Trump Klaim Misi Iran Selesai, Benarkah Perang Berakhir?
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan operasi militer negaranya di Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu (26/8/2026), ketika konflik Iran masih berlangsung dan sejumlah target yang sebelumnya dicanangkan Washington belum sepenuhnya tercapai.
Trump menyampaikan klaim kemenangan melalui unggahan di platform Truth Social. Ia membagikan gambar dirinya bersama mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dengan latar belakang serangan udara dan rudal AS. Dalam gambar tersebut tertulis “Mission Accomplished 2026”.
Trump juga menyertakan foto mantan Presiden AS George W Bush dengan tulisan “Mission not accomplished 2001-21”. Pernyataan itu merujuk pada deklarasi Bush mengenai berakhirnya misi di Irak pada 2003, yang pada kenyataannya diikuti oleh konflik berkepanjangan selama bertahun-tahun.
Klaim Kemenangan Trump Dipertanyakan
Pernyataan Trump mengenai berakhirnya misi di Iran mendapat sorotan karena perang belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar selesai. Sejumlah tujuan utama Washington juga dinilai masih belum terwujud.
Baca Juga : Tersisa 3 Negara Usai AS Cabut Sponsor Teror Suriah
Mengutip laporan South China Morning Post, Trump belum sepenuhnya berhasil memastikan program nuklir Iran berakhir secara permanen. Selain itu, upaya untuk mencegah Teheran menyerang negara-negara di kawasan serta menghentikan dukungannya terhadap kelompok proksi juga belum sepenuhnya tercapai.
Trump sebelumnya juga sempat mengisyaratkan keinginan mendorong perubahan rezim di Iran. Namun, setelah Ali Khamenei tewas, putranya, Mojtaba Khamenei, justru mengambil alih kekuasaan.
Pergantian kepemimpinan tersebut belum menunjukkan perubahan fundamental dalam pemerintahan Iran. Sebaliknya, pemerintahan baru disebut tetap mempertahankan sikap keras terhadap AS.
Demokrat Kritik Pernyataan “Mission Accomplished”
Klaim Trump langsung mendapat kritik dari kubu Demokrat. Senator Chuck Schumer dari New York menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan kondisi perang yang sebenarnya.
Schumer juga menuding Trump telah membawa AS ke dalam konflik tanpa perencanaan yang matang. Ia menyoroti berbagai dampak perang, termasuk meningkatnya harga bensin serta risiko yang harus dihadapi warga Amerika.
“Trump memulai perang tanpa rencana, tanpa misi, dan tanpa mengetahui konsekuensinya,” kata Schumer kepada Daily News, sebagaimana dikutip The Seattle Times.
Menurut Schumer, kebijakan tersebut justru membuat situasi global semakin berbahaya sekaligus meningkatkan beban ekonomi masyarakat AS. Konflik tersebut juga dinilai menambah risiko terhadap keselamatan personel dan warga Amerika.
Dukungan Publik terhadap Trump Menurun
Di tengah klaim kemenangan tersebut, tingkat dukungan masyarakat AS terhadap kebijakan Trump di Iran justru menunjukkan tekanan.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos, hanya sekitar 31 persen pemilih Amerika yang menyatakan puas terhadap cara Trump menangani konflik Iran.
Baca Juga : Bos CIA ke Rusia Diam-diam, Bawa Peringatan untuk Putin?
Penolakan juga datang dari sebagian pendukung Trump sendiri. Mereka menilai keterlibatan militer di Iran bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk mengurangi keterlibatan AS dalam konflik luar negeri.
Perang tersebut juga memberikan tekanan terhadap kondisi ekonomi Amerika, terutama setelah harga bensin mengalami kenaikan. Situasi ini berpotensi memengaruhi persepsi pemilih terhadap pemerintahan Trump.
Sejumlah ahli strategi Partai Republik bahkan menilai Trump seharusnya kembali memprioritaskan persoalan domestik yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kebijakan pajak dan kondisi ekonomi.
Tingkat kepuasan terhadap kinerja Trump secara keseluruhan juga disebut masih berada di bawah 40 persen. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memberikan dampak politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.
