AS-China Kian Bersaing di Antariksa, Siapkan Teknologi Perang Orbit
Persaingan militer antara Amerika Serikat (AS) dan China tidak lagi hanya berlangsung di darat, laut, dan udara. Kedua negara adidaya kini juga berlomba mengembangkan kemampuan militer di luar angkasa.
Berbagai teknologi perang antariksa mulai dikembangkan, mulai dari satelit pemburu, persenjataan orbital, hingga kemampuan melakukan manuver jarak dekat. Langkah tersebut dilakukan untuk menghadapi kemungkinan konflik yang meluas ke orbit Bumi, seperti dilansir Reuters, Selasa (2/9/2026).
Baca Juga: Penempatan Pasukan di Timteng Diperpanjang AS hingga 2027
AS dan Inggris Mulai Unjuk Kekuatan di Orbit
Ancaman konflik di luar angkasa tercermin dari semakin aktifnya operasi militer yang melibatkan aset di orbit.
Dalam salah satu operasi gabungan pertama di antariksa, militer AS dan Inggris mengarahkan satelit militer mereka untuk bergerak mendekati satelit milik Inggris. Manuver tersebut dilakukan ketika satelit China Shiyan 12-01 melintas sekitar 83 kilometer di bawah posisi mereka.
Mantan perwira tinggi Angkatan Udara Inggris yang kini menjadi konsultan antariksa, Andrew Turner, menilai manuver tersebut merupakan bentuk gertakan terbuka terhadap China.
Menurut dia, langkah tersebut hampir dipastikan menjadi sinyal strategis untuk menunjukkan persatuan negara-negara sekutu, kemampuan militer, sekaligus peringatan kepada Beijing agar tidak mengganggu satelit Inggris.
Mantan Kepala Komando Antariksa Inggris Mayor Jenderal Paul Tedman mengatakan ruang angkasa kini tidak lagi sekadar menjadi pendukung operasi militer di Bumi.
Penggunaan antariksa untuk mendukung operasi militer sekaligus memengaruhi hasil pertempuran dinilai semakin penting. Militer juga mulai memandang satelit sebagai sistem yang harus mampu bermanuver dan bertempur.
Menurut Tedman, negara-negara Barat kini berupaya mempertahankan keunggulan strategis mereka di luar angkasa.
China Kembangkan Satelit Pemburu
Di sisi lain, China menunjukkan perkembangan kemampuan teknologi antariksa yang cukup pesat.
Pada Juni 2026, sebuah pesawat ruang angkasa nirawak milik China melepaskan satelit kecil di wilayah orbit yang padat. Berdasarkan data perusahaan pelacak antariksa LeoLabs, satelit tersebut sempat mengitari satelit China lainnya sebelum kembali mendekati pesawat induknya.
Sejumlah dokumen paten, pemberitahuan pengadaan, dan makalah akademis juga menunjukkan bahwa peneliti China yang memiliki keterkaitan dengan militer tengah mengembangkan teknologi untuk mengejar dan menangkap wahana antariksa lain, termasuk kemampuan mengisi ulang bahan bakar di orbit.
Satelit China disebut telah memperlihatkan kemampuan yang dikenal sebagai orbital dogfighting. Teknologi ini memungkinkan satelit melakukan pergerakan tersinkronisasi dalam jarak dekat.
China juga mengembangkan kemampuan menangkap satelit yang rusak dan memindahkannya ke orbit lain.
Surat kabar resmi militer China, PLA Daily, bahkan menekankan pentingnya penguasaan antariksa dalam tajuk rencananya pada 2022.
Mengendalikan antariksa dinilai penting untuk menjaga keamanan nasional, merebut inisiatif strategis, sekaligus meraih kemenangan dalam perang.
Baca Juga: Anggaran MBG 2027 Capai Rp232,5 T, Sasar Lebih dari 72 Juta Penerima
Pentagon Khawatir Militer AS Bisa Lumpuh
Perkembangan tersebut menjadi perhatian serius Pentagon. Gangguan terhadap aset antariksa dikhawatirkan dapat melumpuhkan sejumlah kemampuan utama militer AS.
Satelit kini menjadi komponen penting dalam peperangan modern, terutama untuk menyediakan komunikasi, navigasi, dan informasi intelijen. Peran tersebut terlihat dalam konflik di Ukraina maupun Timur Tengah.
Mantan profesor di US Air Force’s Air War College, Everett Dolman, memperingatkan konsekuensi serius jika aset antariksa AS diserang.
“Gangguan pada kapabilitas antariksa AS dapat melumpuhkan militer masif kami di ruang terestrial, berdampak pada segala hal mulai dari pengawasan hingga pertahanan rudal.”
Ancaman dari China juga disoroti Kepala Operasi Pasukan Antariksa AS Jenderal Chance Saltzman.
“Pihak China dengan cepat mengembangkan kemampuan,” kata Saltzman.
Pernyataan tersebut merujuk pada perkembangan senjata berbasis darat dan antariksa yang dirancang untuk mengganggu atau menghancurkan target.
Sementara itu, Kepala Komando Antariksa AS Jenderal Stephen Whiting mengatakan Washington harus mempersiapkan kemampuan tempur yang lebih aktif di orbit.
“Kita harus bersiap dengan baik untuk menghadapi konflik di antariksa. Dan jika penangkalan gagal, kita akan bertempur dan menang,” tegas Whiting.
Persaingan AS dan China berlangsung ketika orbit Bumi semakin padat. SpaceX saat ini mengoperasikan sekitar 11.000 satelit Starlink dan berencana membangun konstelasi pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di antariksa.
Presiden AS Donald Trump juga menggulirkan program pertahanan rudal Golden Dome yang mencakup gagasan penggunaan pencegat berbasis antariksa.
Pada Juni 2026, Pasukan Antariksa AS mengumumkan pengoperasian senjata elektromagnetik berbasis darat buatan L3Harris Technologies. Sistem tersebut dirancang untuk mengganggu atau melumpuhkan satelit milik musuh.
AS juga menuding Rusia mengembangkan kemampuan antisatelit yang melibatkan senjata nuklir di luar angkasa. Moskwa membantah tuduhan tersebut.
China sendiri menyatakan tidak mengetahui secara rinci mengenai operasi gabungan AS dan Inggris tersebut. Kementerian Luar Negeri China menegaskan Beijing menolak persenjataan di luar angkasa dan mendukung pemanfaatan antariksa secara damai.
Beijing justru menuding Washington memicu perlombaan senjata di luar angkasa melalui program seperti Golden Dome dan rencana pengembangan persenjataan berbasis antariksa.
Terkait satelit Shiyan 12-01 dan pesawat ruang angkasa yang terlibat dalam aktivitas tersebut, Kementerian Luar Negeri China mengatakan tidak memiliki informasi.
Kantor berita resmi China, Xinhua, sebelumnya melaporkan bahwa Shiyan 12-01 digunakan untuk melakukan survei lingkungan antariksa. Adapun pesawat ruang angkasa China disebut sebagai wahana eksperimental yang dikembangkan untuk mendukung pemanfaatan antariksa secara damai.

[…] AS-China Kian Bersaing di Antariksa, Siapkan Teknologi Perang Orbit […]
[…] AS-China Kian Bersaing di Antariksa, Siapkan Teknologi Perang Orbit […]