Volkswagen PHK 100.000 Karyawan, Tertekan China dan Tarif Trump
Raksasa otomotif asal Jerman, Volkswagen, berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 100.000 karyawan hingga akhir dekade ini.
Langkah tersebut menjadi bagian dari restrukturisasi besar-besaran perusahaan setelah Volkswagen menghadapi tekanan dari tarif impor Amerika Serikat (AS) serta persaingan ketat dengan produsen otomotif asal China.
Mengutip The Guardian, Jumat (4/9/2026), manajemen Volkswagen bersama serikat pekerja telah menyepakati rencana penghematan dengan memangkas 50.000 posisi tambahan hingga 2030.
Baca Juga: Hingga 2027, AS Perpanjang Penempatan Pasukan di Timteng
Dengan demikian, total posisi yang akan dihilangkan Volkswagen mencapai 100.000. Jumlah tersebut mencakup sekitar 15 persen dari total 650.000 karyawan yang bekerja di seluruh grup Volkswagen.
Grup tersebut menaungi sejumlah merek otomotif besar, seperti Audi, Bentley, Skoda, Seat, Porsche, Cupra, hingga Lamborghini.
Selain memangkas jumlah pekerja, Volkswagen juga berencana mengurangi jumlah model kendaraan yang diproduksi hingga sekitar setengahnya.
“Sangat penting untuk secara sistematis menyelaraskan tingkat tenaga kerja dengan realitas ekonomi,” paparnya.
CEO Volkswagen Oliver Blume sebelumnya mendapat sorakan dari sejumlah staf ketika melakukan kunjungan ke kantor pusat perusahaan di Wolfsburg pada bulan lalu. Saat itu, Blume berdialog dengan pekerja mengenai tantangan keuangan yang sedang dihadapi perusahaan.
Rencana restrukturisasi tersebut ketika itu masih menunggu persetujuan dari dewan pengawas yang mewakili pekerja dan pemegang saham.
Namun, pada Kamis (3/9/2026), Volkswagen memastikan rencana tersebut telah mendapat persetujuan penuh dari dewan pengawas.
“Dewan pengawas telah dengan suara bulat menyetujui rencana masa depan dewan eksekutif yang disajikan hari ini. Ini adalah sinyal kuat untuk masa depan grup Volkswagen,” ungkapnya.
Penghapusan 100.000 posisi tersebut diperkirakan menjadi restrukturisasi terbesar yang pernah terjadi di industri otomotif global.
Baca Juga: Putin Ungkap RI MItra Strategis Rusia di Asia Pasifik, Relasi Dagang Menguat
Volkswagen juga menyatakan masa depan empat pabriknya di Jerman, yakni Hanover, Emden, Zwickau, dan Neckarsulm, belum dapat dipastikan hingga memasuki dekade 2030-an. Keempat fasilitas tersebut bahkan berpotensi ditutup secara permanen dalam delapan tahun mendatang.
Tekanan terhadap Volkswagen terjadi ketika perusahaan menghadapi penurunan laba dan persoalan kelebihan kapasitas produksi di Eropa yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Persaingan dengan produsen mobil China, baik di pasar Eropa maupun China sendiri, turut memperburuk kinerja perusahaan otomotif terbesar Jerman tersebut.
Kondisi serupa juga dirasakan produsen otomotif Jerman lainnya, BMW. Perusahaan yang berbasis di Munich itu harus memangkas panduan labanya tahun ini akibat gangguan rantai pasokan yang dipicu perang Iran serta kesulitan menembus pasar otomotif domestik China.
