Demo Mahasiswa Albania Ricuh, Gedung Pendidikan Diserang
Aksi demonstrasi mahasiswa di Tirana, Albania, berakhir ricuh pada Selasa (13/10/2026) waktu setempat. Massa melempari gedung Kementerian Pendidikan menggunakan batu bata dan bongkahan beton. Polisi kemudian berupaya membubarkan demonstran dengan menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air.
Sejumlah peserta aksi turut ditahan dalam bentrokan tersebut. Demonstrasi ini merupakan bagian dari aksi nasional yang menyoroti persoalan pendidikan serta berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat Albania.
Para pengorganisasi demonstrasi menyebut aksi tersebut bertujuan menyuarakan keresahan mahasiswa, termasuk kondisi kampus, tingginya biaya pendidikan tinggi, minimnya dukungan finansial, dan terbatasnya peluang kerja setelah lulus.
Selain persoalan pendidikan, sebagian demonstran juga menyampaikan kekecewaan terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan pemerintah yang dinilai belum menjawab kebutuhan masyarakat.
Baca Juga : Ekonomi Timur Tengah Diprediksi Anjlok pada 2026
Salah satu peserta aksi, Luljeta Kola, menilai Albania membutuhkan perubahan mendasar untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut.
“Apa yang dibutuhkan Albania adalah revolusi, perubahan, perombakan total sistem karena situasi tidak bisa terus berjalan seperti ini,” kata Kola, dilansir Reuters.
Ia juga menyoroti ketidakadilan sosial yang masih terjadi di negaranya. Menurut Kola, kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin di Albania masih sangat lebar.
Gelombang Protes Pendidikan Meluas di Eropa
Demonstrasi di Albania berlangsung di tengah maraknya aksi mahasiswa dan pelajar di sejumlah negara Eropa. Di Prancis, misalnya, siswa sekolah menengah telah menggelar demonstrasi selama berminggu-minggu, termasuk dengan memblokir akses masuk ke sekolah.
Para siswa menuntut penambahan jumlah guru dan peningkatan kualitas fasilitas pendidikan. Mereka menilai kondisi bangunan sekolah yang semakin memburuk serta ruang kelas yang terlalu padat telah menghambat kegiatan belajar-mengajar.
Baca Juga : Trump Buka Peluang Kunjungi Kim Jong Un dalam Lawatan Asia
Gelombang protes serupa juga sebelumnya terjadi di Prancis dan Belgia. Aksi-aksi tersebut mencerminkan ketidakpuasan pelajar terhadap kualitas pendidikan dan sejumlah persoalan sosial lainnya.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Albania Albana Koçiu mengecam kericuhan yang terjadi di Tirana melalui unggahan di Facebook. Ia menegaskan bahwa kekerasan dan perusakan fasilitas publik tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk penyampaian aspirasi.
“Kekerasan tidak pernah menjadi, bukan merupakan, dan tidak akan pernah menjadi solusi. Melempar batu, menyerang institusi dan polisi negara, serta melakukan perusakan properti publik tanpa alasan yang masuk akal, bukanlah cara bagi kaum muda untuk menyampaikan aspirasi mereka,” tulis Koçiu.
