10 Negara dengan Cadangan Uranium Terbesar, Ada Tetangga Indonesia
Uranium merupakan salah satu sumber daya strategis dalam industri energi nuklir. Namun, persebaran sumber daya uranium di dunia tidak merata. Sejumlah negara menguasai sebagian besar uranium yang secara teknis dan ekonomis dapat diekstraksi, sementara negara dengan kebutuhan tenaga nuklir tinggi masih bergantung pada impor.
Dalam kajian mengenai uranium, istilah “cadangan” perlu dipahami secara lebih spesifik. Badan Energi Nuklir OECD bersama Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengelompokkan sumber daya uranium berdasarkan tingkat kepastian geologis dan biaya ekstraksinya.
Daftar berikut menggunakan kategori sumber daya uranium yang telah teridentifikasi dan dapat diekstraksi dengan biaya kurang dari US$130 per kilogram uranium. Datanya mengacu pada Uranium 2024 Red Book, yang terutama menggunakan data sumber daya per 1 Januari 2023.
Jika digabungkan, 10 negara berikut menguasai hampir 90 persen sumber daya uranium dunia dalam kategori biaya tersebut.
1. Australia
Australia menjadi negara dengan sumber daya uranium terbesar di dunia. Berdasarkan kategori tersebut, negara ini memiliki sekitar 1,67 juta ton uranium yang dapat dipulihkan dengan biaya kurang dari US$130 per kilogram.
Baca Juga : Iran Ancam Stop Ekspor Minyak, AS Siapkan Sanksi Berat
Salah satu sumber utamanya adalah Olympic Dam di Australia Selatan. Deposit ini merupakan badan bijih polimetalik yang tidak hanya mengandung uranium, tetapi juga tembaga, emas, dan perak. Karena itu, keekonomian pertambangannya turut dipengaruhi oleh harga dan produksi komoditas lainnya.
Australia juga memiliki sejumlah deposit besar seperti Jabiluka di Northern Territory, Honeymoon di Australia Selatan, dan Yeelirrie di Australia Barat. Ranger juga pernah menjadi salah satu tambang uranium penting di negara tersebut.
Meski memiliki sumber daya melimpah, Australia tidak otomatis menjadi produsen terbesar. Kebijakan pemerintah negara bagian, proses perizinan lingkungan, hak masyarakat adat, biaya proyek, serta keputusan pengembangan tambang turut menentukan tingkat produksi.
Australia juga tidak mempunyai pembangkit listrik tenaga nuklir komersial sehingga sebagian besar industri uraniumnya berorientasi pada pasar ekspor.
2. Kazakhstan
Kazakhstan menempati posisi kedua dengan sekitar 814.000 ton sumber daya uranium yang dapat dipulihkan dengan biaya kurang dari US$130 per kilogram.
Negara ini juga dikenal sebagai salah satu produsen uranium terbesar di dunia. Sebagian besar deposit uranium Kazakhstan berada di cekungan Chu-Sarysu dan Syr Darya.
Karakteristik endapan berupa lapisan batu pasir yang permeabel memungkinkan penggunaan metode in-situ recovery (ISR). Dengan metode ini, larutan pelarut dialirkan melalui formasi batuan untuk melarutkan uranium. Cairan yang mengandung uranium kemudian dipompa kembali ke permukaan untuk diproses.
Metode tersebut memungkinkan uranium diekstraksi tanpa harus melakukan penggalian besar seperti pada tambang terbuka.
Perusahaan uranium milik negara, Kazatomprom, menjadi pemain utama dalam industri tersebut. Perusahaan ini mengoperasikan maupun memiliki kepentingan di berbagai proyek melalui kemitraan dengan perusahaan nuklir internasional.
Kombinasi sumber daya besar, karakteristik geologi yang mendukung ISR, infrastruktur pertambangan, dan jaringan ekspor membuat Kazakhstan memiliki posisi penting dalam rantai pasok uranium global.
3. Kanada
Kanada memiliki sekitar 582.000 ton sumber daya uranium yang dapat dipulihkan. Keunggulan negara ini bukan hanya pada jumlahnya, tetapi juga kualitas bijih uranium yang dimilikinya.
Cekungan Athabasca di Saskatchewan menjadi pusat industri uranium Kanada. Wilayah tersebut menjadi lokasi sejumlah deposit uranium berkadar sangat tinggi, termasuk Cigar Lake dan McArthur River.
Kadar uranium yang tinggi memungkinkan produsen memperoleh uranium dalam jumlah besar dari volume batuan yang relatif lebih sedikit. Namun, kegiatan pertambangan di Athabasca juga menghadirkan tantangan teknis, seperti pengendalian air tanah, perlindungan radiasi, dan kegiatan pertambangan bawah tanah.
Cameco menjadi salah satu perusahaan utama dalam industri uranium Kanada dan mengembangkan berbagai teknologi untuk menghadapi karakteristik deposit tersebut.
Kanada juga memiliki keunggulan lain karena mempunyai industri nuklir domestik yang cukup besar dengan reaktor CANDU. Pengalaman panjang dalam pertambangan, pemrosesan uranium, regulasi, hingga produksi bahan bakar nuklir memperkuat posisi Kanada sebagai pemasok global.
4. Namibia
Namibia memiliki hampir 498.000 ton sumber daya uranium yang dapat dipulihkan dan menjadi salah satu negara penghasil uranium utama di Afrika.
Sebagian besar aktivitas pertambangan uranium terkonsentrasi di wilayah Erongo, dekat Swakopmund, di kawasan Gurun Namib yang dikenal sangat kering.
Rössing menjadi salah satu tambang uranium terbuka yang telah beroperasi sejak 1970-an. Sementara itu, Husab kemudian berkembang menjadi salah satu operasi uranium modern berskala besar.
Ada pula Langer Heinrich yang memiliki karakteristik berbeda. Uranium di tambang tersebut berada dalam formasi calcrete, berbeda dari sistem mineralisasi yang terdapat di Rössing dan Husab.
Kondisi gurun yang ekstrem membuat ketersediaan air dan listrik menjadi faktor penting dalam operasional pertambangan.
Namibia sendiri belum mempunyai pembangkit listrik tenaga nuklir komersial. Karena itu, uranium yang diproduksi terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar bahan bakar nuklir internasional.
5. Rusia
Rusia berada di peringkat kelima dengan sekitar 477.000 ton sumber daya uranium yang teridentifikasi dan dapat diekstraksi secara ekonomis dalam kategori biaya tersebut.
Sumber daya uranium Rusia tersebar di berbagai wilayah. Salah satu kawasan terpenting berada di Trans-Baikal, Siberia timur, dengan kompleks Priargunsky di dekat Krasnokamensk sebagai salah satu pusat produksi uranium bawah tanah.
Deposit uranium lainnya terdapat di Buryatia dan beberapa wilayah yang memiliki karakteristik geologi yang memungkinkan penggunaan metode pemulihan di tempat.
Namun, pengaruh Rusia dalam industri nuklir jauh lebih besar daripada sekadar jumlah produksi uraniumnya. Rosatom dan berbagai anak perusahaannya memiliki peran dalam banyak tahapan siklus bahan bakar nuklir, mulai dari konversi dan pengayaan uranium hingga fabrikasi bahan bakar dan pembangunan reaktor.
Dengan demikian, sumber daya uranium domestik Rusia menjadi bagian dari ekosistem industri nuklir yang luas, termasuk untuk mendukung ekspor teknologi dan layanan nuklir.
6. Niger
Niger memiliki sekitar 336.000 ton sumber daya uranium yang dapat dipulihkan dengan biaya kurang dari US$130 per kilogram.
Industri uranium negara ini selama puluhan tahun berpusat di kawasan gurun sekitar Arlit. Produksi uranium di wilayah tersebut telah berlangsung sejak 1970-an.
Somair secara historis menjadi salah satu operasi utama, sedangkan Imouraren merupakan proyek dengan sumber daya besar yang berpotensi meningkatkan produksi Niger apabila dikembangkan.
Sebagian besar uranium Niger terdapat pada formasi batu pasir dan secara umum ditambang menggunakan metode tambang terbuka.
Namun, industri uranium Niger menghadapi perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah mencabut izin Orano untuk proyek Imouraren pada 2024 dan menasionalisasi usaha patungan Somair pada 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa besarnya sumber daya mineral tidak selalu menjamin produksi yang stabil. Faktor politik, keamanan, infrastruktur, pendanaan, hak pertambangan, dan akses pasar turut menentukan apakah sumber daya tersebut dapat dikembangkan secara komersial.
7. Afrika Selatan
Afrika Selatan mempunyai sekitar 321.000 ton sumber daya uranium yang dapat dipulihkan dalam kategori biaya tersebut.
Industri uranium negara ini memiliki keterkaitan erat dengan pertambangan emas. Sebagian besar uranium ditemukan bersama mineralisasi emas di Cekungan Witwatersrand.
Karena uranium dapat diperoleh sebagai produk sampingan, keekonomian produksinya sangat dipengaruhi oleh aktivitas dan harga komoditas emas.
Selain dari kegiatan pertambangan aktif, sejumlah material tailing hasil pertambangan lama juga mengandung uranium dan telah menjadi objek evaluasi untuk kemungkinan pengolahan kembali.
Afrika Selatan pernah menjadi produsen uranium penting pada abad ke-20. Namun, produksinya kini relatif kecil jika dibandingkan dengan total sumber daya yang dimiliki.
Negara ini juga memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir Koeberg di dekat Cape Town. Keberadaan reaktor tersebut membuat Afrika Selatan tetap memiliki kebutuhan terhadap bahan bakar nuklir.
8. China
China berada di urutan kedelapan dengan sekitar 271.000 ton sumber daya uranium yang dapat diekstraksi.
Deposit uranium China tersebar di berbagai wilayah dengan karakteristik geologi yang beragam. Beberapa deposit batu pasir di wilayah utara dan barat laut dinilai cocok untuk metode in-situ recovery, sementara deposit lainnya berkaitan dengan formasi vulkanik dan granit.
Meskipun terus meningkatkan eksplorasi dan produksi domestik, kebutuhan uranium China diperkirakan tetap tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah reaktor nuklir.
Karena itu, China tidak hanya mengandalkan sumber daya dalam negeri. Perusahaan-perusahaan nuklir milik negara juga membangun strategi pasokan melalui kontrak impor jangka panjang, cadangan strategis, dan investasi di proyek uranium luar negeri, terutama di Asia Tengah dan Afrika.
Di saat yang sama, China terus memperluas kemampuan dalam konversi, pengayaan, fabrikasi bahan bakar, hingga pembangunan reaktor.
Dengan demikian, kekuatan China dalam industri nuklir tidak hanya ditentukan oleh jumlah uranium yang tersimpan di dalam negeri, tetapi juga kemampuannya menguasai berbagai tahapan siklus bahan bakar nuklir.
9. Brasil
Brasil memiliki sekitar 168.000 ton sumber daya uranium yang dapat dipulihkan dan menjadi negara dengan basis sumber daya uranium terbesar di Amerika Selatan dalam kategori tersebut.
Salah satu kawasan penting berada di Caetité, Bahia, yang merupakan bagian dari Provinsi Uranium Lagoa Real.
Deposit lainnya terdapat di Santa Quitéria, Ceará. Wilayah ini menarik karena uranium ditemukan bersamaan dengan fosfat. Kondisi tersebut membuka kemungkinan pengembangan uranium yang terintegrasi dengan produksi bahan fosfat untuk pupuk.
Brasil juga mempunyai posisi unik karena tidak hanya memiliki sumber daya uranium, tetapi juga mengembangkan sejumlah tahapan siklus bahan bakar nuklir di dalam negeri.
Negara tersebut memiliki aktivitas pertambangan uranium, fasilitas pengayaan dan fabrikasi bahan bakar nuklir, serta pembangkit listrik tenaga nuklir Angra.
Meski demikian, produksi uranium Brasil masih berlangsung secara terbatas dan belum mencerminkan besarnya sumber daya yang dimiliki. Perizinan lingkungan, pembiayaan, penerimaan masyarakat, serta keekonomian proyek menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pengembangan produksi.
10. Mongolia
Mongolia menempati peringkat ke-10 dengan sekitar 145.000 ton sumber daya uranium yang dapat dipulihkan.
Negara ini tidak memiliki produksi uranium komersial sejak pertengahan 1990-an. Namun, sejumlah proyek baru berpotensi mengubah kondisi tersebut.
Salah satu prospek utama berada di Provinsi Dornogovi, Mongolia tenggara, terutama Zuuvch Ovoo dan Dulaan Uul.
Deposit uranium di kawasan tersebut terdapat dalam formasi batu pasir dan cocok untuk metode in-situ recovery. Metode ini memungkinkan uranium diekstraksi melalui sumur tanpa harus menggali lapisan penutup dalam jumlah besar.
Baca Juga : Presiden Iran Minta Perang Diakhiri, Ekonomi Teheran Tertekan?
Mongolia sebenarnya telah memiliki industri pertambangan besar yang ditopang komoditas seperti tembaga, batu bara, dan emas. Namun, pengembangan uranium berjalan lebih lambat akibat berbagai faktor, termasuk perubahan regulasi, kebutuhan investasi, kekhawatiran publik, dan ketergantungan terhadap keahlian teknis dari luar negeri.
Proyek Zuuvch Ovoo menjadi salah satu proyek yang paling diperhatikan. Proyek tersebut dikelola Badrakh Energy, perusahaan patungan antara perusahaan nuklir Prancis Orano dan pemerintah Mongolia.
Kesepakatan investasi proyek ditandatangani pada Januari 2025, sementara konstruksi dimulai pada Juni 2026. Produksi komersial ditargetkan mulai menjelang akhir dekade ini.
Jika berhasil dikembangkan, Mongolia berpotensi menjadi pemasok uranium baru di kawasan Asia yang saat ini memiliki peran penting dalam rantai pasok bahan bakar nuklir global.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan sumber daya uranium dalam jumlah besar tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat produksi.
Australia, misalnya, mempunyai sumber daya uranium terbesar tetapi tidak memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir komersial. Sebaliknya, Kazakhstan mampu mengubah sumber daya yang dimilikinya menjadi produksi berskala besar berkat kondisi geologi dan penggunaan teknologi ISR.
Sementara itu, negara seperti China dan Rusia memiliki strategi yang lebih luas dengan menguasai berbagai tahapan dalam rantai pasok nuklir.
