng oasis Khaybar,” tulis laporan The Wall Street Journal.
Kheibar Shekan juga dirancang dengan bobot lebih ringan dibandingkan generasi sebelumnya untuk meningkatkan jangkauan. Rudal tersebut menjadi bagian dari jajaran sistem berbahan bakar padat Iran, bersama Zolfaghar dan Fattah-1.
Media pemerintah Iran sebelumnya mengklaim Fattah-1 sebagai rudal hipersonik yang mampu melaju lebih dari lima kali kecepatan suara.
Alasan Utama Kheibar Shekan Menyita Perhatian Dunia
Perhatian terhadap Kheibar Shekan meningkat setelah pejabat AS mengungkap bahwa Iran mengombinasikan rudal tersebut dengan drone bermesin jet.
Perkembangan itu dinilai menunjukkan adanya perubahan dalam pendekatan taktis Teheran. Selain kemampuan teknisnya, faktor biaya juga menjadi perhatian.
Harga pasti Kheibar Shekan tidak diketahui secara terbuka. Namun, rudal tersebut dinilai lebih murah dibandingkan sejumlah rudal pencegat yang digunakan AS dan sekutunya, yang harganya dapat mencapai beberapa juta dolar hingga US$15 juta per unit.
Kondisi tersebut menciptakan persoalan strategis bagi AS. Penggunaan rudal berbiaya relatif rendah untuk memaksa lawan mengeluarkan rudal pencegat bernilai jauh lebih mahal dapat menjadi beban apabila dilakukan secara terus-menerus.
Pakar strategi Iran dari Sciences Po Paris, Nicole Grajewski, menilai Kheibar Shekan memiliki kombinasi kemampuan yang membuatnya menarik bagi Teheran.
“Pihak Iran menyadari selama perang bahwa Kheibar Shekan sangat luar biasa karena cukup murah untuk diproduksi, fleksibel dengan sistem peluncuran, dan sangat efektif,” ungkap pakar strategi Iran Nicole Grajewski.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Rusia menggunakan satelit untuk memantau pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan memberikan informasi tersebut kepada Iran.
Menurut Zelensky, satelit Rusia melakukan pemantauan terhadap pangkalan udara di Bahrain, Yordania, dan Kuwait pada 19-20 Juli.
Efektivitas Sistem Pertahanan Udara Menghadapi Gempuran Rudal
AS dan sekutunya disebut masih mampu mencegat sebagian besar rudal Kheibar Shekan yang diluncurkan sejak konflik pecah pada 28 Februari. Namun, beberapa proyektil berhasil melewati sistem pertahanan udara.
Pakar rudal independen Fabian Hinz menilai setiap serangan memberikan pengalaman baru bagi Iran untuk mengevaluasi efektivitas berbagai pola penerbangan dan manuver.
Baca Juga : Iran Ancam Ukraina Serangan Picu Ketegangan Baru
Rudal balistik secara umum memiliki tantangan tersendiri bagi sistem pertahanan karena bergerak dalam lintasan yang sangat cepat dan dapat mencapai ketinggian tinggi.
Pada Kheibar Shekan, bagian reentry vehicle yang membawa hulu ledak ketika kembali memasuki atmosfer juga dapat melakukan manuver pada tahap akhir penerbangan. Kemampuan tersebut berpotensi membuat proses intersepsi menjadi lebih sulit.
Iran juga dilaporkan menggunakan strategi serangan dalam jumlah besar untuk membebani sistem pertahanan udara lawan. Rudal-rudal sederhana dapat digunakan untuk mengalihkan perhatian radar sebelum proyektil yang lebih canggih ditembakkan.
“Iran menggunakan rudal sederhana untuk mengalihkan perhatian radar. Mereka kemudian menembakkan rudal berkualitas lebih baik yang mengubah target akhir mereka dalam 30 atau 40 kilometer terakhir,” ungkap mantan Wakil Kepala Staf Militer Yordania, Purnawirawan Letnan Jenderal Qasid Mahmoud.
