Di Balik Layar, Trump Bantu Iran Cegah Ancaman Israel
Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengaktifkan jalur komunikasi diplomatik rahasia untuk menyampaikan peringatan kepada pejabat tinggi Iran terkait dugaan ancaman terhadap dua tokoh penting dalam proses negosiasi.
Laporan tersebut pertama kali dimuat The New York Times dan kemudian dikutip kembali oleh Times of Israel pada Minggu (5/7/2026).
Peringatan itu disebut ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Baca Juga: Vietnam dan FIlipina Dtetapkan Bank Dunia Naik ke Kelas Menengah Atas
Langkah tersebut diambil setelah muncul informasi intelijen mengenai dugaan rencana operasi yang dapat mengancam keselamatan kedua tokoh tersebut di tengah upaya menjaga proses rekonsiliasi yang sedang berlangsung.
Menurut laporan itu, kekhawatiran muncul beberapa pekan setelah tercapainya kesepakatan damai sementara pada 8 April yang dinilai membantu meredakan ketegangan antara Iran dan koalisi AS-Israel.
“Washington khawatir jika Israel benar-benar menghabisi Araghchi dan Ghalibaf, seluruh proses meja perundingan yang sedang berjalan akan hancur berantakan dan memicu pertempuran bersenjata baru yang jauh lebih masif,” ujar seorang sumber.
Dugaan Ancaman terhadap Ghalibaf
Laporan tersebut juga menyebut Ghalibaf sempat menghadapi situasi darurat saat melakukan perjalanan pulang dari Islamabad, Pakistan, setelah menjalani serangkaian pertemuan diplomatik.
Pesawat yang ditumpanginya dilaporkan melakukan pendaratan darurat di Mashhad, wilayah timur laut Iran.
Menurut laporan yang sama, aparat keamanan Iran mendeteksi keberadaan dua jet tempur Israel yang diduga memasuki wilayah udara Iran melalui rute Irak.
Situasi itu membuat Ghalibaf dan rombongan harus dievakuasi dan melanjutkan perjalanan menuju Teheran melalui jalur darat selama sekitar delapan jam.
Baca Juga: Mulai Agustus 2026, PBB Terancam Kehabisan Dana Tunai
AS dan Pakistan Disebut Lakukan Upaya Diplomatik
Untuk menyampaikan peringatan kepada Teheran, pemerintah AS disebut meminta bantuan sejumlah negara mitra di Timur Tengah.
Langkah tersebut dilakukan karena Washington menilai keselamatan para tokoh negosiasi memiliki peran penting dalam menjaga peluang tercapainya kesepakatan damai.
Laporan itu juga menyebut Pakistan sebelumnya telah melakukan pendekatan diplomatik kepada AS agar menekan Israel untuk tidak menjadikan Araghchi dan Ghalibaf sebagai target.
Karena alasan keamanan, delegasi Iran bahkan dikabarkan meminta jaminan keselamatan tambahan saat melakukan kunjungan ke Islamabad.
“AS meminta Israel untuk mundur,” ungkap seorang pejabat Pakistan kepada Reuters.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa Islamabad telah memperingatkan Washington bahwa kematian kedua tokoh tersebut berpotensi menghilangkan peluang dialog lebih lanjut mengenai gencatan senjata.
Menurut laporan tersebut, para pihak menilai keberadaan figur-figur yang terlibat dalam proses negosiasi tetap menjadi faktor penting untuk menjaga komunikasi dan mencegah meningkatnya kembali ketegangan di kawasan.
