Politikus Iran Peringatkan Dunia di Ambang Perang Dunia III
Anggota parlemen Iran Kamran Ghazanfari memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi berkembang menjadi perang yang jauh lebih luas. Ia bahkan menyebut dunia saat ini berada di ambang Perang Dunia III.
Pernyataan tersebut disampaikan Ghazanfari dalam wawancara dengan kantor berita resmi Iran Labour News Agency (ILNA). Pernyataannya kemudian dikutip The Jerusalem Post pada Rabu (9/9/2026).
“Kami secara praktis berada di ambang Perang Dunia III,” kata Ghazanfari.
Menurut dia, potensi konflik global tidak hanya dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah. Sejumlah perselisihan di kawasan lain juga dinilai dapat memperbesar risiko terjadinya perang yang melibatkan lebih banyak negara.
Baca Juga : Singapura Beberkan Upaya Komandan Milisi Iran Masuk Negaranya
Ghazanfari secara khusus menyoroti dukungan NATO terhadap Ukraina dalam perang melawan Rusia. Ia menilai dukungan tersebut, ditambah memburuknya hubungan Rusia dengan Inggris dan Jerman, dapat meningkatkan kemungkinan konflik meluas ke negara-negara Eropa lainnya.
Selain perang Rusia-Ukraina, politikus Iran itu menyebut hubungan Amerika Serikat dan China terkait Taiwan sebagai salah satu titik rawan lain yang berpotensi memicu konflik lebih besar.
Iran Kembali Bahas Kemungkinan Keluar dari NPT
Dalam wawancara yang sama, Ghazanfari turut membicarakan kemungkinan Iran keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Ia mengatakan isu tersebut berpeluang kembali dibahas di parlemen Iran. Wacana itu sebelumnya juga pernah menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan Iran dengan negara-negara Barat.
Ghazanfari dikenal sebagai salah satu politikus Iran yang menentang kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Pada Juni lalu, ketika Iran dan AS disebut memiliki peluang untuk mencapai kesepakatan, ia mengkritik nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara. Menurutnya, kesepakatan apa pun dengan Washington tidak akan memiliki legitimasi serta tidak bersifat mengikat.
Ia juga meminta tim negosiasi Iran tetap mematuhi garis merah yang ditetapkan Pemimpin Tertinggi Iran. Ghazanfari mengeklaim AS telah berulang kali melontarkan ancaman terhadap Iran dan anggota tim negosiasi selama pembicaraan yang berlangsung sekitar dua bulan.
Menurutnya, kesepakatan yang lahir dalam situasi tersebut tidak memiliki keabsahan berdasarkan hukum internasional.
Ghazanfari Pernah Klaim AS dan Israel Incar Pulau Iran
Ghazanfari sebelumnya juga pernah menyampaikan peringatan mengenai kemungkinan operasi militer yang lebih besar oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Ia bahkan mengeklaim kedua negara tersebut berpotensi berupaya mengambil alih sejumlah pulau Iran di wilayah selatan.
Baca Juga : Israel Desak Inggris Tutup Konsulat dalam 30 Hari
“Bukti dan tanda-tanda menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang merencanakan operasi berskala besar. Mereka mungkin berniat merebut beberapa pulau kami di selatan dan telah membawa banyak pasukan serta peralatan ke kawasan tersebut,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu dari sejumlah klaim kontroversial yang pernah disampaikan Ghazanfari.
Salah satunya adalah tudingan bahwa Presiden Iran Ebrahim Raisi dibunuh oleh Israel dan sekutunya pada 2024. Klaim tersebut turut menempatkan Ghazanfari sebagai salah satu politikus Iran yang kerap mengeluarkan pernyataan keras terkait konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
