Saudi Siapkan Serangan ke Houthi, Warga Sanaa Diminta Mengungsi
Koalisi pimpinan Arab Saudi memperingatkan warga sipil di Sanaa, ibu kota Yaman, untuk segera meninggalkan kawasan fasilitas minyak yang dikuasai kelompok Houthi.
Peringatan yang disampaikan pada 1 Oktober 2026 itu mengisyaratkan kemungkinan serangan militer terhadap fasilitas tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi.
Dilansir dari AFP, juru bicara koalisi Turkiye al-Maliki meminta warga mengosongkan Stasiun Pusat al-Sabaha milik Yemen Petroleum Company yang terletak di pinggiran barat Sanaa demi keselamatan mereka.
Perintah tersebut menjadi peringatan evakuasi pertama yang dikeluarkan koalisi untuk Sanaa sejak perang di Yaman kembali memanas pada Juli 2026.
Baca Juga: Elon Musk Sumbang Rp 4,6 Triliun untuk Partai Republik AS
Houthi Ancam Balas Serangan Saudi
Kelompok Houthi segera memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dibalas dengan tindakan keras.
Houthi juga memerintahkan para pekerja untuk meninggalkan fasilitas perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, serta mengancam akan menyerang Bandara Internasional Riyadh.
Ancaman tersebut muncul setelah bandara itu beberapa kali menjadi sasaran serangan Houthi dalam sepekan terakhir.
Serangan pada Sabtu sebelumnya menewaskan 13 orang dan meningkatkan ketegangan di Arab Saudi, salah satu eksportir minyak mentah terbesar di dunia.
Pada Selasa, koalisi pimpinan Saudi mengumumkan telah mencegat tiga pesawat nirawak atau drone di wilayah utara Riyadh.
Sehari sebelumnya, ledakan kembali terdengar di ibu kota Arab Saudi setelah koalisi menyatakan berhasil mencegat rudal Houthi yang diarahkan ke wilayah tersebut.
Warga Riyadh juga menerima peringatan melalui ponsel mengenai ancaman serangan udara.
Situasi keamanan itu mendorong sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh dan beberapa perusahaan memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah.
Lalu lintas di Riyadh yang biasanya padat juga terlihat lebih lengang.
Sejumlah negara turut mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya, termasuk Perancis yang meminta warga negaranya menghindari bandara di Riyadh, Jeddah, dan Dammam.
Meski situasi keamanan memburuk, Menteri Sumber Daya Manusia Arab Saudi, Ahmad bin Sulaiman Al Rajhi, berusaha menenangkan masyarakat saat menghadiri Forum Ekonomi Riyadh.
“Kita tidak akan pergi ke mana-mana. Kita aman, atas izin Tuhan,” katanya setelah menerima peringatan serangan melalui ponsel.
AS Pertimbangkan Intervensi Militer
Serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh turut mendorong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan keterlibatan militer dalam operasi Arab Saudi melawan Houthi.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump sebelumnya dilaporkan menolak permintaan bantuan dari Riyadh.
Menanggapi kemungkinan keterlibatan Washington, anggota biro politik Houthi, Mohammed Al Bukhaiti, memperingatkan bahwa kelompoknya akan menyerang kepentingan AS di kawasan jika negara tersebut ikut campur.
Menurut Bukhaiti, serangan terhadap Arab Saudi bertujuan menunjukkan kepada putra mahkota bahwa kerajaan tersebut tidak bisa lagi menyerang Yaman tanpa menghadapi ancaman di wilayahnya sendiri.
Arab Saudi telah mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sejak 2015 dalam perang melawan Houthi.
Konflik berkepanjangan itu telah memicu krisis kemanusiaan di Yaman dan kini turut meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Arab Saudi.
Baca Juga: Arab Saudi Kewalahan Hadapi Serangan Houthi, MBS Disorot
Ekonomi Saudi Tertekan akibat Konflik
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Arab Saudi menyusut 3,3 persen pada 2026 akibat gangguan ekonomi regional.
Proyeksi dalam laporan World Economic Outlook tersebut disusun sebelum serangan terbaru terhadap Bandara Internasional Riyadh.
Tekanan ekonomi meningkat sejak perang di Timur Tengah pecah pada Februari 2026, ketika AS dan Israel menyerang Iran.
Teheran kemudian memperketat kendali atas Selat Hormuz dan menyerang kapal-kapal yang melintas tanpa izin.
AS merespons dengan memblokade pelabuhan Iran serta meningkatkan pengawalan terhadap kapal-kapal sekutunya.
Untuk menjaga ekspor minyak, Arab Saudi mengandalkan pipa minyak Timur-Barat yang mengalihkan pengiriman menuju Laut Merah.
Namun, jalur tersebut sempat ditutup pada September 2026 akibat dugaan serangan kelompok pro-Iran dari Irak.
Houthi juga menyerang kapal tanker di Laut Merah sehingga jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi turut menghadapi ancaman.
Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap Riyadh di tengah meningkatnya risiko konflik militer dengan Houthi.
