AS Perpanjang Penempatan Pasukan di Timur Tengah hingga 2027
Amerika Serikat (AS) memperpanjang masa penempatan sejumlah pasukannya di Timur Tengah hingga 2027. Kebijakan tersebut menjadi sinyal bahwa konflik dengan Iran berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Menurut The Wall Street Journal, Selasa (2/9/2026), keputusan Pentagon itu berbeda dengan pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada awal perang. Saat itu, Hegseth menyebut operasi militer terhadap Iran akan berlangsung sangat cepat dan tidak berkepanjangan.
Sejumlah kapal perang beserta awaknya, unit pertahanan udara, hingga pasukan terjun payung kini diperintahkan untuk tetap berada di kawasan Timur Tengah lebih lama dari jadwal awal.
Langkah tersebut diambil ketika Presiden AS Donald Trump masih memberikan sinyal yang beragam mengenai arah konflik selanjutnya.
Baca Juga : PBB Kurangi Bantuan Pangan ke Palestina, Kenapa?
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump mendorong kampanye tekanan ekonomi dengan harapan Iran kembali ke meja perundingan. Namun, hingga kini Teheran belum menunjukkan indikasi akan menyerah terhadap tekanan tersebut.
Sekitar 50.000 Pasukan AS Masih Bertahan
AS dan Iran masih terlibat dalam aksi saling serang. Kedua negara juga terus berupaya mempertahankan pengaruh atas Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Di tengah konflik tersebut, Trump disebut secara pribadi telah berdiskusi dengan pejabat senior mengenai kemungkinan menyatakan perang terhadap Iran telah berakhir.
Namun, di sisi lain, Trump masih meyakini tekanan ekonomi terhadap Teheran dapat memaksa rezim Iran membongkar program nuklirnya atau bahkan mengalami keruntuhan.
“Saya sekarang jauh lebih menyukai posisi kita, dengan kendali hampir total atas Selat Hormuz dan ekonomi mereka yang benar-benar runtuh,” tulis Trump di media sosial.
Trump juga mempertanyakan kapan masyarakat Iran akan bangkit untuk menentang pemerintahan mereka.
Para penasihat Trump sebelumnya memperingatkan bahwa perluasan konflik di luar rangkaian serangan balasan yang terjadi belakangan dapat merugikan prospek Partai Republik dalam pemilihan sela November. Meski demikian, Trump mengatakan pertimbangan elektoral tidak memengaruhi keputusannya terkait perang.
Sambil menunggu apakah strateginya berhasil, militer AS tetap menempatkan sekitar 50.000 personel di kawasan Timur Tengah. Keberadaan pasukan dalam jumlah besar tersebut juga memberikan Trump ruang untuk menentukan langkah berikutnya.
Misi Militer AS Semakin Meluas
Pasukan AS saat ini menjalankan sejumlah misi, termasuk mencegat rudal Iran, melindungi kapal komersial yang melewati Selat Hormuz, serta memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.
Militer AS juga mempersiapkan opsi serangan ofensif berskala lebih besar apabila Trump memutuskan meningkatkan eskalasi konflik.
Pada bulan lalu, Trump mendapat pengarahan dari pejabat senior mengenai sejumlah opsi operasi militer baru. Pilihan tersebut antara lain meningkatkan serangan udara dan mengerahkan pasukan darat untuk merebut pulau-pulau Iran di sekitar Selat Hormuz.
Trump juga disebut mempertimbangkan serangan terhadap fasilitas berbenteng yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe. Fasilitas tersebut diduga dapat digunakan untuk aktivitas nuklir rahasia.
Operasi semacam itu akan membutuhkan pengerahan aset militer dalam jumlah besar.
Masa Penugasan Pasukan Diperpanjang
Seiring konflik yang terus berlanjut, Pentagon turut memperpanjang jadwal penempatan sejumlah unit militernya.
Baca Juga : Pabrik BYD Resmi Beroperasi, Pemerintah Soroti Dampak Industri RI
Salah satu sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan masa penugasan standar unit pertahanan udara Angkatan Darat AS telah diperpanjang dari sembilan bulan menjadi 12 bulan.
Bahkan, beberapa unit yang sebelumnya dijadwalkan ditempatkan di Eropa dan kawasan Pasifik telah dialihkan ke Timur Tengah. Sejumlah di antaranya kini telah bertugas selama lebih dari satu tahun.
“Tempo operasional untuk unit pertahanan udara sebelum perang ini sudah termasuk yang tertinggi di antara seluruh kekuatan gabungan,” kata Tom Karako, direktur Missile Defense Project di Center for Strategic and International Studies.
Menurut Karako, perpanjangan masa penempatan dapat menimbulkan sejumlah persoalan bagi militer AS. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan kelelahan personel, menunda proses pemeliharaan peralatan, serta menghambat modernisasi militer dalam jangka panjang.
