Serangan AS di Iran Tewaskan Balita, Teheran Luncurkan Balasan
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain setelah serangan udara AS menghantam kawasan permukiman di Pulau Qeshm, Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan seorang anak berusia dua tahun.
Peristiwa itu memicu kecaman dari pemerintah Iran dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan serangan udara AS merusak sejumlah rumah warga di Pulau Qeshm. Korban tewas diidentifikasi sebagai sopir taksi bernama Qeysar Jafari, istrinya Zahra Jafari, serta anak mereka yang masih balita.
“Dengan setiap ledakan, dengan setiap kejahatan, dengan setiap sanksi, dengan setiap ancaman, dengan pembunuhan setiap anak, Anda membuat rakyat Iran semakin bertekad dan bersatu dalam membela tanah air mereka,” tegas Baghaei, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (30/7/2026).
Baca Juga: Rp 2,170 Triliun Disiapkan Pentagon untuk Rudal dan Kapal Selam
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengecam serangan tersebut. Ia menuding AS terus menargetkan warga sipil dan menegaskan Iran akan memberikan balasan.
“Mereka telah terbiasa menutupi tamparan yang mereka terima di medan perang dengan menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah. Mereka akan membayar harganya,” tulis Ghalibaf di platform X.
Sebagai respons, IRGC menyerang sejumlah fasilitas militer AS di Kuwait, Yordania, dan Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Pulau Kish, Bushehr, dan empat lokasi di Provinsi Khuzestan.
Selain itu, tiga anggota IRGC dilaporkan tewas akibat serangan terpisah AS di Provinsi Zanjan. Di Kuwait, seorang pekerja juga dilaporkan meninggal dunia setelah serangan Iran menghantam sebuah gedung milik perusahaan asal China.
Konflik Meluas, Kekhawatiran Krisis Energi Meningkat
Dampak konflik juga meluas ke Irak. Pemerintah Irak menyatakan tidak mengetahui rencana serangan udara gabungan AS dan Arab Saudi terhadap kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran di wilayahnya.
Juru Bicara Pemerintah Irak, Haider al-Aboudi, menegaskan Baghdad tidak pernah memberikan persetujuan atas operasi militer tersebut.
“Pemerintah tidak memiliki pengetahuan sebelumnya mengenai serangan di wilayah Irak,” ujar al-Aboudi.
Di sisi lain, Arab Saudi mengumumkan pembentukan koalisi pertahanan maritim yang beranggotakan 14 negara.
Koalisi itu dibentuk untuk mengamankan jalur pelayaran di Bab al-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden setelah meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal tanker.
Ketegangan juga muncul setelah dua kapal gas alam terbakar akibat serangan drone di Pelabuhan Damietta, Mesir.
Pemerintah Mesir membantah laporan yang menyebut Iran berada di balik serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menolak tuduhan tersebut. Ia menilai insiden itu merupakan bagian dari operasi bendera palsu.
“Mesir adalah teman dan mitra penting di kawasan ini, dan keamanannya adalah hal yang sangat penting bagi kami. Kita semua harus waspada terhadap konspirasi Israel dan operasi bendera palsu yang dirancang untuk merusak perdamaian kawasan,” tulis Araghchi di platform X.
Baca Juga: Trump Ungkap Pernyataan Lengkap tentang Kesepakatan Gaza
Sementara itu, terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan terganggu, sedangkan sejumlah kapal tanker mulai menghindari rute Bab al-Mandeb.
Mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Timur Dekat, Barbara Leaf, menilai konflik yang terus meningkat tidak lagi memberikan keuntungan strategis bagi kedua pihak.
“Kedua belah pihak telah mencapai titik di mana mereka dapat bereskalasi lebih jauh, namun tidak ada keuntungan strategis yang jelas bagi kedua belah pihak.
Pada titik ini, eskalasi sudah cukup tidak berguna, karena tidak memberikan kemenangan menentukan bagi pihak manapun selain memperpanjang penderitaan. Jadi inilah saatnya kedua belah pihak harus melakukan de-eskalasi,” ujar Leaf.
Di tengah situasi tersebut, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah dunia berpotensi menembus 120 dollar AS per barel pada kuartal keempat apabila gangguan pelayaran dan blokade di Selat Hormuz terus berlanjut.
