Afrika Mulai Gunakan Yuan China, Kurangi Ketergantungan Dollar AS
Sejumlah negara di Afrika mulai memperluas penggunaan yuan China dalam perdagangan internasional. Langkah ini dilakukan di tengah upaya mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS.
Seperti dilaporkan South China Morning Post, Minggu (16/8/2026), sejumlah negara dan lembaga keuangan Afrika mulai terhubung dengan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) milik China.
CIPS merupakan sistem pembayaran lintas batas yang dikembangkan China. Sistem ini diposisikan sebagai salah satu alternatif terhadap Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT).
Langkah terbaru datang dari Libya. Setelah pertemuan Gubernur Bank Sentral Libya Naji Issa dengan Gubernur Bank Sentral China Pan Gongsheng di Beijing bulan lalu, sejumlah bank Libya dijadwalkan bergabung dengan CIPS.
Menurut kantor berita pemerintah Libya, keikutsertaan dalam CIPS memungkinkan pembayaran antarbank secara langsung menggunakan yuan.
Baca Juga: China dan Rusia Didekati FBI AS, Kerja Sama Lawan Kejahatan Global
Sistem tersebut diharapkan mempercepat transfer lintas negara. Selain itu, CIPS dapat menyederhanakan transaksi perdagangan dan meningkatkan arus perdagangan Libya dengan mitra internasional.
Libya juga berencana menerbitkan panda bond. Obligasi tersebut merupakan surat utang berdenominasi yuan yang diterbitkan entitas asing di pasar China.
Dana dari penerbitan obligasi itu dapat digunakan untuk membantu pembiayaan rekonstruksi Libya setelah negara tersebut mengalami konflik berkepanjangan.
Penggunaan Yuan Meluas di Afrika
Libya bukan satu-satunya negara Afrika yang mulai memperluas penggunaan yuan.
African Export-Import Bank dan Standard Bank dari Afrika Selatan telah lebih dulu terhubung dengan CIPS. Standard Bank merupakan salah satu bank terbesar di Afrika.
Sementara itu, Zambia sejak Januari 2026 mulai memungut pajak dan royalti dari perusahaan tambang China menggunakan yuan.
Di Angola, Banco de Fomento Angola juga tengah mempersiapkan diri menjadi bank pertama di negara tersebut yang bergabung dengan CIPS. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya permintaan penyelesaian transaksi secara langsung menggunakan yuan.
China juga telah menandatangani perjanjian pertukaran mata uang dengan sejumlah negara Afrika. Beberapa di antaranya adalah Nigeria dan Afrika Selatan.
Kenya bahkan telah mengonversi utang proyek kereta apinya ke yuan pada tahun lalu. Ethiopia dan Mozambik juga sedang membahas kemungkinan langkah serupa.
Meningkatnya penggunaan yuan tidak terlepas dari semakin eratnya hubungan ekonomi China dan Afrika.
China saat ini menjadi mitra dagang terbesar Afrika sekaligus salah satu penyandang dana utama proyek infrastruktur di benua tersebut.
Nilai perdagangan China-Afrika mencapai rekor 203,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.627 triliun pada paruh pertama 2026.
Baca Juga: Rencana Trump Ditolak Netanyahu,, AS-Israel Mulai Retak?
Beijing memperkirakan nilai perdagangan bilateral tersebut kembali mencetak rekor baru sepanjang tahun ini.
Lauren Johnston, pakar hubungan China-Afrika dari AustChina Institute, mengatakan penggunaan yuan dapat mempermudah perdagangan antara China dan negara-negara Afrika.
Menurut dia, penggunaan mata uang langsung antara kedua pihak dapat mengurangi kebutuhan menggunakan mata uang pihak ketiga seperti dollar AS atau euro.
Pengacara korporasi yang berbasis di Beijing, Kai Xue, mengatakan China secara bertahap berupaya membangun sistem pembayaran global berbasis yuan.
Menurut Xue, perluasan CIPS dan penggunaan yuan bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS dalam perdagangan internasional.
Langkah tersebut sekaligus membangun infrastruktur pembayaran alternatif.
Meski demikian, ia menilai sistem pembayaran berbasis yuan belum akan menggantikan dominasi dollar AS dalam waktu dekat.
Namun, sistem tersebut dapat menjadi alternatif bagi negara-negara Afrika dalam melakukan perdagangan dengan China dan negara-negara Global South.
