JD Vance Akui AS Jarang Menang Perang dalam 42 Tahun Terakhir
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance memberikan penilaian blak-blakan mengenai rekam jejak militer negaranya selama empat dekade terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perang antara AS dan Iran.
Vance menilai AS telah terlibat dalam banyak konflik selama 42 tahun terakhir, tetapi tidak banyak yang berakhir dengan kemenangan bagi Washington.
“Amerika telah terlibat dalam banyak perang selama saya hidup — 42 tahun. Dan kita hampir tidak pernah memenangkannya satu pun,” ungkap JD Vance.
Baca Juga: DPR – Pemerintah Sepakati Target Ekonomi RAPBN 2027, Pertumbuhan 6%
Ia kemudian menggambarkan periode tersebut sebagai rangkaian kebijakan militer yang keliru. Menurut Vance, persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi terhadap perencanaan militer maupun kepemimpinan politik AS.
Wakil Presiden AS itu menyebut empat dekade terakhir sebagai “40 tahun yang, terus terang, merupakan petualangan militer yang keliru,”.
Pernyataan Vance muncul ketika AS kembali terlibat dalam konflik bersenjata, kali ini dengan Iran. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa Washington kembali memasuki apa yang disebut Vance sebagai “petualangan keliru” lainnya.
Di tengah perang tersebut, sebuah rudal yang menghantam sebuah acara pernikahan di Iran dan menewaskan empat orang, termasuk dua anak-anak, kemungkinan besar ditembakkan oleh AS berdasarkan analisis Reuters.
Serangan itu terjadi pada Selasa di Kota Kuhestak, Iran selatan. Selain menewaskan empat orang, serangan tersebut menyebabkan 68 orang lainnya terluka.
Reuters meminta sejumlah ahli persenjataan untuk meninjau gambar dan video yang telah diverifikasi oleh kantor berita tersebut. Tiga dari empat ahli menyatakan kecil kemungkinan korban tewas akibat rudal Iran yang melenceng.
Baca Juga: Sebelum Tarik SAL Rp200 T, Purbaya akan Minta Persetujuan DPR
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan perang.
Sementara itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih berada di bawah kondisi normal. Data pelacakan awal menunjukkan jumlah kapal yang melintasi jalur strategis tersebut mengalami penurunan.
Data pelayaran Kpler yang dikutip Reuters mencatat empat kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Jumlah tersebut turun dari sembilan kapal pada hari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 15 kapal.
Hingga pukul 04.55 GMT, kapal-kapal yang terpantau melintas terdiri dari dua kapal tanker jarak menengah, satu kapal tanker Kamsarmax, dan satu kapal jenis Handysize.
Namun, jumlah keseluruhan kapal yang melintasi Selat Hormuz masih dapat berubah. Pasalnya, sejumlah kapal diketahui mematikan transponder mereka ketika berlayar.
