Iran Izinkan Tanker Irak Lewat Selat Hormuz, Ada Apa?
Pemerintah Iran memberikan izin khusus kepada sejumlah kapal tanker minyak asal Irak untuk melintasi Selat Hormuz. Kebijakan tersebut diambil setelah Baghdad berulang kali mengajukan permohonan melalui jalur diplomatik untuk mendapatkan akses pelayaran di jalur strategis tersebut.
Mengutip kantor berita IRNA, kesepakatan mengenai akses kapal tanker Irak tercapai setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melakukan kunjungan ke Baghdad pada pekan ini. Akses pelayaran menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
Presiden Irak Nizar Amidi juga mengonfirmasi bahwa beberapa kapal pengangkut minyak negaranya telah memperoleh izin dari otoritas Iran untuk melewati Selat Hormuz.
Baca Juga : Netanyahu Sebut Iran Pernah Coba Bunuh Putranya
Amidi menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi kebijakan Baghdad Dialogue pada Sabtu (22/8/2026). Ia menegaskan bahwa Irak berupaya mempertahankan posisi netral di tengah konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Baghdad juga berkomitmen memastikan wilayahnya tidak digunakan sebagai pangkalan maupun titik peluncuran serangan terhadap negara lain.
“Semua orang berkeinginan untuk mencegah Irak terseret ke dalam perang yang sedang berlangsung di kawasan ini,” ujar Amidi, dikutip dari Al Jazeera.
“Penutupan Selat Hormuz memengaruhi seluruh dunia, bukan hanya Irak, dan Baghdad tetap menjalin dialog intensif dengan Iran mengenai masalah kompleks ini,” sambungnya.
“Hadiah” Iran untuk Sikap Irak terhadap AS
Keputusan Teheran memberikan akses khusus kepada kapal tanker Irak dinilai tidak terlepas dari hubungan politik Baghdad dengan Amerika Serikat (AS).
Profesor Universitas Ilmu Terapan Teheran Mostafa Khoshcheshm menilai Iran kemungkinan melihat Irak sebagai negara yang memiliki posisi berbeda dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.
Menurutnya, Teheran berupaya memberikan tekanan kepada negara-negara Teluk yang mengizinkan militer AS menggunakan pangkalan mereka untuk menjalankan operasi terhadap Iran. Sementara itu, Irak dipandang sebagai negara yang lebih bersahabat dengan Teheran.
“Iran telah meminta negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama dan menghentikan AS dari menggunakan wilayah mereka,” jelas Khoshcheshm.
Dengan demikian, pemberian akses kepada tanker Irak dapat dilihat sebagai bentuk perlakuan khusus terhadap negara yang dinilai tidak memberikan dukungan serupa kepada operasi militer AS.
Irak Terpukul Dampak Penutupan Selat Hormuz
Irak menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran di jalur tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum perang, sementara kapal-kapal yang melintas juga menghadapi risiko serangan.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi Irak karena sektor minyak merupakan salah satu sumber utama pendapatan negara.
Baca Juga : Perang Memanas, Putin Ancam Ukraina Sektor Ekonomi Jadi Target
Sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah, Irak tercatat memproduksi sekitar 4 juta barel minyak setiap hari. Gangguan terhadap jalur pelayaran kemudian mendorong Baghdad mencari jalur alternatif untuk menjaga kegiatan ekspornya.
Pemerintah Irak kini berupaya meningkatkan pengiriman minyak melalui Pelabuhan Ceyhan di Turkiye. Selain itu, Baghdad mulai memanfaatkan Pelabuhan Baniyas di Suriah dan Pelabuhan Aqaba di Yordania sebagai alternatif jalur ekspor.
Pemberian izin khusus oleh Iran setidaknya memberikan ruang bagi Irak untuk mempertahankan sebagian aktivitas perdagangan minyaknya melalui jalur laut strategis tersebut.
Namun, kebijakan itu juga menunjukkan betapa pentingnya Selat Hormuz dalam konflik yang tengah berlangsung. Gangguan terhadap jalur tersebut tidak hanya berdampak terhadap Iran dan negara-negara di sekitarnya, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan energi serta perdagangan minyak global.
