Riyadh Diserang Houthi, Gedung Aramco Terbakar
Warga Riyadh, Arab Saudi, dikejutkan oleh pesan peringatan darurat yang masuk ke ponsel mereka pada Selasa (13/10/2026). Peringatan itu menyebutkan, “Kota Riyadh sedang menghadapi ancaman udara dari musuh”, di tengah serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang dilancarkan kelompok Houthi asal Yaman.
Tidak lama setelah peringatan tersebut diterima, suara ledakan keras terdengar di langit ibu kota Arab Saudi. Insiden itu memicu kepanikan warga yang berada di sejumlah kawasan kota.
Seorang saksi mata menceritakan kejadian tersebut kepada AFP saat dirinya sedang berjalan di jalan utama Riyadh. Ia mengaku melihat sebuah proyektil melintas di langit, tepat di atas pusat perbelanjaan.
Proyektil itu meninggalkan jejak cahaya kekuningan yang disusul kepulan asap sebelum terdengar ledakan.
“Kemudian, kami mendengar suara ledakan.”
“Orang-orang tampak diam; tidak ada yang berbicara. Kami merasa takut dan semuanya menatap ke arah langit,” ungkap saksi mata yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Baca Juga : Trump Siapkan Ancaman Baru untuk Iran Selagi Dekati Rusia
Ancaman udara tersebut tidak hanya terjadi di Riyadh. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi juga mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di Al Sulayil dan Wadi Dawasir. Kedua kota itu berada di bagian barat daya Provinsi Riyadh, beberapa ratus kilometer dari ibu kota.
Gedung Aramco Jadi Target Serangan
Di tengah meningkatnya ancaman udara, gedung administrasi perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran juga dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Selasa (13/10/2026) malam waktu setempat.
Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa serangan tersebut memicu kebakaran terbatas di salah satu bangunan perusahaan. Dilansir Reuters, Rabu (14/10/2026), otoritas setempat segera menangani insiden itu dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Kementerian Energi memastikan tidak ada korban tewas maupun luka-luka dalam serangan terhadap gedung Aramco tersebut.
Namun, seorang sumber perusahaan mengatakan kepada Reuters bahwa sebuah rudal balistik menghantam kompleks kantor pusat Saudi Aramco. Sumber tersebut menyebut menara perkantoran terkena serangan hingga tiga lantai teratas bangunan mengalami kerusakan.
Sumber itu bersama dua orang lainnya yang mengetahui kejadian tersebut juga mengungkapkan adanya kebakaran di gedung tersebut.
Kompleks Saudi Aramco di Dhahran merupakan salah satu pusat penting industri minyak Arab Saudi. Fasilitas ini menampung pusat operasi utama perusahaan yang memantau jaringan produksi dan distribusi minyak berskala besar.
Aktivitas yang berada dalam pengawasan pusat tersebut mencakup pengeboran minyak di darat dan lepas pantai, jaringan pipa, kilang, hingga terminal ekspor.
Koalisi Saudi Hancurkan Empat Rudal dan Tiga Drone
Merespons ancaman udara yang meningkat, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah menghancurkan empat rudal jelajah dan tiga drone di wilayah Riyadh serta bagian selatan kerajaan.
Juru bicara koalisi, Turki Al Maliki, menyampaikan informasi tersebut melalui platform X. “Tiga rudal jelajah dihancurkan di wilayah Riyadh dan selatan,” tulisnya.
Baca Juga : Elon Musk Sumbung untuk Partai Republik AS, Kenapa?
Ia kemudian menambahkan, “Dua drone dicegat dan dihancurkan (di wilayah yang sama).”
Beberapa menit kemudian, koalisi melaporkan penghancuran satu rudal tambahan yang mengarah ke Riyadh. Pasukan koalisi selanjutnya mengumumkan bahwa drone ketiga juga berhasil dicegat dan dihancurkan di atas ibu kota.
Rangkaian serangan pada Selasa tersebut terjadi beberapa hari setelah kelompok Houthi menyerang Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu (10/10/2026). Serangan itu dilaporkan menewaskan 13 orang dan memaksa penghentian operasional bandara. Insiden tersebut disebut sebagai serangan terburuk sejak 2015.
Sebagai respons atas eskalasi konflik, Al Maliki mengumumkan bahwa koalisi melancarkan serangan balasan ke Sana’a, ibu kota Yaman, serta wilayah Provinsi Dhamar dan Saada di bagian barat negara tersebut.
Menurut Al Maliki, serangan balasan itu diarahkan ke berbagai fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi militer kelompok Houthi.
