Trump Sebut Venezuela Belum Siap Gelar Pemilu
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menilai Venezuela belum siap menggelar pemilihan umum setelah negara tersebut memasuki masa transisi pasca penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro.
Trump mengatakan Caracas masih membutuhkan waktu sebelum menentukan pelaksanaan pemilu. Padahal, sebelumnya Washington menegaskan pentingnya pembentukan pemerintahan demokratis di Venezuela.
Pernyataan Trump disampaikan ketika hubungan AS dengan pemerintahan interim Venezuela semakin erat, terutama dalam kerja sama sektor energi. Pada hari yang sama, kedua negara juga menandatangani kesepakatan baru untuk mengembangkan sejumlah ladang minyak Venezuela.
Venezuela Belum Siap Gelar Pemilu
Trump menyampaikan pandangannya pada Rabu (2/9/2026) saat ditanya mengenai alasan AS tidak mendorong pemerintahan Caracas segera menetapkan jadwal pemilu.
Baca Juga : Bos Bank of America Tewas Ditikam, Pelaku Ditembak Polisi
“Saya rasa mereka belum siap. Ini masih sangat baru,” kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip Anadolu.
Trump juga memberikan penilaian positif terhadap Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez. Menurutnya, Rodriguez telah menjalankan tugas dengan baik dan memperoleh penghormatan.
“Delcy menginginkannya, tetapi mereka belum siap,” ujar Trump ketika ditanya mengenai pelaksanaan pemilu.
Trump menyebut Venezuela masih membutuhkan waktu setelah operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Maduro. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemilu tetap diharapkan dapat dilaksanakan dalam waktu tidak terlalu lama.
“Mereka memang belum akan siap untuk itu. Tetapi segera, kami berharap bisa melakukannya,” katanya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kemudian menjelaskan pendekatan pemerintahan Trump terhadap proses politik Venezuela. Menurut Rubio, Washington tidak hanya menginginkan pemilu digelar, tetapi juga memastikan hasilnya mampu membentuk pemerintahan demokratis yang dapat bertahan.
“Kami tidak hanya ingin ada pemilu. Pemilu itu penting, tetapi kami ingin memastikan bahwa pemilu tersebut menghasilkan sebuah republik,” kata Rubio.
Rubio menambahkan, AS menginginkan Venezuela memiliki sistem politik yang berkelanjutan dengan penyelenggaraan pemilu secara rutin pada masa mendatang. Washington juga berencana menggelar putaran pembicaraan transisi berikutnya dengan Caracas dalam sekitar 10 hari.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditahan setelah ditangkap oleh militer AS di Venezuela pada 3 Januari. Pemerintah AS menuduh Maduro terlibat dalam sejumlah tindak pidana, termasuk terorisme narkoba dan perdagangan kokain.
Setelah penangkapan tersebut, Rodriguez mengambil alih pemerintahan Venezuela sebagai presiden interim.
AS dan Venezuela Perkuat Kerja Sama Minyak
Pernyataan Trump muncul di tengah semakin eratnya hubungan AS dengan pemerintahan interim Venezuela. Sektor energi menjadi salah satu fokus utama karena Venezuela memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar.
Pada Rabu, Menteri Energi AS Chris Wright mengunjungi Venezuela untuk menghadiri penandatanganan kesepakatan baru terkait pengembangan sektor minyak.
Wright menyebut kesepakatan tersebut sebagai “hari bersejarah” bagi transformasi Venezuela.
Melalui kesepakatan itu, perusahaan yang didukung AS memperoleh hak untuk mengembangkan 17 ladang minyak Venezuela. Total cadangan minyak di ladang-ladang tersebut diperkirakan mencapai 65 miliar barel.
Kesepakatan tersebut dibuat dalam bentuk kontrak sewa dengan jangka waktu hingga 100 tahun.
Baca Juga : Trump Tuai Kritik Usai Pentagon Ikut Investasi Minyak Venezuela
Pemerintahan Trump menyatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya menarik investasi bernilai miliaran dolar sekaligus memulihkan industri energi Venezuela yang mengalami kerusakan parah.
Wright mengatakan berbagai kesepakatan yang telah ditandatangani berpotensi membawa investasi hingga puluhan miliar dolar dan menciptakan ribuan lapangan pekerjaan.
Perusahaan energi AS, Chevron, juga mengonfirmasi rencana memperluas operasinya di Venezuela. Chevron berencana menanamkan investasi lebih dari US$7 miliar atau sekitar Rp124 triliun dalam lima tahun mendatang.
Bagi Rodriguez, peningkatan produksi minyak diharapkan dapat memperbesar pendapatan negara sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Venezuela.
Menurutnya, peningkatan produksi energi dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan upah pekerja, serta membantu pemerintah memperbaiki pelayanan publik.
