Trump Prediksi Perang Iran Berakhir Usai Pemilu AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkirakan perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS pada November 2026.
Trump menilai Iran tidak akan mampu mempertahankan konflik lebih lama, sekaligus menuding Teheran berupaya memengaruhi hasil pemilu paruh waktu AS.
“Saya pikir perang akan berakhir segera setelah pemilihan karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mereka sangat ingin mencoba memengaruhi pemilihan,” kata Trump, dikutip dari Reuters, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga: Malaysia Mulai Dibidik Orang Kaya China untuk Investasi
Perang yang telah berlangsung selama sekitar enam bulan tersebut turut berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dan disebut ikut menekan tingkat popularitas Trump.
Menurut Trump, Iran berusaha memengaruhi pemilu yang akan menentukan apakah Partai Republik tetap mempertahankan kendali atas Kongres.
Trump sebelumnya telah menetapkan tenggat waktu untuk mengakhiri perang tersebut.
Namun, Wall Street Journal melaporkan sejumlah penasihat utama Gedung Putih, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, secara pribadi telah memperingatkan Trump bahwa konflik dapat berlanjut hingga akhir masa kepresidenannya pada Januari 2029.
Trump Ancam Serang Gunung Pickaxe
Trump juga kembali mengancam kemungkinan serangan AS terhadap Gunung Pickaxe di Iran.
Lokasi tersebut memiliki dua kompleks terowongan yang berada jauh di bawah tanah dan terletak di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang telah mengalami kerusakan.
“Kami memperhatikan ada sedikit aktivitas di Pickaxe. Saya menyarankan Iran untuk tidak bertindak gegabah karena kami harus menyerang mereka dengan sangat keras,” ujar Trump dalam pidatonya di konvensi Partai Republik paruh waktu.
Baca Juga: Di Ambang Perang Dunia III, Politikus Iran Peringatkan Dunia
Trump setidaknya telah mengancam akan menyerang Gunung Pickaxe sejak pertengahan Juli.
Di sisi lain, Washington dalam beberapa pekan terakhir menyatakan keberhasilannya dalam meningkatkan jumlah kapal tanker yang dapat melintasi Selat Hormuz.
Namun, pertempuran yang kembali terjadi pada bulan ini tampaknya menghambat upaya pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut secara bertahap.
Berdasarkan data pelacakan kapal awal yang dirilis pada Kamis, hanya tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu.
Jumlah tersebut sekitar setengah dari rata-rata 10 hari sebelumnya.
