1.028 Perusahaan Jepang Bangkrut pada Juli 2026
Sebanyak 1.028 perusahaan di Jepang dinyatakan bangkrut sepanjang Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Melansir Japan Today, Selasa (18/8/2026), angka kebangkrutan tersebut menjadi yang kedua kalinya secara berturut-turut mencapai lebih dari 1.000 perusahaan dalam satu bulan.
Kondisi tersebut terjadi ketika pelaku usaha, terutama perusahaan kecil, menghadapi tekanan akibat kekurangan tenaga kerja dan kenaikan berbagai biaya.
Baca Juga: Semua Merchant Gratis Mulai Oktober, MDR QRIS 0 Persen Diperluas
Pada Juli 2026, jumlah kebangkrutan yang disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja mencapai rekor 63 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 36 kasus dipicu kenaikan biaya tenaga kerja yang bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kenaikan gaji tidak dapat dihindari untuk mengamankan pekerja, tetapi perusahaan memperburuk arus kas mereka dengan menaikkan upah di luar kemampuan mereka ketika mereka tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup,” kata seorang pejabat dari perusahaan riset kredit korporasi Teikoku Databank Ltd.
Selain persoalan tenaga kerja, kenaikan harga juga menjadi faktor yang semakin menekan kondisi keuangan perusahaan Jepang. Kebangkrutan yang dipicu kenaikan harga tercatat mencapai 93 kasus pada Juli.
Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2022. Kenaikan harga tersebut sebagian besar dikaitkan dengan dampak pelemahan nilai tukar yen yang meningkatkan biaya berbagai kebutuhan usaha.
Kondisi semakin berat setelah Zentoshin, perusahaan penyedia sistem transaksi kartu kredit yang berbasis di Osaka, mengajukan kebangkrutan.
Kebangkrutan perusahaan tersebut berdampak terhadap sejumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama restoran dan toko ritel kecil yang mengandalkan layanan pembayaran dari Zentoshin.
Pasalnya, sejumlah pelaku usaha memiliki ruang arus kas yang terbatas dan bergantung pada pencairan dana dalam waktu cepat untuk menjaga operasional bisnis.
“Perusahaan tersebut, yang terutama menyediakan layanan penyelesaian cepat penjualan kartu kredit untuk restoran dan pedagang lainnya, mengajukan permohonan kebangkrutan pada bulan Juli dengan kewajiban sebesar 115,16 miliar yen, menjadikannya kemungkinan kebangkrutan terbesar di negara itu sejauh tahun ini,” terang Teikoku Databank.
Baca Juga: Jalur Kereta ke India Dijajaki Rusia lewat Iran-Pakistan
Dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang bangkrut, total kewajiban yang tercatat sepanjang Juli 2026 juga melonjak.
Total kewajiban perusahaan yang bangkrut mencapai 236,3 miliar yen atau sekitar Rp 26,22 triliun dengan asumsi kurs Rp 111 per yen. Nilai tersebut meningkat 41,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kondisi ini menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap dunia usaha Jepang, terutama perusahaan kecil yang harus menghadapi kenaikan biaya operasional sekaligus kebutuhan untuk meningkatkan upah demi mempertahankan tenaga kerja.
