Trump Klaim Selat Hormuz Milik AS, Iran Balik Berang
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu ketegangan dengan Iran setelah mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah baru Amerika Serikat. Klaim tersebut disampaikan ketika upaya negosiasi antara Washington dan Teheran kembali menemui jalan buntu.
Mengutip Russia Today dan Reuters, Rabu (19/8/2026), Trump menyampaikan klaim tersebut melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa. Ia membagikan peta Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya yang diberi lingkaran serta label.
“Wilayah baru Amerika Serikat,” tulis label dalam unggahan tersebut.
Pernyataan Trump langsung mendapat respons dari pemerintah Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengecam klaim tersebut dan menilai Trump tengah berkhayal.
Gharibabadi juga menyindir rencana Trump sebelumnya untuk mengubah nama Selat Hormuz menjadi Teluk Arab. Menurut dia, upaya tersebut justru akan membuat penggunaan nama Teluk Persia semakin kuat.
“Ia berhasil menuliskan nama Teluk Persia yang abadi dengan benar,” tuturnya.
Baca Juga: Untuk Swasembada Pangan 2027, Prabowo Siapkan Rp195,3 Triliun
Pernyataan tersebut muncul setelah batas waktu dua bulan untuk mencapai kesepakatan damai berakhir pada Senin. Kegagalan mencapai kesepakatan turut memengaruhi pasar minyak dunia.
Harga minyak mentah berjangka Brent sempat melonjak hingga US$ 126 per barel sebelum kemudian ditutup di sekitar US$ 91 per barel pada Selasa.
Trump Bantah Ada Dialog dengan Iran
Setelah mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah AS, Trump kembali mengatakan tidak ada pembicaraan maupun pertemuan yang sedang berlangsung atau dijadwalkan dengan Iran.
Pernyataan tersebut berbeda dengan keterangan menantunya, Jared Kushner, yang sehari sebelumnya mengatakan dialog antara kedua pihak masih berlangsung.
“Blokade Angkatan Laut tetap berlaku penuh dan efektif. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau air telah disingkirkan atau diledakkan,” kata Trump.
Namun, klaim mengenai Selat Hormuz yang terbuka dibantah Iran. Negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan jalur pelayaran tersebut masih akan ditutup sampai AS memenuhi sejumlah tuntutan Teheran.
“Kondisi ini mencakup AS mengakhiri blokade pelabuhan Iran, mencabut sanksi minyak, melepaskan aset Teheran yang dibekukan, dan mengakhiri ancaman serta operasi militer di semua lini,” tegas Qalibaf.
Di tengah kebuntuan diplomasi, seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya mulai bergerak menuju postur militer yang disebut “ofensif penuh”. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mohammad Mokhber mengatakan Teheran masih terbuka untuk dialog, tetapi tidak akan menganggap negosiasi sebagai bentuk penyerahan diri.
Ketegangan juga terlihat di lapangan. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan mendeteksi dua rudal balistik dari Iran yang jatuh ke laut dan mengarah ke lalu lintas maritim pada Selasa. UEA kemudian menangguhkan aktivitas perdagangan, pengiriman, dan transaksi keuangan dengan Iran.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Kapal di Selat Hormuz Anjlok
Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menerima laporan sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal saat keluar melalui Selat Hormuz. Insiden tersebut menyebabkan kerusakan pada ruang mesin dan satu awak kapal terluka.
Data pelayaran juga menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz masih berada pada level yang sangat rendah.
Konflik AS-Iran sendiri telah menyebabkan ribuan korban jiwa di Iran dan Lebanon. Iran sebelumnya merespons serangan AS dan Israel dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan.
Washington menyatakan tujuan utamanya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Namun, sejumlah ahli menilai pencapaian tujuan tersebut sulit dilakukan tanpa menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang berada di lokasi bawah tanah.
Di tengah tekanan militer dan ekonomi, para pemimpin Iran dilaporkan menghadapi kekhawatiran mengenai dampak sanksi AS terhadap kondisi domestik. Tekanan ekonomi dikhawatirkan memicu kembali keresahan sosial dan mengikis legitimasi pemerintah.
Seorang pejabat AS mengatakan Washington juga tengah mempersiapkan sanksi tambahan terhadap Iran.
“Sanksi ini (kemungkinan) jauh lebih keras dan akan diambil dalam beberapa bulan ke depan,” pungkas pejabat tersebut.
