Trump Melunak ke Xi Jinping? AS Mulai Ubah Strategi Lawan China
Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan sinyal pelonggaran kebijakan terhadap China. Pada akhir 2025, Presiden Donald Trump mengizinkan ekspor chip kecerdasan buatan (AI) canggih H200 buatan Nvidia ke China.
Kebijakan tersebut memicu kritik dari kalangan Partai Republik maupun Demokrat. Mereka menilai pengiriman chip H200 berisiko terhadap keamanan nasional AS, karena dapat mempercepat pengembangan teknologi AI China yang berpotensi dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan militernya.
Tidak lama setelah itu, pemerintah AS juga menarik kembali daftar terbaru perusahaan-perusahaan China yang sebelumnya dituduh membantu militer Beijing. Padahal, sebelumnya Washington sempat memasukkan sejumlah perusahaan tambahan ke dalam ‘daftar hitam’, termasuk Alibaba dan Baidu.
Baca Juga : RI-Arab Satukan Standar Label Halal secara Global
Dokumen resmi tersebut hanya sempat terunggah sekitar satu jam sebelum beberapa nama perusahaan dihapus, di antaranya ChangXin Memory Technologies (CXMT) dan Yangtze Memory Technologies Co (YMTC). Keduanya dikenal sebagai produsen chip yang tengah berencana meningkatkan kapasitas produksi di tengah krisis chip memori global.
Langkah penghapusan itu kembali menuai kecaman dari para pendukung kebijakan keras terhadap China di Washington. Mereka khawatir kemajuan teknologi manufaktur chip perusahaan-perusahaan tersebut dapat memperkuat kemampuan militer China.
“Kami ingin menghapus pemberitahuan ini dari pemeriksaan publik dan menarik pemberitahuan ini dari publikasi di Federal Register,” demikian bunyi surat Pentagon kepada Federal Register, jurnal resmi pemerintah AS, tanpa menyebutkan alasan spesifik, dikutip dari Reuters, Selasa (17/2/2026).
Pentagon dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Kedutaan Besar China di Washington juga belum memberikan respons.
“Semoga (Pentagon) menarik dokumen terbarunya. Sebab, penghapusan CXMT dan YMTC [dari ‘daftar hitam’] adalah sebuah kesalahan,” kata Chris McGuire, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih di bawah Presiden Joe Biden.
Dalam dokumen yang sempat ditarik pada Jumat (13/2), turut tercantum nama produsen mobil listrik BYD, perusahaan bioteknologi WuXi AppTec, serta perusahaan robotika berbasis AI RoboSense Technology Co Ltd.
Publikasi dan penarikan daftar secara cepat ini terjadi di tengah upaya pemerintahan Trump meredakan ketegangan dengan China setelah gencatan senjata dagang yang disepakati Trump dan Xi Jinping di Busan pada Oktober 2025.
Sejak kesepakatan tersebut, pemerintahan Trump dinilai mengambil pendekatan lebih lunak. Selain mengizinkan Nvidia mengekspor chip AI canggih ke China, pemerintah juga menunda aturan yang berpotensi melarang ribuan perusahaan China membeli teknologi asal AS.
Pada Kamis (12/2/2026), Reuters melaporkan pemerintahan Trump menunda sejumlah kebijakan keamanan nasional terhadap Beijing, termasuk larangan operasi China Telecom di AS serta pembatasan penjualan peralatan China untuk pusat data di AS.
Trump juga diperkirakan akan melakukan kunjungan ke China pada April 2026, meski jadwal pastinya belum diumumkan.
‘Daftar Hitam’ Pentagon
Sebagai catatan, ‘daftar hitam’ Pentagon tidak secara langsung menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan China. Namun, berdasarkan undang-undang terbaru, Departemen Pertahanan AS dalam beberapa tahun ke depan dilarang melakukan kontrak maupun pengadaan dengan perusahaan yang tercantum dalam daftar tersebut.
Masuknya perusahaan ke dalam daftar itu juga menjadi sinyal bagi pemasok Pentagon, instansi pemerintah, dan lembaga AS lainnya mengenai penilaian militer terhadap entitas terkait. Sejumlah perusahaan China yang masuk daftar bahkan telah menggugat pemerintah AS.
Seorang juru bicara Alibaba menyatakan tidak ada dasar yang sah atas pencantuman perusahaan tersebut dan menyebut pihaknya siap menempuh jalur hukum.
“Alibaba bukanlah perusahaan militer China maupun bagian dari strategi fusi militer-sipil apa pun,” kata juru bicara tersebut.
Daftar tersebut sebelumnya juga mencakup perusahaan besar seperti Tencent Holdings dan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), produsen baterai utama untuk kendaraan listrik.
Baca Juga : MBG Jadi Investasi Masa Depan Pendidikan
“Ini tampaknya merupakan masalah proses yang terkait dengan persetujuan antar lembaga pada beberapa perusahaan yang dihapus,” kata Eric Sayers, seorang peneliti non residen di American Enterprise Institute yang mengkhususkan diri dalam kebijakan pertahanan Asia-Pasifik dan kebijakan teknologi AS-China.
Menurut Eric, penambahan baru tersebut kemungkinan tidak akan berubah, tetapi beberapa penghapusan masih dalam proses peninjauan, dan dapat tetap ada dalam daftar yang diperbarui.

[…] Trump Melunak ke Xi Jinping? AS Mulai Ubah Strategi Lawan China […]