Iran Siapkan Zona Terlarang di Selat Hormuz, Kapal Terancam Sanksi
Iran berencana menetapkan zona terlarang di sekitar akses menuju Selat Hormuz di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari Amerika Serikat (AS).
Rencana tersebut disampaikan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru, Mohsen Rezaei, dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Iran pada Minggu (6/9/2026).
Rezaei mengatakan zona terlarang tersebut akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut AS dan membentang menuju Selat Hormuz hingga sejumlah wilayah di Teluk Persia.
“Dalam beberapa hari mendatang, sebuah zona terlarang akan diumumkan di luar Selat Hormuz,” kata Rezaei, seperti dikutip The Times of Israel.
Menurut Rezaei, kapal yang memasuki zona tersebut untuk melintasi Selat Hormuz dan berhasil diidentifikasi Iran akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran.
“Zona ini akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut AS, memanjang menuju Selat Hormuz, dan dari sisi ini berlanjut ke Teluk Persia,” ujarnya.
Namun, Iran belum menjelaskan secara rinci mengenai batas wilayah zona terlarang tersebut. Lokasi pasti garis blokade AS yang disebut menjadi titik awal zona juga belum diketahui.
Baca Juga: Arus Minyak Mulai Pulih, AS Kawal Kapal di Selat Hormuz
Iran Balas Blokade AS di Selat Hormuz
Rencana tersebut muncul setelah AS dilaporkan menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu (5/9/2026).
Serangan itu disebut dilakukan sebagai respons atas peluncuran rudal balistik Iran yang menargetkan kapal perang AS.
Washington sebelumnya telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya menekan kemampuan Teheran mengekspor minyak.
Militer AS menyebut lebih dari 20 kapal perang mendukung operasi blokade tersebut. Hingga Minggu, blokade itu dilaporkan telah mengalihkan 92 kapal komersial dan melumpuhkan tiga kapal.
AS juga terus memperkenalkan sejumlah langkah baru untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran setelah perundingan damai kedua negara runtuh.
Pertempuran antara AS dan Iran kembali berlangsung setelah sebelumnya memasuki periode relatif tenang selama sekitar satu bulan.
Baca Juga: Purbaya Jelaskan Capaian Kemenkeu: Sita 190 Kg Emas
Lalu Lintas Kapal di Hormuz Merosot
Tekanan tersebut turut berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Data pelayaran menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas yang melintasi selat tersebut setiap hari dalam 10 hari terakhir.
Angka itu menjadi yang terendah sejak Mei.
Menurut perusahaan analitik Kpler, rata-rata pergerakan 10 hari jumlah kapal yang melintas berada di angka 10 pada Minggu. Angka tersebut turun dari lebih dari 15 kapal pada Jumat dan hampir 13 kapal pada Sabtu.
Pada Sabtu, hanya dua kapal tercatat melintasi Selat Hormuz. Jumlahnya meningkat menjadi enam kapal pada Minggu, dengan sebagian besar menggunakan rute di sisi Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dan gas dunia. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sekitar 9 juta barrel minyak per hari masih melewati selat tersebut.
Menurut Wright, arus minyak itu dapat membantu mengurangi tekanan terhadap harga energi. Aliran minyak melalui Selat Hormuz dan jaringan pipa di kawasan tersebut diperkirakan masih mencapai sekitar dua pertiga atau lebih dari tingkat sebelum konflik.
Namun, kelancaran arus tersebut bergantung pada keberadaan Angkatan Laut AS yang membantu mengawal kapal tanker serta memberikan perlindungan dari kemungkinan serangan Iran.
Wright memperkirakan negara-negara lain pada akhirnya akan ikut mendukung upaya Angkatan Laut AS tersebut.
Di sisi lain, Rezaei mengklaim ekspor minyak Iran masih berjalan. Ia mengatakan Iran setiap hari tetap menjual sekitar satu hingga 1,5 juta barrel minyak.
