Yaman di Ambang Perang, Houthi dan Saudi Saling Serang
Yaman kembali berada di tengah ancaman konflik besar setelah kelompok Houthi mengklaim koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan puluhan serangan udara di lima wilayah garis depan pada Rabu (9/9/2026).
Juru Bicara Militer Houthi Yahya Saree menyebut sedikitnya 54 hingga 70 serangan udara dilancarkan ke sejumlah wilayah, yakni Al-Bayda, Saada, Taiz, Marib, dan Al-Jawf.
Serangan tersebut disebut sebagai respons atas serangan Houthi sebelumnya menggunakan drone dan rudal balistik ke tiga kota di Arab Saudi, yakni Abha, Khamis Mushait, dan Jizan.
Baca Juga : Iran Peringatkan Korea Selatan terkait Ketegangan di Hormuz
Serangan Houthi itu dilaporkan melukai 73 warga sipil serta menargetkan sejumlah fasilitas energi milik Aramco.
Kondisi tersebut kembali meningkatkan ketegangan di Yaman dan berpotensi menghancurkan kesepakatan gencatan senjata yang telah bertahan sejak 2022. Eskalasi juga membuka kemungkinan munculnya medan pertempuran baru di tengah konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Houthi Bidik Pelabuhan Strategis Mokha
Dikutip dari New York Times, Rabu (9/9/2026), salah satu pemicu kembali meningkatnya pertempuran darat adalah upaya Houthi untuk merebut kendali atas kota pelabuhan Mokha di wilayah Taiz bagian barat.
Mokha memiliki posisi strategis karena berada kurang dari 50 mil dari Selat Bab al-Mandab, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan perairan internasional.
Penguasaan wilayah tersebut dapat memberikan Houthi pengaruh lebih besar terhadap jalur pelayaran internasional. Situasi ini menjadi semakin sensitif setelah aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz terganggu akibat blokade militer Iran dalam konflik dengan Amerika Serikat.
Gangguan di Hormuz turut mendorong Arab Saudi mengalihkan sebagian jalur ekspor minyak mentahnya menuju Laut Merah.
Karena itu, potensi gangguan keamanan maupun aksi terhadap kapal tanker di Laut Merah menjadi perhatian serius bagi Riyadh. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi Arab Saudi.
“Serangan udara dalam beberapa hari terakhir merupakan beberapa gelombang serangan paling signifikan sejak gencatan senjata tahun 2022,” kata Analis Politik Yaman yang berbasis di Washington, Mohammed al-Basha.
“Konflik ini dengan cepat bergeser menuju perang skala penuh,” sambungnya.
Serangan ke Penjara Tewaskan Puluhan Orang
Di tengah saling tuding mengenai serangan udara, Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi melaporkan adanya serangan terhadap sebuah kompleks penjara di Al-Hazm.
Menurut laporan tersebut, serangan udara Arab Saudi menewaskan 32 orang dan menyebabkan tujuh lainnya mengalami luka-luka.
Jika eskalasi terus berlanjut, konflik Yaman juga berpotensi menguji komitmen negara-negara yang baru saja memperkuat kerja sama pertahanan di kawasan.
Salah satunya adalah Pakta Mekkah yang ditandatangani Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan pada bulan lalu.
Baca Juga : Iran Bantah Mojtaba Miliki Apartemen Mewah di London
Pakistan sebelumnya menyatakan siap mengaktifkan mekanisme pertahanan kolektif apabila serangan Houthi meluas hingga mengancam secara langsung integritas wilayah Arab Saudi.
Pakistan Siap Aktifkan Pakta Mekkah
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menegaskan bahwa negaranya memiliki komitmen untuk menjalankan isi perjanjian tersebut jika kondisi mengharuskannya.
“Jika terjadi agresi tanpa provokasi, atau meluasnya apa pun yang terjadi di Yaman ke Arab Saudi, pasti Perjanjian Mekah akan menjadi resmi,” tegas Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif.
“Kami terikat oleh syarat dan ketentuan pakta ini, dan kami akan menghormatinya jika diperlukan,” tambahnya.
Dengan meningkatnya serangan udara dan perebutan wilayah strategis, Yaman kini menghadapi risiko kembalinya perang terbuka dalam skala yang lebih besar.
Situasi tersebut juga berpotensi memperluas dampak konflik ke jalur perdagangan dan energi regional, terutama jika pertempuran semakin mendekati kawasan Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
