5 Poin Penting Rapat Board of Peace: Prabowo Banjir Pujian Hingga Israel Disorot
Gelombang baru diplomasi perdamaian dunia mulai terlihat ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi membuka pertemuan perdana Board of Peace (BoP) di Institute Perdamaian AS, Kamis (19/2/2026). Forum tersebut menjadi langkah awal pemerintahan Trump dalam merancang arsitektur keamanan baru, khususnya untuk merespons konflik yang melanda Timur Tengah dalam dua tahun terakhir.
Presiden RI, Prabowo Subianto, hadir sebagai salah satu tokoh sentral dalam forum itu. Kehadiran Prabowo dinilai mempertegas posisi Indonesia sebagai jembatan stabilitas global di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Suasana pertemuan dipenuhi optimisme, meski tantangan implementasi di lapangan, mulai dari pendanaan hingga pengerahan pasukan penjaga perdamaian, masih menjadi pekerjaan besar. Berikut lima fakta utama dari pertemuan perdana Board of Peace tersebut:
Baca Juga: Prabowo Pamer Program MBG di AS, Sebut Dorong Ekonomi RI
1. Komitmen Pendanaan Masif untuk Rekonstruksi
Pertemuan ini menghasilkan komitmen finansial besar untuk pemulihan Jalur Gaza yang hancur akibat konflik. Sembilan negara anggota, di antaranya Kazakhstan, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar, menjanjikan dana awal sebesar 7 miliar dollar AS atau sekitar Rp117,6 triliun untuk rekonstruksi.
Presiden Trump menegaskan, dana tersebut bukan sekadar bantuan kemanusiaan, melainkan bagian dari strategi politik menciptakan stabilitas jangka panjang.
“Setiap dolar yang dibelanjakan adalah investasi dalam stabilitas dan harapan akan wilayah yang baru dan harmonis,” ujar Trump.
“Board of Peace menunjukkan bagaimana masa depan yang lebih baik dapat dibangun tepat di ruangan ini,” lanjut dia.
Amerika Serikat turut menjanjikan kontribusi 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp168 triliun. Meski demikian, kebutuhan total untuk membangun kembali wilayah Palestina diperkirakan mencapai 70 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.176 triliun.
Baca Juga: SInyal IPO BUMN Kembali Mencuat setelah 2 Tahun Absen
2. Pembentukan International Stabilization Force (ISF)
Selanjutnya, salah satu keputusan penting dalam forum tersebut adalah pembentukan International Stabilization Force (ISF). Pasukan ini direncanakan dipimpin seorang Jenderal AS dengan Wakil Komandan dari Indonesia.
ISF akan memulai operasi di Rafah dengan mandat melatih kepolisian baru serta memastikan gencatan senjata berjalan permanen. Indonesia bersama Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania menyatakan kesiapan mengirimkan personel militer.
Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia dalam misi ini.
“Indonesia akan berkontribusi hingga 8.000 tentara untuk pasukan yang diusulkan guna membuat perdamaian ini berhasil,” tegas Prabowo.
Target misi tersebut adalah membentuk 12.000 personel polisi dan menyiagakan total 20.000 tentara penjaga perdamaian. Mesir dan Yordania juga menyatakan siap memberikan pelatihan teknis bagi aparat kepolisian Palestina.
3. Posisi Israel dan Tuntutan Demiliterisasi
Lalu, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, menyampaikan dukungan terhadap rencana Trump dengan catatan tegas mengenai keamanan nasional Israel.
Ia menekankan bahwa perdamaian hanya dapat terwujud jika demiliterisasi Jalur Gaza dilakukan sepenuhnya.
“Hamas harus dilucuti senjatanya. Itu mencakup semua senjatanya; infrastruktur terornya, jaringan terowongan bawah tanah, dan fasilitas produksi senjata semuanya harus dibongkar,” kata Gideon Sa’ar.
Israel juga mendorong proses deradikalisasi fundamental, termasuk memastikan institusi pendidikan dan keagamaan tidak lagi menjadi ruang indoktrinasi kebencian.
4. Respons Hamas dan Syarat Gencatan Senjata
Di sisi lain, Hamas merespons hasil pertemuan dengan sikap hati-hati. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan efektivitas Board of Peace tidak diukur dari pernyataan politik, melainkan dari tindakan konkret di lapangan.
“Pengalaman beberapa bulan terakhir sejak gencatan senjata mulai berlaku menegaskan bahwa pendudukan (Israel) mengabaikan posisi seperti itu selama tidak disertai dengan tekanan nyata,” ujar Hazem Qassem.
Hamas menilai pasukan internasional seharusnya berfungsi sebagai pemantau untuk mencegah agresi, bukan hanya alat pelucutan senjata.
Terkait isu persenjataan, mereka belum menyatakan komitmen langsung dan menekankan bahwa prioritas saat ini adalah bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi.
Baca Juga: AS Ultimatum Iran usai Negosiasi: Perang Makin Sulit DIhindari
5. Prabowo Banjir Pujian dari Donald Trump.
Dalam forum tersebut, Trump pun secara terbuka melontarkan pujian kepada Prabowo di hadapan para pemimpin dunia.
Ia menyebut Prabowo sebagai pemimpin tangguh dan cerdas yang memimpin negara besar dengan populasi ratusan juta jiwa.
“Lihat betapa tangguhnya dia (Prabowo). Menurutmu mudah berurusan dengannya? Lihat wajah itu, kamu memang tangguh. Dia tangguh dan cerdas. Dan, kecerdasan lebih penting,” puji Trump.
Pujian tersebut dinilai mencerminkan pengakuan Amerika Serikat terhadap peran strategis Indonesia dalam upaya menjaga stabilitas kawasan serta keterlibatan aktif dalam inisiatif perdamaian global.
