AS Waspadai Serangan Iran, Personel Kedutaan Dikurangi
Pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan Iran yang dapat menyasar warga negara dan personel AS, baik di Timur Tengah maupun sejumlah negara lainnya. Peringatan tersebut tertuang dalam memo Direktur Intelijen Nasional AS, Jay Clayton, kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada Jumat (23/10/2026).
Menyusul munculnya informasi intelijen tersebut, Washington mengambil langkah untuk mengurangi jumlah staf yang bertugas di sejumlah kedutaan dan konsulat AS di kawasan Timur Tengah sebagai upaya mengantisipasi risiko keamanan.
Ancaman Iran Diduga Meluas hingga Eropa
Mengutip The New York Times, Presiden Donald Trump bersama sejumlah pejabat senior pemerintahannya telah menerima pengarahan secara berkala terkait peningkatan ancaman yang diduga berasal dari Iran.
Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa selama tiga pekan terakhir, analis intelijen telah menelaah berbagai informasi mengenai kemungkinan serangan terhadap pejabat pemerintah AS, termasuk para duta besar. Sejumlah laporan juga mengindikasikan kemungkinan keberadaan operator Iran di wilayah Amerika Serikat.
Baca Juga : Imbas Kerusuhan Demo Prancis, Polisi Tangkap Hampir 1.000 Orang
Selain wilayah AS dan Timur Tengah, rencana serangan yang dikaitkan dengan Iran disebut berpotensi menyasar sejumlah lokasi di Eropa. Meski demikian, pejabat AS lainnya menilai kemampuan operasional Iran untuk melancarkan serangan di luar negeri masih memiliki keterbatasan.
Menurut pejabat tersebut, cakupan ambisi Iran untuk melakukan serangan dinilai lebih luas dibandingkan kemampuan negara itu dalam merealisasikannya.
AS Mengurangi Personel di Kedutaan dan Konsulat
Departemen Luar Negeri AS menjelaskan bahwa penyesuaian jumlah pegawai diplomatik dilakukan berdasarkan perkembangan terbaru situasi keamanan. Seorang pejabat pemerintah juga menyebut ancaman serangan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman sebagai salah satu faktor yang turut memengaruhi keputusan tersebut.
Sebelumnya, sejumlah perwakilan diplomatik AS di kawasan Timur Tengah telah menjalankan kegiatan dengan jumlah personel terbatas melalui status restricted operating status. Kebijakan ini umumnya diterapkan pada wilayah yang menghadapi risiko keamanan tinggi dan memungkinkan Departemen Luar Negeri mengatur kembali jumlah pegawai tanpa harus mengumumkannya secara terbuka.
Pada Rabu (21/10/2026), Departemen Luar Negeri AS bahkan menginstruksikan pegawai non-esensial beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi.
Menurut seorang pejabat AS, pengurangan jumlah diplomat dan pegawai pemerintah di berbagai perwakilan diplomatik merupakan konsekuensi langsung dari informasi intelijen terbaru mengenai dugaan rencana serangan Iran.
Langkah pengamanan juga diikuti pembaruan peringatan perjalanan bagi warga AS. Pada Jumat malam, Departemen Luar Negeri memperbarui status perjalanan untuk 13 negara di Timur Tengah. Negara-negara tersebut masuk dalam kategori tingkat tiga, yang berarti warga diminta mempertimbangkan kembali perjalanan, atau tingkat empat, yang mengimbau warga untuk tidak bepergian.
Dalam pemberitahuan itu, pemerintah AS turut memperingatkan potensi peningkatan serangan Houthi serta ancaman berkelanjutan dari penggunaan drone dan rudal Iran di kawasan tersebut.
Ketegangan Meningkat setelah Delapan Bulan Perang
Peringatan intelijen terbaru muncul setelah konflik antara AS-Israel dan Iran berlangsung selama delapan bulan sejak 28 Februari 2026. Perang tersebut telah memicu kenaikan harga energi, menimbulkan gejolak pada perekonomian global, serta menekan tingkat persetujuan publik terhadap Trump di Amerika Serikat.
The New York Times melaporkan pada Rabu (21/10/2026) bahwa AS dan Israel telah menyiapkan rencana untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran setelah pemilu sela AS. Namun, Trump disebut belum menetapkan keputusan final mengenai pelaksanaan operasi militer tersebut.
Dalam serangan pertama pada 28 Februari, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas bersama sejumlah pejabat senior Iran. Trump kala itu menyatakan bahwa militer AS dan Israel telah menewaskan 48 pejabat Iran dalam operasi tersebut.
Baca Juga : PM Singapura Ungkap Mayoritas Listriknya Bergantung dari Gas Alam
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 3 Maret, Trump kembali menyampaikan bahwa banyak tokoh yang sebelumnya dipertimbangkan sebagai calon pengganti Khamenei telah tewas dalam serangan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump belum memerintahkan operasi militer berskala besar lanjutan terhadap Iran. Sebagai gantinya, militer AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menghambat penjualan minyak dan produk energi negara tersebut di pasar internasional.
Di tengah tekanan itu, pejabat AS menyebut Teheran terus berupaya mencari alternatif untuk membalas Washington dan sekutu-sekutunya.
Ancaman tersebut juga berdampak pada fasilitas militer AS di luar negeri. Pada awal Oktober, militer AS menarik seluruh 12 pesawat pengebom B-1 dari pangkalan RAF Fairford di Inggris selatan. Keputusan itu diambil setelah para komandan menerima informasi intelijen mengenai potensi ancaman Iran terhadap instalasi militer tersebut.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa dampak konflik AS-Israel dengan Iran tidak hanya terbatas pada medan perang, tetapi juga meluas ke keamanan personel diplomatik, fasilitas militer, dan perjalanan warga AS di berbagai negara.

[…] AS Waspadai Serangan Iran, Personel Kedutaan Dikurangi […]