AS Bidik 5 Negara Penopang Ekonomi Iran, Ada RI?
Amerika Serikat (AS) mulai memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran melalui kampanye yang disebut sebagai “Economic D-Day”.
Langkah tersebut bertujuan mengisolasi Iran dari sistem ekonomi global dengan menargetkan pihak-pihak yang masih membantu transaksi perdagangan Teheran.
Pemerintahan Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara maupun perusahaan yang tetap melakukan aktivitas bisnis dengan Iran.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya Washington memutus jalur perdagangan yang selama hampir enam bulan membantu menopang ekonomi Iran di tengah konflik.
Meski rincian penerapan sanksi belum sepenuhnya diumumkan, langkah tersebut berpotensi menimbulkan tekanan terhadap sejumlah negara yang memiliki hubungan dagang besar dengan Iran.
Berikut lima negara yang berpotensi terdampak tekanan ekonomi AS:
1. China
China menjadi negara yang paling berpotensi terdampak karena merupakan salah satu mitra dagang terbesar Iran, terutama dalam sektor energi.
Menurut pemerintah AS, China menyerap sekitar 90 persen ekspor minyak Iran. Nilai perdagangan resmi kedua negara tercatat mencapai sekitar 9,96 miliar dollar AS atau sekitar Rp175,3 triliun pada 2025.
Namun, angka tersebut belum termasuk perdagangan minyak mentah yang tidak tercatat secara resmi. Berdasarkan data U.S.-China Economic and Security Review Commission, nilai ekspor minyak Iran yang tidak dilaporkan ke China mencapai sekitar 31,2 miliar dollar AS pada tahun yang sama.
Sebagian besar minyak tersebut diserap oleh kilang independen di China.
Menurut perusahaan analitik Kpler, minyak Iran juga sering dikirim dengan label ulang sebagai minyak dari negara lain, termasuk Malaysia atau Indonesia. Pembayaran dilakukan melalui jaringan perantara di luar sistem dolar AS.
Baca Juga: Kontrak F-15 Disetujui AS, Indonesia Masuk Daftar Pembeli
Meski AS telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah kilang China yang membeli minyak Iran, sektor keuangan China sejauh ini relatif belum banyak terkena dampak.
Beijing sendiri secara terbuka menentang sanksi AS terhadap Iran dan menilai tekanan ekonomi bukan solusi untuk menyelesaikan konflik.
Namun, Direktur China di Eurasia Group Dan Wang memperkirakan China tetap akan berhati-hati menghadapi Washington.
“China lebih peduli terhadap akses dolar untuk pembiayaan dan akses pasar di AS,” ujarnya.
Menurutnya, China kemungkinan tidak akan melakukan perlawanan terbuka, tetapi akan memperketat kepatuhan perusahaan dan bank miliknya terhadap aturan AS agar terhindar dari sanksi.
2. Uni Emirat Arab (UEA)
Uni Emirat Arab (UEA) menjadi salah satu pusat perdagangan penting bagi Iran karena letaknya yang dekat secara geografis.
Jarak kedua negara hanya sekitar 80 kilometer yang dipisahkan oleh Teluk Persia.
Nilai perdagangan bilateral Iran dan UEA mencapai sekitar 28 miliar dollar AS pada 2024. Pada tahun tersebut, UEA menjadi sumber impor terbesar Iran dengan kontribusi lebih dari 30 persen.
Selain itu, UEA juga menjadi tujuan ekspor terbesar ketiga Iran dengan nilai pengiriman mencapai lebih dari 7 miliar dollar AS.
Namun, hubungan perdagangan kedua negara mulai menghadapi tekanan setelah UEA bergerak untuk menangguhkan transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran usai serangan rudal balistik ke wilayahnya.
Selama ini, Iran diketahui menggunakan jaringan bank dan sistem keuangan UEA untuk mengakses pasar global melalui transaksi yang dinilai tidak transparan.
The Washington Institute menilai pemutusan akses tersebut membutuhkan langkah lebih tegas dari pemerintah UEA untuk memberantas aktivitas perdagangan ilegal.
3. Turki
Turki memiliki hubungan perdagangan yang cukup besar dengan Iran, terutama dalam sektor energi dan manufaktur.
Ankara mengimpor gas alam dari Iran, sementara Iran menerima berbagai produk manufaktur, mesin, suku cadang, hingga produk pertanian dari Turki.
Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri Turki, nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar 5,7 miliar dollar AS pada 2024.
Meski Turki berusaha mengurangi ketergantungan energi dengan meningkatkan impor dari Azerbaijan dan Rusia, Ankara hingga kini belum menunjukkan rencana untuk memutus hubungan ekonomi dengan Teheran.
4. Irak
Irak menjadi salah satu negara yang paling bergantung pada Iran, terutama untuk kebutuhan energi.
Iran memasok gas alam dan listrik yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik Irak.
Pada Maret 2024, kedua negara memperbarui kontrak pasokan gas selama lima tahun dengan kapasitas mencapai hampir 660 miliar kaki kubik per tahun.
Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), impor listrik dari Iran menyumbang lebih dari 30 persen pembangkitan listrik Irak pada 2023.
Selain energi, perdagangan kedua negara juga cukup besar. Nilai perdagangan Irak-Iran mencapai lebih dari 10 miliar dollar AS pada 2025.
Namun, sanksi baru AS berpotensi menyulitkan pembayaran Irak kepada Iran, terutama untuk kebutuhan energi.
Baca Juga: Drone Dekati Rumania di Tengah Perang, NATO Siaga!
5. India
India juga menjadi salah satu mitra dagang utama Iran meski nilai perdagangan kedua negara terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Departemen Perdagangan India, perdagangan bilateral India-Iran hanya mencapai sekitar 1,6 miliar dollar AS pada tahun yang berakhir Maret 2026.
Angka tersebut turun dibandingkan periode yang sama pada 2023 yang mencapai sekitar 2,3 miliar dollar AS.
India mengekspor berbagai produk seperti beras, teh, gula, dan obat-obatan ke Iran. Sementara itu, Iran memasok buah-buahan kering serta produk pertanian ke India.
Pada April 2026, India kembali melakukan impor minyak mentah dari Iran setelah terhenti selama tujuh tahun.
Namun, aktivitas tersebut kembali menghadapi risiko apabila AS benar-benar menjatuhkan sanksi terhadap negara maupun perusahaan yang membeli energi dari Iran.
Hingga kini, Indonesia tidak termasuk dalam daftar lima mitra dagang utama Iran yang menjadi sorotan dalam kebijakan tekanan ekonomi terbaru AS.

[…] AS Bidik 5 Negara Penopang Ekonomi Iran, Ada RI? […]