Trump Pilih Diplomasi dengan Iran, Serangan Ditunda
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menegaskan lebih memilih menyelesaikan konflik dengan Iran melalui jalur diplomasi daripada menggunakan kekuatan militer. Meski demikian, ia memastikan opsi serangan tetap tersedia apabila proses perundingan tidak menghasilkan kesepakatan.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri sebuah acara di Las Vegas pada Rabu (5/8/2026). Menurutnya, perang bukan menjadi pilihan utama pemerintahannya dalam menghadapi ketegangan dengan Teheran.
“Saya lebih memilih membuat kesepakatan [dengan Iran], karena saya tidak ingin membunuh orang,” ujar Trump.
Baca Juga : Indonesia-Thailand Targetkan Perdagangan US$20 Miliar pada 2030
Trump mengungkapkan pemerintahannya sempat menyiapkan operasi militer besar terhadap Iran. Bahkan, ia menyebut rencana tersebut akan menjadi serangan terbesar sejak Perang Dunia II.
Namun, operasi itu akhirnya ditunda, karena menurut Trump pejabat Iran meminta agar kedua negara membuka jalur dialog.
“Mereka menghubungi saya dan berkata, ‘Tolong jangan lakukan hal itu. Mari kita berbicara,'” kata Trump.
Meski demikian, Trump mengatakan Iran kini membantah pernah menyampaikan permintaan tersebut. Ia tetap menegaskan bahwa komunikasi antara kedua negara masih berlangsung.
“Sekarang mereka membantah pernah mengucapkan hal tersebut. Padahal, pihak fake news tahu bahwa mereka benar-benar mengatakannya. Namun saat ini kita sedang berbicara. Mari kita lihat perkembangannya, yang jelas mereka menghormati kami,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Menurutnya, isu pengembangan nuklir tetap menjadi batas yang tidak bisa ditawar dalam setiap proses negosiasi antara Washington dan Teheran.
Trump juga mengaitkan keberhasilan diplomasi dengan stabilitas pasar energi global. Ia meyakini harga minyak dunia dan bahan bakar akan menurun apabila konflik dengan Iran berhasil diselesaikan.
Baca Juga : Israel Tak Akan Keluar Gaza Sebelum Hamas Dilucuti
“Kita sudah berupaya menurunkan harga. Segera setelah situasi ini berakhir, harga minyak akan jatuh ke titik terendah, dan harga bensin pun akan ikut turun,” katanya.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni sebagai langkah awal menuju kesepakatan yang lebih komprehensif. Namun, proses negosiasi terhenti akibat perbedaan pandangan terkait jaminan keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Ketegangan kembali meningkat pada akhir Juli setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang sejumlah pangkalan dan fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
