Prancis Suntik Rp 10 Triliun ke Eramet, Pemilik Tambang Nikel RI
Pemerintah Prancis berencana menyuntikkan modal sebesar 500 juta euro atau sekitar Rp 10 triliun ke Eramet, perusahaan tambang asal Prancis yang mengoperasikan tambang nikel besar di Indonesia.
Langkah ini akan meningkatkan kepemilikan pemerintah Prancis di Eramet hingga 49 persen, sekaligus menjadikannya pemegang saham terbesar perusahaan tersebut.
Dikutip dari Financial Times, Selasa (13/10/2026), rencana penambahan modal itu diumumkan pada Senin (12/10/2026) dan ditargetkan rampung pada kuartal IV tahun ini.
Saat ini, pemerintah Prancis menguasai 27 persen saham Eramet, sedangkan keluarga Duval memegang 37 persen saham perusahaan.
Baca Juga: Elon Musk Sumbang Rp 4,6 Triliun untuk Partai Republik AS
Dalam aksi korporasi tersebut, pemerintah Prancis akan menyerap seluruh saham baru yang diterbitkan sekaligus membeli hak keluarga Duval untuk memperoleh saham baru.
Kesepakatan antara kedua investor utama itu akan mengurangi porsi kepemilikan keluarga Duval di Eramet.
Sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebutkan, tawaran pemerintah Prancis mengungguli proposal investor eksternal karena dinilai menjadi jalur tercepat untuk mendapatkan tambahan modal.
Beberapa pihak lain sempat menunjukkan minat, termasuk kelompok industri logam dan pertambangan serta Orion Critical Mineral Consortium, dana investasi yang didukung Amerika Serikat dan dana kekayaan negara Abu Dhabi.
Namun, pendekatan para investor tersebut dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menegaskan, tambahan modal diperlukan untuk menjaga keberlangsungan Eramet sebagai perusahaan yang memiliki kepentingan strategis bagi negaranya.
“Eramet adalah aset strategis bagi Prancis dan Eropa,” ujar Lescure.
Eramet Tertekan Pemangkasan Kuota Nikel Indonesia
Eramet merupakan salah satu pemain besar di industri nikel Indonesia melalui tambang Weda Bay di Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang dioperasikan bersama perusahaan asal China, Tsingshan.
Selain di Indonesia, perusahaan ini memiliki konsesi pertambangan di Kaledonia Baru, wilayah teritori Prancis, serta memproduksi litium, mangan, dan pasir mineral di Argentina, Gabon, Senegal, dan Amerika Serikat.
Meski memiliki aset di berbagai komoditas strategis, Eramet menghadapi tekanan keuangan akibat pemangkasan kuota penambangan nikel di Indonesia dan penurunan harga sejumlah mineral.
Perusahaan tersebut mencatatkan kerugian pada 2025 dan mulai melepas sejumlah aset untuk menghadapi kondisi keuangan yang memburuk.
Eramet sebelumnya telah mengumumkan rencana penambahan modal sebesar 500 juta euro pada Februari 2026 sebagai upaya menstabilkan keuangan perusahaan.
Selain tekanan finansial, Eramet juga menghadapi persoalan tata kelola perusahaan pada awal tahun ini.
Baca Juga: Donald Trump Buka Peluang Bertemu Kim Jong Un pada November
Dewan direksi memberhentikan CEO Paulo Castellari yang baru menjabat selama delapan bulan karena perbedaan cara kerja.
Beberapa hari kemudian, Direktur Keuangan Abel Martins-Alexandre juga diberhentikan, sedangkan Christel Bories, ketua dewan sekaligus mantan CEO, kembali ditunjuk sebagai pemimpin sementara sejak Februari.
Eramet menyatakan investor lain masih berpeluang masuk pada tahap berikutnya, meskipun sumber yang mengetahui pembicaraan menilai kemungkinan tersebut kecil dalam waktu dekat setelah pemerintah Prancis meningkatkan kepemilikannya.
Langkah Paris ini berlangsung di tengah persaingan global untuk mengamankan pasokan mineral kritis dan mengurangi dominasi China dalam industri pertambangan serta pengolahan bahan baku strategis.
