Apa Itu Pemilu Sela AS 2026 dan Dampaknya bagi Donald Trump?
Pemilihan paruh waktu atau pemilu sela Amerika Serikat (AS) akan digelar pada 3 November 2026 waktu setempat. Pemungutan suara ini menjadi ujian politik bagi Presiden Donald Trump sekaligus tolok ukur kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya.
Pemilu sela berlangsung setiap dua tahun, di tengah masa jabatan presiden yang berlangsung selama empat tahun. Dalam pemilihan ini, warga AS akan menentukan susunan anggota Kongres serta memilih sejumlah pejabat di tingkat negara bagian.
Diketahui hasil pemilu sela dapat memengaruhi kemampuan Trump menjalankan agenda pemerintahannya hingga akhir masa jabatan. Selain itu, hasilnya juga dapat memberikan gambaran mengenai peta persaingan politik menjelang pemilihan presiden AS 2028.
Apa Itu Pemilu Sela AS dan Bagaimana Sistemnya?
Pemilu sela merupakan pemilihan yang digelar di tengah periode pemerintahan presiden untuk menentukan kembali sebagian besar wakil rakyat di tingkat federal dan sejumlah pejabat negara bagian.
Salah satu agenda utama pemilu sela AS 2026 adalah perebutan kendali Kongres. Lembaga legislatif federal tersebut memiliki kewenangan menyusun dan mengesahkan undang-undang nasional.
Kongres AS terdiri dari dua majelis, yakni DPR (House of Representatives) dan Senat. Pada pemilu kali ini, seluruh 435 kursi DPR akan diperebutkan, sedangkan pemilihan Senat mencakup 35 dari total 100 kursi.
Anggota DPR memiliki masa jabatan dua tahun. Sementara itu, senator menjabat selama enam tahun sehingga hanya sebagian kursi Senat yang diperebutkan dalam setiap pemilu sela.
Saat ini, Partai Republik yang dipimpin Trump menguasai kedua majelis Kongres, meskipun dengan selisih mayoritas yang tipis.
Di DPR, Partai Republik memegang 218 kursi, jumlah minimum untuk menguasai majelis tersebut, ditambah satu anggota independen yang kerap memberikan suara sejalan dengan mereka. Di Senat, Partai Republik menguasai 53 kursi.
Untuk mengambil alih kendali Senat, Partai Demokrat perlu meraih mayoritas efektif. Dalam kondisi pembagian suara 50-50, suara penentu dapat diberikan oleh wakil presiden AS.
Jika Demokrat berhasil menguasai salah satu atau kedua majelis, partai oposisi tersebut akan memiliki pengaruh lebih besar dalam proses legislasi dan pengawasan terhadap pemerintahan Trump.
Baca Juga: AS Waspadai Serangan Iran, Personel Kedutaan Dikurangi
Pemilu Sela Jadi Ujian bagi Trump
Secara historis, partai yang mengusung presiden petahana cenderung kehilangan kursi dalam pemilu sela. Tren ini membuat pemilihan 2026 menjadi tantangan bagi Partai Republik.
Berdasarkan survei Silver Bulletin yang dikutip dalam laporan sumber, tingkat kepuasan publik terhadap Trump mengalami penurunan. Pada awal masa jabatan keduanya, tingkat kepuasan terhadap presiden tersebut sedikit di atas 50 persen.
Namun, pada awal Oktober 2026, angkanya turun menjadi sekitar 37 persen. Sementara itu, sekitar 61 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja Trump.
Hasil pemilu sela akan menentukan seberapa besar ruang politik yang dimiliki Trump untuk melanjutkan agenda pemerintahannya.
Jika Demokrat Merebut Kongres
Apabila Demokrat berhasil menguasai DPR atau Senat, Trump berpotensi menghadapi hambatan lebih besar dalam meloloskan undang-undang dan menjalankan agenda domestiknya.
Penguasaan salah satu majelis juga memberikan kesempatan kepada Demokrat untuk memimpin komite-komite kongres yang dapat menyelidiki pemerintahan Trump.
Sejumlah isu yang berpotensi menjadi sasaran penyelidikan meliputi dugaan korupsi, pembangunan ruang dansa baru di Gedung Putih, serta tindakan Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai AS (Immigration and Customs Enforcement/ICE).
Selain itu, perdebatan di internal Demokrat mengenai kemungkinan pemakzulan Trump juga dapat kembali mengemuka.
Jika Partai Republik Mempertahankan Mayoritas
Sebaliknya, apabila Partai Republik berhasil mempertahankan kendali atas DPR dan Senat, Trump akan memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan agenda politiknya hingga akhir masa jabatan.
Dukungan mayoritas di Kongres dapat mempermudah pembahasan undang-undang yang menjadi prioritas pemerintahannya. Meski demikian, hasil tersebut tidak otomatis menjamin seluruh kebijakan Trump akan disetujui.
Ekonomi, Imigrasi, dan AI Jadi Isu Utama
Sejumlah persoalan domestik dan global diperkirakan menjadi perhatian pemilih dalam pemilu sela AS 2026. Isu-isu tersebut mencakup ekonomi, imigrasi, hingga regulasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ekonomi dan Inflasi
Kenaikan harga bahan bakar, pangan, perumahan, dan layanan kesehatan menjadi tantangan bagi masyarakat AS.
Inflasi juga masih berada di atas target Bank Sentral AS atau Federal Reserve. Dalam laporan sumber, kondisi tersebut sebagian dikaitkan dengan perang AS dan Israel terhadap Iran yang berlangsung sejak Februari 2026.
Sementara itu, Partai Demokrat menilai kebijakan tarif perdagangan Trump turut mendorong kenaikan harga barang.
Isu ekonomi berpotensi memengaruhi penilaian pemilih terhadap kemampuan pemerintah mengendalikan biaya hidup.
Kebijakan Imigrasi
Imigrasi juga menjadi salah satu isu penting dalam persaingan politik AS.
Partai Republik menyatakan Trump telah memenuhi janji kampanyenya pada 2024 untuk memperketat pengamanan perbatasan dan mengambil tindakan tegas terhadap imigrasi ilegal.
Namun, kebijakan penegakan imigrasi pemerintahannya juga menuai kontroversi, termasuk tindakan yang dilakukan oleh ICE.
Baca Juga: PM Singapura Sebut Mayoritas Listriknya Bergantung pada Gas Alam
Regulasi Kecerdasan Buatan
Perkembangan AI turut memunculkan perdebatan mengenai perlunya aturan untuk mengawasi penggunaan teknologi tersebut.
Sejumlah politikus senior dari Partai Republik dan Demokrat disebut sepakat bahwa regulasi AI diperlukan. Sikap tersebut berbeda dari posisi Trump yang menolak undang-undang pengatur teknologi tersebut.
Selain persoalan kebijakan, persaingan pemilu juga dipengaruhi oleh penentuan batas wilayah pemilihan atau distrik DPR. Partai Republik maupun Demokrat berupaya menyusun peta distrik yang dapat meningkatkan peluang mereka meraih kursi di sejumlah negara bagian.
Menurut CBS News, mitra BBC di AS, terdapat 10 pemilihan Senat yang menjadi sorotan, termasuk di Iowa dan New Hampshire. Sementara itu, sebanyak 42 pemilihan kursi DPR di negara bagian seperti Arizona dan Ohio juga dinilai menarik perhatian.
Pemilu Sela Jadi Petunjuk Menuju Pilpres 2028
Selain memilih anggota Kongres, warga di berbagai wilayah AS juga akan menentukan sejumlah pejabat tingkat negara bagian dalam pemungutan suara yang sama.
Pemilihan gubernur di California, Florida, Georgia, dan Michigan diperkirakan menjadi beberapa kontestasi yang paling menarik perhatian.
Hasil pemilu sela akan menjadi bahan analisis untuk melihat bagaimana pemilih menilai arah kebijakan dan kondisi politik AS. Hasil tersebut juga dapat memengaruhi strategi kedua partai dalam menghadapi pemilihan presiden berikutnya.
Trump tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga berdasarkan batasan konstitusi AS. Karena itu, pemilu sela 2026 diperkirakan turut mendorong pembahasan mengenai calon penerus Trump di Partai Republik dan kandidat yang akan diusung Demokrat pada Pilpres AS 2028.
Dengan demikian, pemilu sela bukan sekadar pemilihan anggota Kongres, melainkan juga momentum yang dapat menentukan ruang gerak pemerintahan Trump dan memengaruhi persaingan politik AS menjelang 2028.
