Qatar Desak Negara Teluk Tak Bergantung pada AS
Qatar mendorong negara-negara Teluk untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan keamanan mereka sendiri, alih-alih sepenuhnya mengandalkan Amerika Serikat (AS) maupun aliansi internasional.
Doha tetap mengakui pentingnya dukungan dari negara mitra dan sekutu. Namun, Qatar menilai keberadaan pasukan asing dan hubungan strategis dengan Washington belum cukup untuk menjamin keamanan kawasan secara menyeluruh.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar dalam Hili Forum di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Senin (7/9/2026).
Qatar Nilai Aliansi AS Belum Cukup
Juru bicara tersebut mengatakan negara-negara Teluk perlu memahami bahwa kehadiran militer internasional tetap memiliki peran penting. Begitu pula dengan aliansi strategis yang telah terjalin dengan AS.
Baca Juga : Rusia Serang Ukraina, 6 Orang Terluka Usai Utusan AS Pergi
Namun, ketergantungan penuh terhadap kekuatan eksternal dinilai bukan solusi jangka panjang bagi keamanan kawasan.
“Kita perlu menyadari di Teluk bahwa keberadaan pasukan internasional di kawasan, serta memiliki aliansi strategis dengan Amerika Serikat, sangat penting, tetapi tidak cukup,” katanya, seperti dikutip AFP.
Menurutnya, negara-negara Teluk harus mulai membangun kapasitas keamanan yang lebih mandiri sembari tetap mempertahankan kerja sama dengan negara mitra.
“Kemandirian dalam hal keamanan adalah satu-satunya jalan ke depan. Ya, kita membutuhkan mitra kita. Ya, kita membutuhkan sekutu kita. Tetapi kita tidak bisa hanya bergantung kepada mereka untuk keamanan kita,” ujarnya.
Pernyataan Doha tersebut muncul ketika kawasan Teluk masih menghadapi dampak konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama enam bulan.
Qatar sendiri berada dalam posisi penting karena berperan sebagai salah satu mediator utama dalam konflik tersebut. Di saat yang sama, negara kaya gas itu juga menghadapi serangan Iran yang menyasar sejumlah fasilitas penting, termasuk infrastruktur energi.
Qatar Jadi Pangkalan Militer AS Terbesar di Timur Tengah
Qatar selama ini menjadi lokasi pangkalan militer AS terbesar di kawasan Timur Tengah. Dalam konflik yang berlangsung, Iran merespons serangan AS dengan menargetkan sejumlah fasilitas militer Amerika serta fasilitas energi di kawasan.
Perang yang telah berjalan selama enam bulan tersebut kini berada dalam situasi buntu. Salah satu persoalan paling krusial adalah terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Iran diketahui mengganggu lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut. Sementara itu, AS memberikan tekanan melalui blokade tandingan terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu jalur utama pelayaran di kawasan. Jalur yang terletak di antara Iran dan Oman tersebut juga berperan penting dalam distribusi energi dan perdagangan internasional.
Karena itu, gangguan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap pasokan energi maupun aktivitas perdagangan global.
Qatar Terus Upayakan Mediasi Konflik
Di tengah ketegangan tersebut, Qatar masih berusaha menjalankan peran diplomatiknya sebagai mediator.
Baca Juga : Perang Dagang Memanas, Kanada Naikkan Tarif Produk AS
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani bahkan melakukan kunjungan ke Teheran pada bulan lalu. Perjalanan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya Doha mencari jalan keluar atas konflik yang melibatkan AS dan Iran.
Sementara itu, Iran dan Oman yang sama-sama berbatasan dengan Selat Hormuz sebelumnya menyatakan tengah membahas sejumlah langkah untuk mengurangi ketegangan di jalur pelayaran tersebut.
Salah satu opsi yang dibicarakan adalah pembentukan koridor pelayaran sementara. Kedua negara juga membahas upaya pembersihan ranjau untuk membantu menjaga keamanan lalu lintas kapal di kawasan strategis tersebut.
