SKK Migas Temukan 2,57 Juta Barel Minyak Membeku di Tangki
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menemukan potensi stok minyak yang masih tersimpan di tangki dan dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak lifting nasional.
Temuan tersebut menjadi perhatian pemerintah di tengah target lifting minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan sebesar 610.000 barel per hari (bph).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 1,57 juta barel minyak yang siap diangkat. Di luar stok tersebut, masih ada sekitar 2,57 juta barel minyak yang sudah berada di permukaan tetapi tersimpan di dalam tangki.
Baca Juga : BGN Tunda Pembukaan Dapur Baru MBG, Fokus Benahi Ribuan SPPG
“Kita masih punya stok yang siap di lifting 1,57 juta barel, ada dead stock yang sudah kita angkat ke permukaan status hari ini sebetulnya 2,57 juta barel. Ini disimpan di tangki,” ujar Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (27/8/2026).
Djoko menjelaskan, 2,57 juta barel minyak tersebut belum dapat langsung dikirim untuk proses lifting. Pasalnya, karakteristik minyak yang cukup berat membuat sebagian stok membeku ketika berada di dalam tangki penyimpanan.
Karena itu, diperlukan proses pencairan terlebih dahulu agar minyak dapat dikeluarkan dari tangki dan kemudian diangkut.
Dari stok minyak yang telah tersedia, Djoko menyebut sebagian di antaranya sebenarnya sudah dibayarkan oleh PT Pertamina (Persero).
“Dari 1,57 juta barel yang sudah dibayar, itu 880 ribu barel atau 0,88 juta barel belum kita transfer tapi sudah dibayar oleh Pertamina,” jelasnya.
SKK Migas kini tengah mendorong proses pencairan stok minyak yang membeku tersebut. Djoko menargetkan kontrak untuk pekerjaan itu dapat ditandatangani pada Jumat.
Baca Juga : ESDM Belum Tetapkan Kendaraan yang Dilarang Pakai Pertalite
Jika proses pencairan berjalan sesuai rencana, stok minyak yang selama ini tertahan di tangki berpotensi memberikan tambahan produksi atau lifting sekitar 6.800 bph.
“Mudah-mudahan Jumat ini kita ada tanda tangan kontrak untuk mencairkan stok yang membeku di tangki itu bisa 6.800,” kata Djoko.
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah mengejar target lifting minyak nasional 2026, terutama ketika realisasi produksi minyak masih menghadapi sejumlah kendala operasional di beberapa wilayah kerja.
