Trump Bantah Amunisi AS Menipis di Tengah Konflik Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran telah menguras persediaan persenjataan Washington. Ia menilai bentrokan yang berlangsung selama lebih dari enam bulan tersebut bukan menjadi ancaman besar bagi kemampuan militer AS.
Pernyataan itu disampaikan Trump ketika ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat setelah kedua pihak saling melancarkan serangan.
“Ini perang yang relatif kecil bagi kami,” kata Trump kepada wartawan, Senin (31/8/2026). “Ini bukan perang besar.”
Trump juga menepis kritik yang menyebut operasi militer AS terhadap Iran telah menghabiskan stok amunisi. Menurutnya, Amerika Serikat masih memiliki persediaan senjata dalam jumlah besar.
“Kami memiliki jumlah yang sangat besar, jumlah yang tidak terbatas untuk amunisi kelas menengah dan yang lebih lama,” ujar Trump.
Ia menambahkan bahwa meski persediaan senjata tertentu perlu diperhatikan, AS masih memiliki kemampuan untuk memperoleh tambahan perlengkapan dari sumber lain.
“Kami hanya berbicara tentang apa yang kami sebut sebagai yang elite, perlengkapan elite — dan bahkan untuk itu kami berada dalam kondisi yang sangat baik, tetapi kami selalu bisa mengambilnya dari sumber lain,” katanya.
Baca Juga: Prabowo Jelaskan Indonesia Tolak Tawaran Pinjaman IMF
Bentrokan AS-Iran Kembali Memanas
Pernyataan Trump muncul setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi militer setelah jeda selama beberapa pekan.
Pasukan AS sebelumnya menyerang sebuah pulau di kawasan Selat Hormuz, sementara Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi yang terkait dengan kepentingan AS di Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania.
Trump sebelumnya mengatakan AS akan memberikan respons terhadap serangan Iran terhadap pasukan Amerika.
Ketegangan tersebut juga kembali menyoroti persoalan Selat Hormuz, jalur perdagangan energi penting dunia yang menjadi pusat perselisihan antara kedua negara.
Media Iran melaporkan bahwa otoritas Teheran menyita sebuah kapal curah di dekat Pelabuhan Bandar Abbas dan menyebut sebuah kapal tanker minyak terkena ranjau di kawasan tersebut.
Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah laporan tersebut. CENTCOM menyatakan tidak ada kapal yang terkena ranjau di Selat Hormuz.
Sebelumnya, CENTCOM menyebut pihaknya melakukan “tindakan terbatas dan presisi” terhadap pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) setelah mendeteksi adanya persiapan pemasangan ranjau di jalur pelayaran tersebut.
IRGC kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan udara AS di Yordania. Militer Yordania menyatakan berhasil mencegat delapan rudal sebelum menimbulkan kerusakan.
Sementara itu, Uni Emirat Arab juga melaporkan telah menangani sebuah drone yang berasal dari Iran di wilayah perairannya.
Meningkatnya ketegangan tersebut turut berdampak terhadap pasar energi. Harga minyak mentah Brent kembali naik dan ditutup di atas 90 dolar AS per barel, sementara harga gas alam Eropa juga mengalami peningkatan.
Baca Juga: Menkeu AS Desak Jepang Naikkan Suku Bunga, Kenapa?
Konflik Berlarut dan Tekanan Ekonomi AS ke Iran
Sejumlah pejabat AS dan Iran memperkirakan konflik kedua negara masih berpotensi berlangsung selama berbulan-bulan.
Kedua pihak saat ini berada dalam kondisi kebuntuan, sementara upaya diplomasi belum menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Penasihat senior kebijakan luar negeri Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, mengatakan situasi tanpa perang maupun perdamaian tidak dapat berlangsung terus-menerus.
“Situasi tanpa perang maupun perdamaian tidak dapat menjadi solusi yang berkelanjutan,” kata Gargash melalui akun X.
Menurutnya, diperlukan solusi politik yang mampu mengatasi persoalan ekonomi dan keamanan kawasan.
Sebelumnya, Trump mengalihkan strategi terhadap Iran dari operasi militer menjadi tekanan ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menjanjikan “serangan ekonomi besar-besaran” terhadap Iran dan negara yang masih melakukan perdagangan dengan Teheran.
China menjadi salah satu negara yang mendapat sorotan karena merupakan pembeli terbesar minyak Iran.
Namun, tekanan ekonomi tersebut sejauh ini belum berhasil membuat Iran menerima tuntutan Washington. Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei dan kelompok garis keras di pemerintahan Teheran masih menolak tekanan AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran tetap membuka peluang diplomasi dengan Washington, tetapi meminta AS menghentikan tekanan ekonomi.
“Tekanan tidak akan berhasil,” kata Araghchi setelah melakukan pembicaraan dengan Qatar sebagai mediator konflik.
Di sisi lain, Bessent menegaskan Washington masih akan meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui kebijakan sanksi.
“Ini akan menjadi kekerasan finansial jika memang diperlukan,” ujar Bessent.

[…] Trump Bantah Amunisi AS Menipis di Tengah Konflik Iran […]