Pernyataan Purbaya Klaim Whoosh Bisa Untung Rp800 Miliar Diragukan
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mempertanyakan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) berpotensi menghasilkan keuntungan hingga Rp800 miliar.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya di tengah rencana pemerintah mengalihkan pengelolaan utang KCIC kepada salah satu lembaga Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan.
Menurut Purbaya, apabila utang Whoosh dialihkan kepada SMV, langkah tersebut dapat memberikan tambahan keuntungan bagi perusahaan hingga Rp800 miliar.
Namun, klaim tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi keuangan KCIC saat ini. Dewan Penasehat MTI Djoko Setijowarno mengatakan KCIC masih mengalami kerugian meskipun pendapatan dari operasional Whoosh terus mengalami peningkatan.
“Ada hal yang keliru, untungnya itu apa? Wong [kata manajemen KCIC] sendiri masih rugi kok,” ujar Dewan Penasehat MTI Djoko Setijowarno saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga : Kelompok Haiti Perluas Teror ke Pedesaan, Warga Jadi Target
Djoko menjelaskan performa keuangan Whoosh memang menunjukkan tren peningkatan sejak kereta cepat tersebut mulai beroperasi. Salah satunya terlihat dari pertumbuhan pendapatan yang terus meningkat setiap tahun.
Berdasarkan informasi internal dari manajemen KCIC, Djoko menyebut pendapatan railway Whoosh saat ini rata-rata berada di kisaran Rp4 miliar per hari.
Jika dikalkulasikan selama satu tahun, angka tersebut setara dengan pendapatan sekitar Rp1,46 triliun.
Sementara itu, sepanjang 2025, pendapatan Whoosh disebut telah mencapai sekitar Rp1,44 triliun. Meski demikian, Djoko mengingatkan bahwa angka pendapatan tidak dapat langsung dianggap sebagai keuntungan bersih perusahaan.
Pasalnya, pendapatan tersebut masih harus dikurangi dengan berbagai biaya dan beban operasional yang dikeluarkan KCIC.
“Pendapatan dari tiket, tidak termasuk railway mereka sekitar Rp1,44 triliun [sepanjang 2025]. Ada peningkatan setiap tahun. [Tetapi beban] operasional belum dihitung,” tuturnya.
Keraguan serupa disampaikan Pakar Transportasi dan Tata Kota Universitas Padjadjaran Yayat Supriatna.
Yayat menilai klaim perusahaan kereta api mampu mencatat keuntungan hingga Rp800 miliar per tahun perlu dilihat kembali berdasarkan kondisi keuangan secara keseluruhan.
Menurutnya, kondisi keuangan Whoosh hingga saat ini masih menunjukkan adanya kerugian. Tingginya biaya operasional menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan sebelum menyimpulkan besaran keuntungan perusahaan.
“Biaya operasionalnya saja sudah terlalu tinggi. Terbuka dulu bagaimana kondisi keuangannya,” kata Yayat, dihubungi terpisah.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Keuangan tetap memastikan rencana pengalihan utang Whoosh akan ditangani oleh salah satu SMV.
Kendati demikian, Purbaya belum mengungkapkan secara spesifik SMV yang akan ditunjuk untuk menangani pengalihan tersebut.
Saat ini, terdapat sejumlah SMV yang berada di bawah Kementerian Keuangan. Beberapa di antaranya adalah PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), PT Geo Dipa Energi (GDE), Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
Baca Juga : Purbaya Ungkap Ekonomi Membaik, Demo Berkurang
Purbaya mengatakan proses pengalihan utang tersebut ditargetkan berlangsung pada pertengahan September 2026. Skema yang digunakan adalah inbreng, yakni pengalihan aset atau kepemilikan saham sebagai bagian dari penyelesaian transaksi.
Dalam skema tersebut, Kementerian Keuangan disebut akan mengambil alih 60% saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) di KCIC melalui Danantara.
PSBI sendiri merupakan konsorsium sejumlah perusahaan BUMN yang terlibat dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Anggotanya antara lain PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
KAI menjadi pemegang saham terbesar dalam konsorsium tersebut dengan kepemilikan sekitar 58,3% saham PSBI.
