PBB Pangkas Bantuan Pangan Palestina, Penerima Dikurangi Jadi 200.000 Orang
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terpaksa mengurangi separuh bantuan pangan bagi warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki akibat keterbatasan pendanaan. Kebijakan tersebut diambil ketika kebutuhan kemanusiaan di wilayah tersebut justru meningkat akibat kekerasan pemukim dan operasi militer Israel.
Program Pangan Dunia (WFP) sebelumnya memberikan bantuan berupa makanan, voucher, serta bantuan tunai kepada sekitar 400.000 warga Palestina di Tepi Barat. Bantuan tersebut terutama diberikan kepada masyarakat di wilayah pedesaan dan kawasan selatan, termasuk Hebron.
Baca Juga: Jadi Gubernur BI Perempuan Pertama, Ini Kata Destry
Namun, mulai bulan ini, jumlah penerima bantuan akan dikurangi menjadi sekitar 200.000 orang.
Direktur WFP untuk Palestina Shaun Hughes mengatakan kondisi di Tepi Barat saat ini seharusnya menjadi alasan untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan, bukan menguranginya.
“Pembatasan pergerakan yang parah, pembongkaran, dan pemindahan yang meluas di Tepi Barat telah mengikis mata pencaharian Palestina dan berkontribusi pada peningkatan kerawanan pangan,” kata Hughes dalam konferensi pers di Jenewa, dikutip Kamis (3/9/2026).
Hughes menegaskan bahwa pemangkasan bantuan terjadi pada saat masyarakat Palestina semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar akibat pembatasan aktivitas ekonomi.
“Saat ini, kita harus meningkatkan bantuan kita di Tepi Barat, bukan memotong jalur vital ini,” ujarnya.
Menurut WFP, kondisi di Tepi Barat belum dikategorikan sebagai krisis pangan seperti di beberapa wilayah konflik lainnya. Namun, lembaga tersebut menyebut situasi yang terjadi merupakan krisis hak asasi manusia yang semakin memburuk.
“Mereka sekarang mendapati diri mereka dalam keadaan tercekik, tidak dapat bergerak bebas untuk mengakses tanah atau pekerjaan, dan karenanya tidak mampu membeli makanan untuk keluarga mereka. Mereka menghadapi ketidakadilan dan kesulitan yang luar biasa,” kata Hughes.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekerasan, penyitaan tanah, serta pengambilalihan sumber air oleh pemukim Yahudi di Tepi Barat dalam hampir tiga tahun terakhir sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Badan-badan PBB dan sebagian besar negara di dunia menilai permukiman Israel di wilayah pendudukan tersebut melanggar hukum internasional. Sementara itu, Israel menyatakan bahwa status Tepi Barat masih merupakan wilayah yang dipersengketakan.
Baca Juga: Bertemu Putin di Vladivostok, Prabowo Bahas Kerja Sama RI-Rusia
Selain meningkatnya kebutuhan, pemangkasan bantuan juga dipengaruhi oleh tekanan pendanaan terhadap lembaga kemanusiaan internasional. Sejumlah donor Barat utama, termasuk Amerika Serikat, mengurangi kontribusinya sejak tahun lalu karena mengalihkan anggaran untuk kebutuhan domestik dan sektor pertahanan.
WFP memperingatkan krisis pendanaan tersebut juga dapat berdampak terhadap operasional bantuan di Gaza. Saat ini, lembaga tersebut masih menyalurkan bantuan pangan kepada sekitar 1,5 juta warga di wilayah tersebut.
“Pemotongan lebih lanjut tidak akan dapat dihindari kecuali jika dana tambahan dijamin,” kata WFP.
