AS Kawal Kapal di Selat Hormuz, Arus Minyak Mulai Pulih
Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) terus mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz untuk menjaga kelancaran arus minyak mentah melalui jalur strategis tersebut. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan operasi pengawalan kemungkinan masih akan berlangsung dalam waktu dekat.
“Kami berhasil mengawal banyak kapal melintas, tetapi tentu saja hal itu membutuhkan militer AS untuk melakukannya,” kata Wright dalam program State of the Union di CNN, Minggu (6/9).
Menurut Wright, Iran masih menjadi sumber gangguan di kawasan tersebut. Namun, dia menilai Angkatan Laut AS berhasil mempertahankan jalur pelayaran dari ancaman Iran.
Dalam sejumlah wawancara televisi pada Minggu, Wright menyebut rata-rata lebih dari 9 juta barel minyak per hari kini kembali dikirim melalui Selat Hormuz.
Baca Juga : Netanyahu Yakin Rezim Iran Bakal Runtuh, Ini Sebabnya
Jika ditambah dengan minyak mentah dan produk minyak yang disalurkan melalui pipa serta jalur alternatif lainnya, arus minyak di kawasan tersebut telah mencapai sekitar dua pertiga atau lebih dari tingkat sebelum konflik.
Wright sebelumnya menyebut sekitar 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin pekan lalu.
Bentrokan Iran-AS Tingkatkan Risiko di Selat Hormuz
Ketegangan terbaru menunjukkan masih tingginya risiko keamanan di jalur perairan yang menjadi salah satu rute energi paling penting dunia tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pada Sabtu bahwa pasukan Amerika menyerang tiga kapal pengangkut minyak mentah Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke dua kapal perang Angkatan Laut AS.
Sebelum perang dimulai pada 28 Februari melalui serangan AS-Israel terhadap Iran, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Angkatan Laut AS kemudian membantu memastikan kapal-kapal komersial tetap dapat melewati selat tersebut dengan relatif aman.
Ketika ditanya CNN apakah pengerahan kapal perang AS untuk menjaga pelayaran di Selat Hormuz akan menjadi “normal baru”, Wright menjawab bahwa kondisi tersebut memang tengah berlangsung.
“Ya, saat ini memang begitu,” ujar Wright.
Dia berharap negara-negara lain nantinya ikut terlibat dalam upaya menjaga keamanan jalur perdagangan tersebut.
“Namun, jika melihat ke depan, negara-negara lain akan datang dan bekerja sama dengan kami dalam upaya ini,” lanjut Wright. “Tentu saja, perdagangan dunia sangat penting. Seharusnya ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Amerika Serikat, tetapi sampai Iran mengubah sikapnya atau mengubah pemerintahannya, kami harus menghadapinya.”
Harga Energi AS Jadi Perhatian Politik
Kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dinilai penting bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan energi dunia, tetapi juga menjaga stabilitas perekonomian global yang terdampak perang Iran.
Kondisi tersebut turut menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu AS pada November. Pemerintah menghadapi tekanan untuk meredam kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan harga berbagai kebutuhan konsumsi.
Harga bahan bakar di AS tercatat meningkat. Menurut organisasi otomotif AAA, harga rata-rata bensin tanpa timbal mencapai US$4,15 per galon pada Jumat. Angka tersebut menjadi rekor untuk September dan lebih tinggi dibandingkan US$3,80 per galon pada 4 Juli, yang biasanya menjadi puncak musim berkendara musim panas.
Harga diesel juga mencapai rekor baru sebesar US$5,88 per galon.
Wright memperkirakan harga bensin masih berpotensi turun setelah musim berkendara musim panas berakhir. Penurunan juga diharapkan terjadi setelah adanya perubahan kebijakan pencampuran bahan bakar federal yang ditujukan untuk meningkatkan pasokan.
Sejumlah perusahaan pengolahan bahan bakar sebelumnya meminta pemerintah mengambil langkah lebih jauh dengan melonggarkan kewajiban pencampuran bahan bakar nabati. Menurut mereka, kebijakan tersebut turut berkontribusi terhadap kenaikan harga di SPBU.
Negara Lain Pertimbangkan Ikut Amankan Selat Hormuz
Sejumlah negara masih enggan bergabung langsung dalam operasi pengamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, media Korea Selatan baru-baru ini melaporkan bahwa pemerintahnya sedang mempertimbangkan kemungkinan operasi militer untuk membantu menjaga kelancaran arus perdagangan di jalur tersebut.
Baca Juga : Hadapi Krisis Global, Belanda Pindahkan 86 Ton Emas
Inggris dan Prancis sebelumnya telah mengusulkan pembentukan misi multinasional untuk membersihkan ranjau sekaligus mendukung pelayaran sipil di Selat Hormuz.
Wright tidak menjelaskan negara mana saja yang berpotensi bergabung dalam operasi tersebut. Untuk sementara, Angkatan Laut AS masih menjadi kekuatan utama yang memastikan kapal-kapal dapat melintas.
“Ya, Angkatan Laut AS yang memastikan arus ini tetap berjalan,” kata Wright dalam program Fox News Sunday.
“Kami berharap Iran berhenti melakukan apa yang mereka lakukan, tetapi kami terus mengurangi kemampuan mereka untuk melakukannya dan semakin mampu mempertahankan diri dari serangan mereka. Jadi, ini adalah permainan yang akan merugikan Iran,” lanjutnya.

[…] AS Kawal Kapal di Selat Hormuz, Arus Minyak Mulai Pulih […]