Trump Temui Presiden Lebanon Bahas Israel-Hizbullah
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dijadwalkan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pekan depan untuk bertemu Presiden Donald Trump di Gedung Putih. Pertemuan tersebut difokuskan pada pembahasan upaya memperkuat gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, termasuk mendorong penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon selatan.
Mengutip Al Jazeera, Aoun akan bertolak ke Washington pada Sabtu (18/7) setelah menerima undangan resmi dari Trump. Lawatan ini menjadi kunjungan pertama seorang presiden Lebanon ke Gedung Putih sejak Michel Sleiman bertemu Presiden Barack Obama pada 2009.
Menurut pernyataan Kepresidenan Lebanon, kedua pemimpin akan membahas langkah-langkah untuk memperkuat implementasi gencatan senjata, memastikan penarikan militer Israel dari Lebanon selatan, serta memulihkan keamanan dan stabilitas nasional.
Baca Juga : Iran Sebut Belum Ada Niatan Lanjutkan Negosiasi dengan AS
Selain isu keamanan, agenda pertemuan juga mencakup pembahasan mengenai perluasan kewenangan pemerintah Lebanon di seluruh wilayah negara tersebut.
Bahas Zona Percontohan di Lebanon Selatan
Kunjungan Aoun berlangsung tidak lama setelah Lebanon dan Israel menyelesaikan putaran terbaru perundingan yang dimediasi Amerika Serikat di Roma.
Seorang pejabat AS menyebut kedua pihak telah menyepakati langkah lanjutan berupa pembentukan pilot zones atau zona percontohan di Lebanon selatan. Dalam skema tersebut, pasukan Israel akan ditarik secara bertahap, sementara pengamanan wilayah akan dialihkan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon.
Zona percontohan ini merupakan bagian dari kesepakatan yang dicapai pada Juni lalu untuk mengakhiri keberadaan militer Israel di Lebanon selatan secara bertahap.
Meski demikian, kesepakatan tersebut belum menetapkan batas waktu penarikan pasukan Israel. Proses itu masih dikaitkan dengan syarat Hizbullah dan kelompok bersenjata lain melucuti persenjataan mereka, sebuah tuntutan yang hingga kini ditolak Hizbullah.
Serangan Israel Masih Berlangsung
Di tengah proses diplomasi, situasi keamanan di Lebanon selatan masih belum sepenuhnya kondusif. Media pemerintah Lebanon melaporkan militer Israel kembali melancarkan serangan ke dua kota di wilayah Tyre dan Nabatieh yang berada di sekitar zona keamanan.
Sementara itu, militer Israel menyatakan serangan tersebut menyasar sel Hizbullah di dekat Tebnit setelah mendeteksi sebuah drone milik kelompok tersebut di kawasan itu.
Israel menilai aktivitas tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata, sedangkan hingga kini Hizbullah belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.
Pemerintah Israel juga menegaskan pasukannya akan tetap berada di zona keamanan selebar sekitar 10 kilometer di sepanjang perbatasan selama Hizbullah masih mempertahankan persenjataannya.
Baca Juga : Tidak Hanya Jadi Penonton, Trump Ikut Serahkan Trofi Piala Dunia
Di sisi lain, Hizbullah tetap menolak proses negosiasi yang sedang berlangsung, termasuk tuntutan untuk melucuti senjata. Kelompok tersebut menyatakan hanya tekanan dari Iran yang dinilai dapat memaksa Israel menghentikan operasi militernya, dan menarik seluruh pasukan dari Lebanon.
Konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah bermula dari baku tembak lintas perbatasan setelah pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Ketegangan kemudian meningkat menjadi perang terbuka pada Maret setelah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Meski gencatan senjata kini berlaku, pasukan Israel masih menempatkan personilnya di sebagian wilayah Lebanon selatan, dan terus melakukan operasi militer di tengah proses negosiasi damai.
