Iran Peringatkan Korea Selatan soal Selat Hormuz
Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Korea Selatan terkait kemungkinan keterlibatan Seoul dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Selat Hormuz.
Teheran menegaskan bahwa pengerahan aset militer Korea Selatan ke Teluk Persia akan dianggap sebagai bentuk dukungan langsung terhadap tindakan agresi AS. Iran juga memperingatkan adanya konsekuensi serius jika Seoul mengambil langkah tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan peringatan itu tetap berlaku meski Iran dan Korea Selatan telah menjalin hubungan diplomatik selama 64 tahun.
Ancaman tersebut disampaikan setelah muncul laporan bahwa Korea Selatan tengah mempertimbangkan opsi untuk mengirim sejumlah aset militernya guna mendukung operasi di Selat Hormuz.
Baca Juga : Iran Peringatkan Korsel Terkait Operasi di Selat Hormuz
“Tidak ada negara berdaulat dan bertanggung jawab yang boleh tunduk pada tekanan dan intimidasi AS, serta terlibat dalam tindakan agresi dan kejahatan mengerikan terhadap bangsa Iran yang agung,” kata Baghaei, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (8/9/2026).
“Setiap kehadiran militer atau partisipasi dalam operasi di Teluk dan Selat Hormuz pasti akan dianggap sebagai dukungan langsung kepada agresor dan akan memiliki konsekuensi serius,” sambungnya.
Tekanan Trump Jadi Dilema Korea Selatan
Posisi Korea Selatan menjadi semakin sulit setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Seoul untuk membantu operasi di kawasan Teluk.
Sebelumnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menolak permintaan AS untuk memberikan dukungan militer di Teluk. Sebagai respons, Trump secara sepihak memangkas durasi latihan militer gabungan kedua negara dari 11 hari menjadi hanya lima hari pada Agustus lalu.
Trump menilai latihan tersebut membutuhkan biaya besar. Ia juga mempertanyakan komitmen Korea Selatan sebagai sekutu AS ketika ribuan personel militer Amerika masih ditempatkan di Semenanjung Korea.
Keputusan tersebut kemudian menimbulkan kekhawatiran di Seoul karena latihan militer gabungan menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesiapan pertahanan Korea Selatan menghadapi ancaman Korea Utara.
“Seoul mengatakan, ‘Tidak, terima kasih!’. Menolak permintaan AS tentu memiliki konsekuensi tersendiri,” tulis Trump di Truth Social.
Korea Selatan Bergulat dengan Risiko Krisis Energi
Kepentingan Seoul terhadap situasi di Selat Hormuz juga berkaitan erat dengan kebutuhan energi dalam negeri.
Sekitar 60 hingga 70 persen impor minyak mentah Korea Selatan diketahui melewati jalur strategis tersebut. Gangguan terhadap pelayaran akibat blokade yang berlangsung telah memberikan tekanan terhadap perekonomian negara itu.
Krisis tersebut turut mendorong kenaikan inflasi domestik dan membuat nilai tukar won Korea Selatan merosot hingga mencapai level terendah dalam 17 tahun terakhir.
Kondisi ini membuat Seoul menghadapi dilema. Di satu sisi, Korea Selatan perlu menjaga hubungan strategis dengan AS. Namun di sisi lain, keterlibatan militer secara langsung berpotensi meningkatkan ketegangan dengan Iran dan mengancam kepentingan energi negara tersebut.
Seoul Pertimbangkan Pasukan Non-Tempur
Untuk merespons tekanan Washington tanpa memicu konfrontasi langsung dengan Iran, Otoritas Kepresidenan Korea Selatan disebut tengah mengkaji sejumlah opsi.
Pilihan tersebut antara lain pengerahan personel non-tempur, unit pencarian dan penyelamatan atau search and rescue (SAR), kapal pembersih ranjau tanpa awak, serta tim penjinak bahan peledak.
Baca Juga : Konflik AS-Iran Meluas, Houthi Serang 4 Kota Saudi
Namun, rencana tersebut menghadapi penolakan dari dalam negeri. Kelompok oposisi Korea Selatan telah menyatakan keberatan terhadap kemungkinan pengiriman pasukan ke kawasan konflik.
Sejumlah pihak di Partai Demokrat yang berkuasa juga menyuarakan penolakan serupa. Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah warga Korea Selatan bahkan telah menggelar aksi protes terhadap perang AS-Israel terhadap Iran.
Situasi tersebut membuat pemerintah Lee Jae Myung harus mempertimbangkan secara hati-hati antara memenuhi tuntutan sekutu utamanya dan menghindari eskalasi militer dengan Iran.
