Vietnam Dilanda Banjir dan Longsor, 40 Orang Tewas dan Topan Baru Mengancam
Vietnam saat ini tengah berpacu dengan waktu ketika tim SAR dan relawan berjuang menembus daerah-daerah yang terisolasi akibat banjir dan longsor. Sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas, sementara pemerintah memperingatkan datangnya topan baru yang diperkirakan akan menghantam wilayah tersebut dalam beberapa hari ke depan.
Dikutip dari The Associated Press, pada Selasa (4/11/2025), hujan lebat yang turun tanpa henti sejak akhir Oktober memicu banjir bandang dan longsor di sejumlah provinsi. Dampaknya cukup besar, rumah warga tersapu air, ribuan penduduk terpaksa mengungsi, dan sebagian besar wilayah lumpuh akibat aliran listrik serta jaringan data yang terputus.
Baca juga: Israel Siapkan RUU Hukuman Mati untuk Tahanan Palestina
Selain itu, saluran irigasi, bantaran sungai, dan garis pantai mengalami erosi parah. Beberapa jalan nasional di kawasan Da Nang dilaporkan masih tertutup lumpur dan puing.
Badan Meteorologi Vietnam memperingatkan bahwa Topan Kalmaegi kini bergerak cepat menuju pesisir tengah negara itu setelah melintasi Filipina. Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional memperkirakan kecepatan angin dapat mencapai 166 kilometer per jam ketika topan tersebut memasuki Laut China Selatan pada Rabu.
Setelah kondisi sempat membaik akhir pekan lalu, situasi di lapangan kembali memburuk. Petugas penyelamat yang sebelumnya berhasil mengevakuasi warga saat air surut kini menghadapi tantangan baru karena permukaan sungai kembali naik.
Di Kota Hue, ketinggian air di dua sungai utama, Huong dan Bo, telah mencapai tingkat berbahaya sementara hujan deras masih mengguyur kawasan tersebut. Pemerintah Vietnam telah menyalurkan bantuan darurat berupa makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat pengungsian bagi warga terdampak. Aparat militer bersama relawan juga dikerahkan untuk membersihkan puing, memperbaiki jaringan listrik dan air, serta membuka kembali akses transportasi yang terputus.
Langkah pencegahan terhadap potensi wabah penyakit kini menjadi fokus utama pemerintah, bersamaan dengan upaya memperbaiki sistem irigasi serta membantu petani memulihkan lahan pertanian dan peternakan yang rusak akibat bencana.
Menurut data terbaru pada Senin, sedikitnya 40 orang meninggal dunia, lima orang masih dinyatakan hilang, dan 78 lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah memperingatkan jumlah korban bisa terus bertambah karena beberapa wilayah masih belum dapat dijangkau tim penyelamat.
Tahun ini, Vietnam menghadapi serangkaian badai yang datang hampir tanpa jeda. Sebelumnya, Topan Ragasa pada akhir September memicu hujan deras di wilayah tengah, disusul Topan Bualoi yang menerjang pesisir, serta Topan Matmo yang menimbulkan banjir besar di bagian utara negara itu.
Kombinasi dari tiga badai tersebut telah menewaskan atau membuat lebih dari 85 orang hilang dalam dua minggu terakhir, dengan total kerugian ekonomi diperkirakan mencapai sekitar US$1,36 miliar.
Baca juga: Kenaikan Harga Teh Dunia jadi Berkah untuk Petani

[…] Vietnam Dilanda Banjir dan Longsor, 40 Orang Tewas dan Topan Baru Mengancam […]