Arab Saudi Kewalahan Hadapi Serangan Houthi, MBS Disorot
Arab Saudi kembali menghadapi tekanan militer dari kelompok Houthi di Yaman setelah serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) menyasar sejumlah wilayah kerajaan. Eskalasi konflik ini menjadi tantangan serius bagi Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), yang berupaya menjadikan Arab Saudi sebagai pusat investasi, pariwisata, dan penyelenggaraan ajang olahraga internasional.
Dilansir CNN pada Sabtu (10/10/2026), sejumlah pakar menilai Arab Saudi kurang siap menghadapi peningkatan serangan Houthi akibat kesalahan perhitungan politik dan militer. Faktor yang disorot antara lain memburuknya hubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA), lemahnya koordinasi dengan kelompok bersenjata sekutu di Yaman, serta ketergantungan pada dukungan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga : Arab Saudi Disorot Usai Peringatan Dini di Riyadh!
Perang saudara di Yaman kembali memanas pada musim panas 2026 setelah beberapa tahun relatif mereda. Situasi semakin memburuk pada September, ketika konflik meluas dan meningkatkan tekanan terhadap keamanan Arab Saudi.
Riyadh kini mendukung operasi militer bertajuk “Fajar Yaman” atau Yemen’s Dawn untuk menghadapi Houthi. Namun, serangan kelompok tersebut telah menimbulkan dampak terhadap infrastruktur minyak, aktivitas ekspor, hingga penyelenggaraan acara internasional di Arab Saudi.
Menurut otoritas Saudi, sedikitnya tiga orang, termasuk seorang pilot, tewas dalam serangan terhadap sejumlah bandara. Sejumlah festival film, konser, dan acara penghargaan juga terpaksa ditunda akibat situasi keamanan.
“Mereka hanya ingin konflik itu tetap sejauh mungkin dari mereka tanpa mengganggu rencana transformasi akibat ulah Houthi,” kata mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi, Michael Ratney.
Serangan terhadap bandara Riyadh turut memperlihatkan besarnya ancaman yang dihadapi kerajaan tersebut. Pada Sabtu (10/10/2026), serangan Houthi dilaporkan menewaskan 12 orang. Sehari kemudian, serangan terbaru di bandara yang sama kembali menelan satu korban jiwa, sebagaimana diberitakan AFP.
Perpecahan Arab Saudi dan UEA
Memburuknya hubungan Arab Saudi dengan UEA menjadi salah satu faktor yang dinilai melemahkan posisi Riyadh dalam konflik Yaman. Ketegangan meningkat setelah pesawat tempur Saudi menyerang pengiriman kendaraan militer milik UEA ke Yaman pada akhir 2025.
Insiden tersebut mengakhiri kerja sama militer kedua negara yang telah berlangsung selama sekitar satu dekade. Setelah itu, UEA menarik pasukannya dari Yaman sehingga ribuan pejuang sekutunya kehilangan sistem komando yang sebelumnya dikelola Abu Dhabi.
Seorang pejabat Yaman selatan mengatakan, penarikan pasukan UEA tidak disertai proses transisi yang memadai. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan upaya mempertahankan koordinasi dan efektivitas kelompok-kelompok bersenjata di lapangan.
“Sistem komando dan kendali pihak Emirat sangat efisien, dan pihak Saudi tidak mampu menggantikan efisiensi tersebut,” ujarnya kepada CNN.
Perselisihan kedua negara tidak hanya berdampak pada kerja sama militer, tetapi juga merembet ke ranah diplomatik. Arab Saudi menuduh UEA turut memperburuk ketidakstabilan di Yaman dan Sudan, sehingga memperlebar perbedaan kepentingan antara kedua negara Teluk tersebut.
Serangan Houthi Meluas ke Arab Saudi
Konflik semakin meningkat setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pada Juli 2026, Iran mengirim pesawat untuk membawa delegasi Houthi menghadiri pemakaman Khamenei di Teheran.
Baca Juga : Arab Saudi Targetkan Peningkatan Kapasitas Ekspor Minyak
Arab Saudi kemudian menyerang bandara Sana’a untuk mencegah pesawat tersebut mendarat. Riyadh menilai penerbangan itu melanggar blokade udara yang diberlakukan terhadap Yaman.
Sebagai balasan, Houthi mengakhiri gencatan senjata dan mengumumkan blokade laut terhadap kapal-kapal Saudi. Kelompok tersebut juga merebut wilayah strategis di sekitar Selat Bab El Mandeb serta melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak dan jaringan pipa Arab Saudi.
Serangan terhadap infrastruktur energi itu mengganggu pasokan minyak mentah dan mendorong kenaikan harga. Arab Saudi merespons dengan melancarkan ratusan serangan udara terhadap sasaran yang terkait dengan Houthi.
Namun, langkah militer tersebut belum menghilangkan ancaman serangan balasan terhadap wilayah kerajaan. Analis International Crisis Group, Ahmed Nagi, menilai Riyadh tidak mempersiapkan diri secara memadai untuk menghadapi eskalasi tersebut.
Menurut Nagi, hilangnya wilayah yang sebelumnya dikuasai sekutu Arab Saudi di Yaman turut melemahkan moral pasukan yang mendapat dukungan Riyadh. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan koordinasi dengan sekutu dapat menjadi salah satu hambatan utama bagi strategi militer Arab Saudi dalam menghadapi Houthi.
